Kupang,BBC — Dari sebuah wilayah yang sering disebut jauh dan sunyi, sebuah cahaya kecil kembali menyala.
Pemerintah Kecamatan Amfoang Tengah menghadirkan karya Natal yang tak sekadar indah, tetapi menggugah jiwa: sebuah pohon Natal berbahan bambu yang berdiri anggun di Jalan Timor Raya, kilometer 41, Kelurahan Camplong I.
Pohon itu dihiasi lampu-lampu lits yang berkelip lembut, seakan menyalakan harapan di tengah perjalanan yang panjang dan berbatu.
Camat Amfoang Tengah, Mars Prayudin Bureni memandang karya tersebut bukan hanya sebagai dekorasi, tetapi sebagai ungkapan iman dan kerinduan yang mendalam.
“Natal adalah saat kita mengingat kelahiran Yesus—Terang yang datang di tengah gelap dunia. Kami ingin menghadirkan terang itu, meski dari tempat yang jauh. Sebab damai tidak mengenal batas,” ucap Mars Prayudin dengan suara yang tenang namun penuh keyakinan kepada media Selasa 09/12/2025
Ia mengakui bahwa Amfoang Tengah memang jauh dari Oelamasi, jauh dari keramaian, jauh dari pusat kebijakan. Namun dalam konteks Natal, jarak itu justru melahirkan keteguhan.
“Kami mungkin jauh dari kota, tetapi kami tidak pernah jauh dari kasih Tuhan. Semangat kami justru semakin menyala ketika kami sadar bahwa kami harus membawa damai itu sendiri, melalui tindakan, bukan hanya harapan,” ungkapnya lirih namun membekas.
Pohon Natal dari bambu itu, bagi mereka, bukan sekadar karya seni lomba; tetapi simbol tentang bagaimana iman tumbuh dari kesederhanaan. Bambu—tegak, lentur, tidak mudah patah—menjadi cermin jiwa masyarakat Amfoang.
“Kami memilih bambu karena bambu itu seperti hidup kami: sederhana, tetapi kuat. Pohon Natal ini menjadi peringatan bahwa Tuhan sering bekerja melalui hal-hal sederhana untuk menyatakan hal-hal besar,” jelas Mars Prayudin, matanya memantulkan cahaya lampu yang berkelip.
Ia pun menekankan bahwa keikutsertaan dalam lomba hias pohon Natal bukan tentang kemenangan, tetapi tentang kehadiran.
“Kami ingin menunjukkan bahwa Amfoang Tengah hadir. Bahwa daerah terpencil juga punya suara, punya iman, dan punya kerinduan untuk memuliakan Natal. Pohon ini adalah persembahan kecil kami bagi Kristus yang lahir untuk semua,” tuturnya penuh haru.
Lebih jauh, ia mengingatkan masyarakat agar tidak hanya melihat Natal sebagai perayaan visual, tetapi sebagai perjalanan hati.
“Setiap lampu yang menyala adalah doa. Setiap hiasan adalah ungkapan syukur. Setiap bambu yang disatukan adalah tanda bahwa kami ingin tetap berdiri, meski badai datang,” katanya, suaranya bergetar pelan.
Menutup pernyataannya, Mars Prayudin menyampaikan pesan yang begitu lembut, seolah diarahkan kepada siapa saja yang pernah merasa jauh, kecil, atau tidak terlihat.
“Natal mengajarkan kita bahwa terang Kristus bisa mencapai tempat tergelap. Jika Ia lahir di kandang yang sederhana, maka tidak ada daerah yang terlalu jauh bagi-Nya. Amfoang Tengah memang di ujung, tetapi hati kami selalu di dalam cahaya-Nya,” pungkasnya.
Di tengah angin Timor yang menggigil, pohon bambu itu berdiri—diam, namun berbicara.
Berbisik kepada semua orang yang lewat bahwa Natal bukan tentang kemegahan, melainkan tentang cahaya kecil yang tetap setia menyala, meski di tempat yang paling jauh sekalipun.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
