KUPANG, BBC — Laut tidak pernah bertanya kepada ombak berapa kali ia harus kembali ke pantai. Ia menerima setiap gelombang, memeluknya dalam keluasan, lalu membiarkannya kembali membawa cerita yang tidak pernah benar-benar selesai.

Begitu pula pengabdian. Ada manusia yang setiap hari datang, melayani, menunggu, bekerja, kemudian pulang membawa lelah yang sering kali tidak tercatat dalam laporan.

Mereka adalah para kader Posyandu yang bekerja di ruang-ruang sederhana, tetapi berhadapan langsung dengan kebutuhan masyarakat.

Di tempat itu, kehidupan bertemu dengan kesederhanaan. Seorang ibu datang membawa anaknya, keluarga membawa harapan, sementara kader berdiri di antara kebutuhan masyarakat dan keterbatasan fasilitas.

Pengabdian mereka menyerupai dasar samudra: dalam, luas dan sering kali tidak terlihat dari permukaan. Yang tampak hanyalah kegiatan pelayanan, sementara di baliknya terdapat waktu, tenaga, kesabaran, serta kepedulian yang terus diberikan.

Sabtu (3/10/2026), cerita tentang pengabdian itu mendapat sebuah tanda perhatian.

Wakil Bupati Kupang, Aurum Obe Titu Eki, selaku Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Kupang, menyalurkan bantuan kursi kepada lima Posyandu di Kecamatan Kupang Tengah.

Penyaluran bantuan tersebut berlangsung di Kantor Lurah Tarus, Kecamatan Kupang Tengah.

Bantuan kursi berasal dari Tim Penggerak PKK Pusat dan diberikan kepada lima Posyandu sebagai fasilitas penunjang kegiatan pelayanan masyarakat.

Dua Posyandu penerima bantuan berada di Desa Mata Air, yakni Posyandu Kelapa Tinggi dan Posyandu Mawar.

Sementara tiga lainnya berada di Kelurahan Tarus, yaitu Posyandu Melati 1, Posyandu Melati 2 dan Posyandu Sasando.

Lima Posyandu itu mungkin hanya sebuah angka jika dilihat dari data administratif. Namun di balik angka tersebut terdapat lima ruang pelayanan yang menjadi tempat bertemunya kader, ibu, anak, keluarga dan harapan masyarakat.

Seperti arus laut yang terus bergerak meski tidak selalu terlihat, pengabdian para kader pun berjalan dalam kesunyian. Mereka hadir ketika dibutuhkan, bekerja ketika masyarakat datang, dan kembali menjalankan peran ketika kegiatan Posyandu selesai.

Bantuan kursi tersebut secara kasatmata memang hanya fasilitas sederhana. Namun bagi sebuah Posyandu, kursi bukan sekadar benda untuk duduk.

Ia menjadi bagian dari ruang pelayanan tempat masyarakat menunggu, kader bekerja, dan berbagai kebutuhan kesehatan masyarakat dilayani.

Karena itu, ketika Aurum berbicara tentang kursi, yang hadir bukan semata-mata persoalan benda. Ada perhatian, kasih, kepedulian, sekaligus harapan agar bantuan sederhana tersebut memberikan manfaat dalam kegiatan Posyandu.

Aurum Obe Titu Eki menyampaikan apresiasi kepada Tim Penggerak PKK Pusat yang telah menyalurkan bantuan tersebut. Atas nama Posyandu yang menerima bantuan, Tim Penggerak PKK Kabupaten Kupang juga menyampaikan terima kasih atas perhatian tersebut.

Aurum berharap bantuan kursi dapat dimanfaatkan dengan baik oleh masing-masing Posyandu, terutama untuk memperlancar kegiatan pelayanan yang berlangsung di tempat masing-masing.

“Bantuan yang diberikan uluran tangan kasih yang diberikan dari TP. PKK Pusat kami harapkan adalah kursi ini kiranya dapat bermanfaat dalam setiap proses posyandu yang berlangsung. Memang kalau kita lihat dari nominalnya tidak seberapa tapi harapannya ini bisa bermanfaat”, ujar Aurum Titu Eki.

Pernyataan tersebut seperti ombak kecil yang datang ke tepian. Tidak gaduh, tetapi meninggalkan jejak. Sebab tidak semua bentuk perhatian harus hadir dalam ukuran besar agar memiliki arti.

Sebuah kursi memang tidak mampu menyelesaikan seluruh persoalan Posyandu. Ia tidak dapat menggantikan panjangnya pengabdian kader, tidak dapat mengukur tenaga yang telah diberikan, dan tidak mampu menghitung kesabaran yang selama ini mereka pertahankan.

