KUPANG, BBC – Kemajuan suatu bangsa pada hakikatnya tidak semata-mata ditentukan oleh keberhasilan membangun infrastruktur fisik, meningkatkan pertumbuhan ekonomi, ataupun memperkuat kapasitas fiskal daerah.

Dalam perspektif pembangunan manusia (human development), indikator keberhasilan pembangunan justru diukur dari kemampuan suatu daerah menghasilkan sumber daya manusia yang sehat, cerdas, berkarakter, produktif dan memiliki daya saing.

Peradaban yang kokoh selalu bertumpu pada kualitas manusianya, sebab manusia merupakan subjek sekaligus tujuan utama dari seluruh proses pembangunan.

Atas dasar pemikiran tersebut, Pemerintah Kabupaten Kupang terus memperkuat agenda pembangunan sumber daya manusia melalui Program Pendidikan Gizi Terintegrasi, hasil kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Kupang, UNICEF dan DBS Foundation.

Program yang dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Kupang, Aurum Obe Titu Eki, di Hotel Neo Aston Kupang, Selasa (14/7/2026), menjadi salah satu langkah strategis dalam meningkatkan kualitas gizi peserta didik sekaligus membangun budaya hidup sehat di lingkungan sekolah.

Program ini tidak hanya diarahkan pada peningkatan literasi gizi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya sistematis dalam membentuk perilaku hidup sehat, memperkuat karakter dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia sejak usia dini.

Pendekatan tersebut sejalan dengan konsep pembangunan berkelanjutan yang menempatkan investasi pada anak sebagai investasi sosial jangka panjang yang akan menentukan kualitas generasi mendatang.

Dalam arahannya, Wakil Bupati Kupang menegaskan bahwa investasi yang paling bernilai dalam pembangunan bukanlah akumulasi kekayaan material, melainkan investasi terhadap kualitas manusia sejak masa pertumbuhan.

“Investasi yang paling besar sesungguhnya berada pada diri anak-anak kita, yaitu pada perkembangan otak mereka, perilaku, tindakan, serta pola kebiasaan yang mereka bangun dalam menjalani kehidupan,” tegas Aurum.

Menurutnya, kualitas sumber daya manusia dibentuk melalui proses yang berlangsung sejak usia dini. Oleh karena itu, perhatian terhadap pemenuhan gizi, pembentukan karakter dan pembiasaan perilaku hidup sehat harus menjadi prioritas bersama dalam setiap kebijakan pembangunan.

Lebih lanjut, Aurum menyampaikan bahwa nilai sebuah investasi tidak semata-mata diukur dari besarnya aset yang dimiliki, melainkan dari warisan yang diberikan kepada generasi penerus.

“Investasi terbesar yang dapat kita miliki sebagai manusia bukanlah harta kekayaan, melainkan apa yang kita tinggalkan bagi anak-anak kita,” ujarnya.

Pernyataan tersebut mengandung makna bahwa pembangunan manusia merupakan investasi antargenerasi (intergenerational investment).

Warisan yang paling bernilai bukan hanya berupa kekayaan material, tetapi juga berupa kesehatan, pendidikan, karakter, pengetahuan, serta nilai-nilai kehidupan yang akan menjadi bekal bagi generasi mendatang dalam menghadapi tantangan zaman.

Pada kesempatan itu, Aurum juga menekankan pentingnya membangun keselarasan kebijakan dan sinergi lintas sektor agar seluruh program pembangunan memiliki arah yang sama serta mampu menghasilkan manfaat yang berkelanjutan.

“Kita perlu menyusun strategi untuk menyinkronkan seluruh landasan dan kebijakan yang kita miliki sehingga dapat bergerak dalam satu arah dan tujuan yang sama,” katanya.

Menurutnya, pembangunan gizi tidak dapat dilaksanakan secara parsial. Diperlukan kolaborasi yang kuat antara pemerintah daerah, dunia pendidikan, tenaga kesehatan, mitra pembangunan, keluarga dan masyarakat agar setiap intervensi mampu memberikan dampak yang optimal terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Sebagai implementasi awal, Program Pendidikan Gizi Terintegrasi akan dilaksanakan di 44 sekolah di Kabupaten Kupang sebagai lokasi intervensi. Melalui pendekatan edukatif yang berkelanjutan, program tersebut diharapkan mampu meningkatkan literasi gizi, membangun budaya hidup sehat, serta memperkuat pembentukan karakter peserta didik sejak usia sekolah.

Dalam perspektif pembangunan daerah, sekolah merupakan institusi strategis yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyelenggaraan pendidikan formal, tetapi juga sebagai ruang pembentukan karakter, penanaman nilai-nilai kehidupan dan pembiasaan perilaku sehat. Oleh karena itu, pendidikan gizi perlu menjadi bagian yang terintegrasi dalam proses pendidikan sebagai upaya membangun generasi yang sehat, cerdas, berkarakter dan memiliki daya saing.

Pelaksanaan Program Pendidikan Gizi Terintegrasi di Kabupaten Kupang menjadi manifestasi komitmen Pemerintah Kabupaten Kupang dalam memperkuat pembangunan sumber daya manusia melalui kolaborasi lintas sektor.

Dengan menjangkau 44 sekolah sebagai tahap awal pelaksanaan, program ini diharapkan menjadi fondasi dalam melahirkan generasi yang sehat, berkualitas dan mampu menjadi penggerak pembangunan daerah yang berkelanjutan pada masa depan.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.