KUPANG, BBC – Pembangunan rumah ibadah pada hakikatnya tidak hanya dimaknai sebagai proses mendirikan bangunan fisik, melainkan sebagai ikhtiar kolektif membangun peradaban iman, memperkuat solidaritas sosial, serta mewariskan nilai-nilai spiritual bagi generasi mendatang.

Dalam perspektif pembangunan masyarakat, gereja merupakan institusi yang memiliki fungsi strategis sebagai pusat pembinaan karakter, penguatan moral dan pengembangan kehidupan sosial yang harmonis.

Semangat tersebut tergambar dalam Ibadah Peletakan Batu Pertama Pembangunan Gedung Kebaktian Jemaat Ebenhaezer Oelbiteno yang dihadiri Bupati Kupang, Yosef Lede, pada Rabu (15/07/2026) pagi di Desa Oelbiteno, Kecamatan Fatuleu Tengah.

Dalam sambutannya, Yosef Lede mengajak seluruh jemaat untuk memaknai nama “Ebenhaezer” bukan sekadar sebagai identitas gereja, tetapi sebagai pengingat akan penyertaan Tuhan yang tidak pernah berhenti dalam perjalanan kehidupan umat percaya.

Menurutnya, makna “Sampai di sini Tuhan menolong kita” hendaknya dipahami secara lebih luas sebagai keyakinan bahwa pertolongan Tuhan akan terus berlangsung selama manusia tetap hidup dalam iman dan pengharapan kepada-Nya.

“Ebenhaezer berarti sampai di sini Tuhan menolong. Saya ingin menambahkan, sampai kapan pun Tuhan tetap menolong. Pertolongan Tuhan tidak pernah berhenti bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya,” ujar Yosef Lede.

Bupati menegaskan bahwa pembangunan gedung gereja harus berjalan seiring dengan pembangunan kualitas kehidupan rohani jemaat. Kemegahan sebuah bangunan, menurutnya, tidak akan memiliki arti apabila tidak dihidupi oleh umat yang setia bersekutu, beribadah dan mengamalkan nilai-nilai kasih dalam kehidupan sehari-hari.

Ia mengingatkan bahwa gereja bukan hanya tempat berkumpul pada hari ibadah, melainkan ruang pembentukan karakter, penguatan persaudaraan, serta tempat bertumbuhnya nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat.

Karena itu, Yosef mengajak seluruh jemaat agar tidak hanya antusias pada saat peletakan batu pertama, tetapi tetap menjaga komitmen, semangat, dan tanggung jawab bersama hingga pembangunan gedung gereja selesai.

“Pembangunan gereja tidak boleh hanya semangat di awal. Kalau hari ini kita sepakat membangun, maka sampai selesai kita juga harus tetap sepakat. Jangan ketika pembangunan berjalan, satu per satu mulai menghilang. Kekuatan kita ada pada kebersamaan,” tegasnya.

Menurut Yosef Lede, budaya gotong royong merupakan modal sosial yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Kabupaten Kupang. Nilai tersebut harus terus dipelihara karena menjadi kekuatan utama dalam menyelesaikan berbagai pekerjaan besar, termasuk pembangunan rumah ibadah.

Ia menilai bahwa keberhasilan pembangunan gereja tidak hanya diukur dari berdirinya bangunan yang megah, tetapi juga dari lahirnya semangat persatuan, kepedulian dan rasa memiliki yang tumbuh di tengah jemaat selama proses pembangunan berlangsung.

Lebih lanjut, Bupati menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Kupang untuk terus mendukung pembangunan fasilitas umum milik gereja, termasuk membantu proses penerbitan sertifikat tanah melalui koordinasi bersama Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), sepanjang seluruh persyaratan administrasi telah dipenuhi sesuai ketentuan yang berlaku.

Ia mengimbau seluruh pengurus gereja agar mulai memperhatikan legalitas aset sejak dini. Menurutnya, kepastian hukum atas aset gereja merupakan bagian penting dari tata kelola kelembagaan yang baik sekaligus menjadi dasar bagi pemerintah dalam memberikan dukungan pembangunan secara berkelanjutan.

Selain aspek legalitas, Yosef juga menjelaskan bahwa setiap bentuk bantuan pemerintah kepada gereja harus mengikuti mekanisme perencanaan dan penganggaran daerah sesuai regulasi yang berlaku. Oleh sebab itu, ia berharap setiap rencana pembangunan gereja dapat dibahas melalui forum-forum resmi gerejawi, seperti sidang klasis, sehingga dapat diintegrasikan ke dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah.

“Kita ingin gereja dan pemerintah terus berjalan sebagai mitra. Kalau perencanaannya disiapkan dengan baik, maka pemerintah juga dapat membantu sesuai aturan yang berlaku. Sinergi seperti inilah yang ingin terus kita bangun,” jelasnya.

Menurut Yosef Lede, kemitraan antara pemerintah dan gereja merupakan bagian penting dari pembangunan yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat. Kolaborasi tersebut tidak hanya menyentuh pembangunan fisik, tetapi juga memperkuat pembangunan manusia melalui pembinaan moral, spiritual, dan karakter yang menjadi fondasi terciptanya kehidupan masyarakat yang damai, rukun dan berdaya saing.

Ibadah peletakan batu pertama ini menjadi penanda dimulainya sebuah perjalanan panjang yang tidak hanya membangun sebuah gedung kebaktian, tetapi juga memperkuat harapan bersama agar Jemaat Ebenhaezer Oelbiteno terus bertumbuh sebagai komunitas iman yang hidup, kokoh dalam persaudaraan, serta menjadi terang dan berkat bagi masyarakat di Kabupaten Kupang.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.