Dalam perjalanan pengabdian, perhatian sekecil apa pun dapat menjadi sesuatu yang berarti. Sebab manusia yang terus memberi juga membutuhkan keyakinan bahwa apa yang mereka lakukan masih dilihat dan dihargai.

Laut mengajarkan manusia agar tidak menilai kedalaman hanya dari apa yang terlihat di permukaan. Begitu pula pengabdian para kader Posyandu.

Yang terlihat mungkin hanya beberapa jam kegiatan. Ada meja, kursi, pencatatan, pelayanan dan masyarakat yang datang silih berganti. Namun di balik aktivitas itu terdapat waktu yang dicurahkan, tenaga yang diberikan, kesabaran yang dipertahankan, serta kepedulian yang terus dijaga.

Ada pula lelah yang pulang bersama tubuh para kader, tetapi tidak selalu tercatat dalam angka.

Aurum Obe Titu Eki mengakui bahwa masih banyak kekurangan yang dialami Tim Penggerak PKK Kabupaten Kupang dalam memberdayakan kader-kader Posyandu, terutama berkaitan dengan insentif kader Posyandu.

Pengakuan tersebut menjadi bagian penting dalam melihat persoalan Posyandu secara lebih utuh. Sebab memperkuat pelayanan kesehatan berbasis masyarakat tidak cukup hanya dengan menyediakan sarana dan prasarana.

Kader memiliki kebutuhan, keluarga, keterbatasan, dan rasa lelah. Namun seperti nelayan yang berangkat ke laut sebelum matahari terbit, mereka tetap membawa pengabdian meski tidak pernah mengetahui apakah hari itu akan berjalan tenang atau justru diterpa gelombang.
Mereka tetap datang.
Mereka tetap melayani.
Mereka tetap berdiri ketika masyarakat membutuhkan.

Karena itu, pengabdian tidak seharusnya dinilai hanya dari apa yang terlihat. Samudra tidak pernah memperlihatkan seluruh isinya kepada manusia. Demikian pula pengabdian; permukaannya mungkin sederhana, tetapi kedalamannya hanya diketahui oleh mereka yang menjalaninya.

Di balik penyaluran bantuan kursi tersebut, terdapat persoalan yang lebih besar, yakni bagaimana hak dan keberadaan kader Posyandu dapat terus diperhatikan dan diberdayakan secara berkelanjutan.

Aurum Obe Titu Eki berjanji, hak-hak para kader Posyandu akan lebih diperhatikan pada Tahun 2027.

Komitmen tersebut akan diarahkan melalui penganggaran dalam APBD Kabupaten Kupang dengan memasukkannya melalui DPA dinas teknis terkait.

Janji tersebut menjadi bagian dari harapan yang sedang dibangun. Jika kursi hari ini menjadi simbol perhatian, maka kebijakan anggaran pada masa mendatang diharapkan dapat menjadi bentuk penghargaan yang lebih konkret terhadap mereka yang selama ini menjaga pelayanan masyarakat tetap berjalan.

Sebab kursi tidak dapat menggantikan insentif. Kursi tidak dapat membayar lelah. Kursi juga tidak dapat mengukur seluruh pengorbanan.

Dari percakapan lahir kesadaran. Dari kesadaran dapat lahir kebijakan. Dan dari kebijakan yang berpihak pada pengabdian, dapat tumbuh keberlanjutan pelayanan.

Laut memiliki caranya sendiri untuk mengajarkan kesabaran. Ia menerima hujan, menerima sungai, menerima angin, bahkan menerima badai, tetapi tetap menjadi laut.

Begitu pula para kader Posyandu. Mereka menerima kebutuhan masyarakat, menghadapi keterbatasan, mendengar keluhan dan merasakan lelah. Namun mereka tetap hadir sebagai bagian dari pelayanan masyarakat.

Di situlah nilai pengabdian menemukan maknanya: bukan ketika seluruh kebutuhan telah tersedia, tetapi ketika keterbatasan tidak membuat seseorang berhenti memberikan yang terbaik.

Karena itu, bantuan kursi tersebut tidak semestinya hanya dibaca sebagai penambahan fasilitas. Ia juga dapat dimaknai sebagai pengingat bahwa pelayanan masyarakat membutuhkan ekosistem yang utuh.

Ada fasilitas.
Ada kader.
Ada kebijakan.
Ada anggaran.

Dan yang tidak kalah penting, ada penghargaan terhadap manusia yang menjalankan pelayanan tersebut.

