Kupang, BBC – Di Desa Mata Air, Kecamatan Kupang Tengah, sebuah momentum bersejarah lahir ketika Bupati Kupang, Yosef Lede meletakkan batu pertama pembangunan gedung baru Gereja Ora Et Labora Oebaun.

Momen ini tidak semata-mata seremoni, melainkan juga sebuah peristiwa yang sarat makna: iman yang bertumbuh, persatuan yang terjalin dan komitmen jemaat yang berani melangkah menghadapi tantangan zaman.

Pembangunan rumah ibadah ini lahir dari kebutuhan riil. Pertumbuhan jumlah jemaat yang terus meningkat membuat gedung lama tak lagi mampu menampung seluruh umat.

Walaupun bangunan lama masih berdiri kokoh, keputusan membangun gereja baru merupakan bukti bahwa spiritualitas tidak boleh terhenti pada nostalgia, melainkan harus bertumbuh seiring perkembangan zaman dan kebutuhan komunitas.

Dalam sambutannya, Yosef Lede menegaskan bahwa pembangunan gereja baru adalah bukti iman yang aktif. Iman tidak berhenti pada doa, tetapi menemukan maknanya dalam kerja keras, gotong royong dan tindakan nyata.

“Kita yakini bahwa apa yang dikerjakan ini adalah untuk kemuliaan nama Tuhan. Karena itu, kita harus percaya dengan iman bahwa rumah Tuhan ini akan selesai tepat waktu. Doa, persatuan dan kerja keras jemaat adalah modal utama agar pembangunan ini berhasil,” tegas Yosef Lede, penuh keyakinan.

Bupati Kupang itu juga menyoroti kekuatan sosial jemaat Ora Et Labora Oebaun yang terdiri dari 60 kepala keluarga. Jumlah ini bukan sekadar angka, melainkan sebuah energi kolektif yang menjadi fondasi pembangunan.

Bantuan dari pihak luar tentu penting, tetapi tanggung jawab utama tetap berada di tangan jemaat sendiri. Persatuan iman dan kebersamaan menjadi modal fundamental agar pembangunan ini selesai sesuai rencana.

Lebih jauh, Yosef Lede menekankan pentingnya sinergitas antara gereja dan pemerintah. Menurutnya, pembangunan daerah tidak dapat dilepaskan dari nilai spiritualitas.

Doa dan kerja keras adalah dua pilar yang saling melengkapi, menjadikan setiap pekerjaan—baik yang ringan maupun berat—dapat diselesaikan dengan lebih kokoh dan bermakna.

“Pembangunan gereja bukan hanya soal membangun dinding dan atap, tetapi membangun ruang iman, ruang persaudaraan dan ruang kebersamaan yang akan menguatkan fondasi sosial kita di Kabupaten Kupang,” ujarnya penuh refleksi.

Kehadiran para pemimpin pemerintahan, tokoh gereja, dan warga jemaat dalam acara ini semakin mempertegas bahwa pembangunan rumah Tuhan adalah agenda bersama.

Kolaborasi lintas elemen membuktikan bahwa gereja bukan hanya milik umat semata, tetapi juga bagian integral dari perjalanan sosial, budaya dan pembangunan daerah.

Dengan demikian, peletakan batu pertama Gereja Ora Et Labora Oebaun menjadi lebih dari sekadar pembangunan fisik. Ia adalah simbol lahirnya babak baru sejarah iman di Kupang Tengah, sebuah narasi tentang bagaimana doa, persatuan dan kerja keras mampu menyalakan api harapan di tengah tantangan ekonomi.

Rumah Tuhan yang baru ini kelak akan berdiri sebagai warisan spiritual dan sosial, bukan hanya bagi jemaat hari ini, tetapi juga bagi generasi mendatang.