Kupang, BBC – Dalam momentum penuh makna di Desa Apren, Kecamatan Amarasi, Kabupaten Kupang, sebuah pesan kemanusiaan mengalir deras, bukan hanya dari podium pejabat pemerintah, tapi juga dari seorang jurnalis yang memilih terlibat langsung:  Makson Saubaki, Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kabupaten Kupang dan wartawan KupangBerita.com.

Di hadapan ribuan warga yang hadir menerima bantuan pangan beras untuk 39.061 masyarakat miskin, rawan miskin, lansia tunggal dan kepala rumah tangga perempuan miskin, Makson Saubaki menunjukkan bahwa profesi jurnalis bukan hanya soal menggugah lewat tulisan, tetapi juga soal menyentuh kehidupan secara nyata.

Sebagai representasi insan pers lokal yang menjunjung tinggi etika dan tanggung jawab sosial, Makson tak hanya meliput kegiatan penyaluran bantuan yang dilakukan oleh Bupati Kupang, Yosef Lede tetapi juga turut membagikan beras secara simbolis kepada warga yang membutuhkan.

“Jadi wartawan bukan hanya soal menulis, tapi juga soal menjadi manusia bagi manusia lain. Ini bagian dari panggilan hati dan tanggung jawab moral,” tegas Makson Saubaki kepada Media ini,Kamis 31 Juli 2025

Pernyataan ini mencerminkan semangat jurnalisme yang inklusif, tidak elitis dan berpihak pada rakyat kecil—sebuah nilai yang mulai memudar di tengah derasnya arus digitalisasi dan clickbaitisme.

Penyaluran cadangan pangan pemerintah ini merupakan program nasional melalui Perum Bulog, sesuai arahan teknis dari Badan Pangan Nasional, yang bertujuan untuk mengurangi beban pengeluaran rumah tangga miskin dan mengatasi potensi kerawanan pangan.

Namun, yang menjadi sorotan berbeda adalah bagaimana kehadiran insan pers seperti Makson Saubaki dalam kegiatan ini mampu menambahkan nilai kemanusiaan dan legitimasi moral terhadap proses distribusi bantuan.

Makson dikenal tak hanya sebagai wartawan aktif dan pemimpin media, tetapi juga sosok yang menginspirasi generasi muda dalam mengembangkan literasi media yang bermartabat. Langkahnya turun ke lapangan—tidak sekadar memotret dan menulis, tapi juga menyapa dan berbagi—menjadi contoh nyata bahwa jurnalisme bisa sejajar dengan perjuangan sosial.

Aksi ini sekaligus mengangkat harkat dan citra jurnalis lokal yang selama ini kerap direduksi hanya sebagai pencari berita. Makson menunjukkan bahwa pers adalah mitra perubahan, bukan sekadar pelapor kejadian.

Di tengah tantangan sosial-ekonomi yang masih membelit masyarakat Kabupaten Kupang, sinergi antara pemerintah dan pers seperti yang tampak dalam kegiatan ini menjadi harapan baru.

Ketika jurnalis mulai bergerak melampaui batas-batas profesionalisme kaku menuju jurnalisme empatik, maka perubahan tidak hanya bisa ditulis, tapi benar-benar dirasakan.

Makson Saubaki telah mengajarkan kita satu hal penting: pena memang tajam, tapi tangan yang memberi jauh lebih berpengaruh.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.