Tanpa manusia, fasilitas hanya menjadi benda. Tanpa perhatian, pengabdian dapat kehilangan daya tahannya. Dan tanpa kebijakan yang berkelanjutan, harapan akan mudah terseret seperti perahu kecil di tengah gelombang.

Aurum datang membawa bantuan kursi. Namun di balik bantuan tersebut masih terdapat pekerjaan yang harus dilanjutkan.
Masih ada hak kader yang perlu diperhatikan.

Masih ada kebutuhan Posyandu yang perlu diperkuat. Masih ada jalan panjang untuk memastikan pelayanan berbasis masyarakat tidak sekadar berjalan, tetapi juga bertumbuh secara berkelanjutan.

Sebab pembangunan bukan garis akhir.
Pembangunan lebih menyerupai samudra yang tidak mudah ditemukan tepinya. Satu gelombang selesai, gelombang lain datang. Satu persoalan terselesaikan, persoalan lain menunggu untuk ditangani.

Ia tidak pernah benar-benar selesai.
Hari ini mungkin sebuah kursi. Besok sebuah kebijakan. Lusa sebuah perubahan. Dan suatu hari nanti, yang diharapkan bukan lagi sekadar cerita tentang berapa banyak kursi yang diberikan, tetapi tentang berapa banyak kehidupan yang disentuh oleh perhatian dan kebijakan tersebut.

Pada akhirnya, sebuah kursi hanyalah benda mati. Ia tidak dapat berbicara tentang siapa yang pernah duduk di atasnya. Ia tidak dapat menghitung berapa banyak ibu yang pernah menunggu pelayanan atau berapa banyak kader yang pernah beristirahat setelah menjalankan tugas.

Namun manusia dapat memberikan makna kepada benda. Di Posyandu, sebuah kursi dapat menjadi saksi bahwa pernah ada perhatian. Ia menjadi saksi bahwa pernah ada tangan yang mengulurkan bantuan. Ia juga menjadi saksi bahwa di tengah berbagai keterbatasan, masih terdapat harapan.

Lebih jauh, kursi tersebut menjadi pengingat bahwa di balik pelayanan yang tampak sederhana selalu ada manusia yang bekerja dalam diam.
Mereka seperti ombak.
Datang.
Pergi.
Kemudian kembali lagi.

Mereka tidak meminta laut memberikan penghargaan atas setiap gelombang yang mereka bawa. Begitu pula para kader. Mungkin mereka tidak meminta seluruh lelahnya dihitung atau setiap pengabdiannya disebut.

Mereka hanya berharap perjuangan mereka tidak dilupakan. Sebab kesedihan paling dalam dari sebuah pengabdian bukan selalu tentang beratnya pekerjaan. Kadang, kesedihan itu muncul ketika seseorang telah begitu lama memberi, tetapi merasa keberadaannya tidak pernah benar-benar dilihat.

Karena itu, kursi ini bukan hanya tentang tempat duduk.
Ia adalah tentang penghormatan.
Tentang perhatian.
Tentang harapan.

Tentang manusia yang memilih tetap melayani ketika laut kehidupan tidak selalu tenang.

Dan seperti samudra yang menyimpan begitu banyak rahasia di kedalamannya, pengabdian para kader Posyandu pun menyimpan cerita yang mungkin tidak pernah selesai diceritakan.

Barangkali suatu hari, ketika kursi-kursi itu mulai usang, warnanya memudar dan kayunya kehilangan kilau, yang tersisa bukan lagi harga benda tersebut.

Yang tersisa adalah kenangan bahwa pernah ada tangan yang mengulurkan kasih.
Pernah ada kader yang duduk di sana.
Pernah ada seorang ibu yang menunggu.
Pernah ada seorang anak yang datang membawa harapan. Dan pernah ada manusia-manusia yang memilih untuk tetap mengabdi.
Sebab samudra tidak menjadi luas karena satu gelombang, melainkan karena jutaan gelombang yang tidak pernah berhenti datang.

Begitu pula pelayanan masyarakat. Ia menjadi besar bukan karena satu bantuan, melainkan karena banyak tangan yang rela tetap bekerja, banyak hati yang memilih peduli dan banyak manusia yang bersedia menjaga pengabdian agar tidak tenggelam ditelan waktu.

Sebuah kursi mungkin kecil. Tetapi di atasnya, harapan dapat beristirahat sejenak sebelum kembali berdiri dan melayani kehidupan.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Camat Kupang Tengah Yuni Padja, Lurah Tarus Beby Lubalu, Kepala Desa Mata Air Eli Luluporo, beberapa pengurus Tim Penggerak PKK Kabupaten Kupang, serta pengurus Posyandu penerima bantuan.