Kupang, BBC — Pemerintah Kabupaten Kupang bersama Sinode GMIT melaksanakan Workshop Gereja Ramah Disabilitas sebagai upaya strategis mengoptimalisasi inklusi sosial bagi penyandang disabilitas di wilayah ini.
Kegiatan yang digelar di Hotel Kristal, Kota Kupang, pada Sabtu (11/10) dihadiri oleh tokoh-tokoh penting, antara lain Bupati Kupang Yosef Lede, Staf Ahli Gubernur NTT Bidang Kesejahteraan Rakyat Ady Mandala, Ketua Sinode GMIT Pendeta Semuel Pandie, serta Walikota Kupang Christian Widodo.
Dalam sambutannya, Bupati Yosef Lede memberikan apresiasi yang mendalam kepada Sinode GMIT atas inisiatif mulia dalam menginisiasi gerakan penyetaraan dalam ranah gereja dan masyarakat luas.
Ia menegaskan bahwa inklusi bagi penyandang disabilitas merupakan tanggung jawab bersama, memerlukan komitmen dan dukungan nyata, khususnya melalui alokasi anggaran pemerintah daerah sebagai bentuk intervensi kebijakan.
“Tidak ada insan yang sempurna di dunia ini, oleh karenanya kita wajib saling melengkapi dan menopang agar penyandang disabilitas dapat menikmati hak-hak fundamental yang setara dalam kehidupan berjemaat maupun bermasyarakat,” ujar Yosef Lede dengan penuh kebijaksanaan.
Ady Mandala, Staf Ahli Gubernur NTT, menegaskan pentingnya kolaborasi antara lembaga keagamaan dan pemerintah dalam memahami serta memenuhi kebutuhan mendasar penyandang disabilitas.
Ia mengimbau seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama memberdayakan jemaat disabilitas sehingga mampu mewujudkan kesejahteraan sosial yang inklusif dan berkelanjutan.
Pemerintah Kota Kupang melalui Walikota Christian Widodo juga menyampaikan apresiasi tinggi terhadap Sinode GMIT sebagai pelopor gerakan gereja inklusif secara sistematis dan terstruktur di Indonesia.
Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah akan memberikan dukungan penuh terhadap inisiatif tersebut, sejalan dengan visi mewujudkan Kota Kupang sebagai kota yang ramah dan inklusif bagi seluruh warga tanpa terkecuali.
Ketua Sinode GMIT, Pendeta Semuel Pandie, menyatakan kebanggaannya atas langkah berani GMIT menjadi lembaga keagamaan pertama di Indonesia yang secara serius mengurusi dan menginisiasi program gereja ramah disabilitas.
Pilot project yang berlangsung di Gereja Paulus Naikoten 1 Kota Kupang merupakan langkah awal yang diharapkan dapat dijalankan dengan ketulusan dan konsistensi demi meneguhkan kasih Kristus kepada seluruh umat.
Workshop ini turut dihadiri oleh Wakil Ketua Sinode GMIT Pendeta Saneb Blegur, seluruh Ketua Klasis GMIT dari berbagai wilayah pelayanan, serta perwakilan komunitas disabilitas dari seluruh provinsi Nusa Tenggara Timur.
Kegiatan ini menjadi momentum krusial dalam memperkuat komitmen kolektif dan mengembangkan strategi inklusi sosial yang efektif, sekaligus menjadi bukti nyata sinergi antara gereja dan pemerintah dalam membangun masyarakat yang adil, setara dan berkeadaban.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
