BBC — Sebuah foto sederhana namun sarat makna memperlihatkan sosok muda bernama Aurum Titu Eki, tengah berjalan membawa plastik putih di atas kepalanya. Bukan sekadar plastik, bukan pula sekadar barang bawaan mahasiswa.
Di dalamnya, terdapat beras dari kampung halaman, dibawakan langsung oleh sang ayahnya, Ayub Titu Eki mantan Bupati Kupang dua periode. Tapi yang paling menyentuh bukanlah isinya, melainkan simbolisme identitas dan kerendahan hati yang terpancar dari aksi itu.
Momen itu terjadi saat Aurum masih menjalani masa kuliah di Jakarta. Ketika sang ayah menyerahkan beras untuk bekal hidup, plastik putih itu diletakkan di atas kepalanya—sebuah cara membawa barang yang identik dengan orang kampung di Nusa Tenggara Timur, terutama di daerah Kuan, tempat asal keluarga mereka.
Ayub Titu Eki mengenang dengan senyum dan bangga, “Saya sempat bilang ke dia, kalau taruh di kepala begitu, sama seperti orang kampung.” Namun jawaban Aurum sungguh tak terduga. Dengan tegas, ia menjawab, “Memang ini orang kampung.”
Sebuah kalimat sederhana, tapi menyimpan makna dalam. Aurum tidak sekadar membawa beras — ia membawa identitas, nilai-nilai dan kebanggaan akan asal-usulnya.
Tak banyak anak muda yang berani dengan jujur menampilkan identitas lokal mereka di tengah hiruk-pikuk modernitas kota besar. Di saat banyak orang berlomba meninggalkan akar, Aurum justru menunjukkannya dengan kepala tegak—secara harfiah dan maknawi.
Tindakannya menjadi simbol perlawanan terhadap rasa malu menjadi orang desa, dan sekaligus sebuah pernyataan: bahwa kampung bukanlah hal yang harus disembunyikan, melainkan kekuatan yang bisa dibawa untuk menaklukkan dunia.
Cerita ini menyimpan pesan kuat bagi generasi muda di seluruh Indonesia: tidak perlu menjadi orang lain untuk bisa sukses. Menjadi anak kampung bukanlah kekurangan, melainkan kelebihan yang mengakar pada nilai-nilai kerja keras, kejujuran dan kesederhanaan.
Aurum Titu Eki membuktikan bahwa impian besar bisa dibawa bahkan dari dalam plastik putih. Asal ada tekad, kerendahan hati dan semangat belajar, maka tidak ada batasan bagi siapa pun untuk berhasil.
Di era di mana banyak anak muda kehilangan arah karena terpikat pada gemerlap palsu kota besar, cerita Aurum Titu Eki hadir sebagai kompas moral.
Kampung bukan sekadar tempat lahir, tapi sumber nilai dan arah hidup. Sebab siapa yang tahu dari mana ia datang, akan tahu ke mana ia melangkah.
Plastik berisi beras, kepala berisi impian.
Dari kampung, untuk dunia.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
