Kupang, BBC — Dalam keheningan yang khusyuk dan doa-doa yang mengalun lirih, Kebaktian Emeritasi Pendeta (Pdt.) Adolfina Uy, S.Th dilangsungkan di Gedung Kebaktian GMIT Ebenhaezer Matani, Desa Penfui Timur, Kecamatan Kupang Tengah, Minggu (8/2/2026) sore.

Ibadah ini bukan sekadar penanda berakhirnya sebuah masa tugas, melainkan sebuah perayaan iman atas 34 tahun pengabdian yang dijalani dengan kesetiaan, kerendahan hati dan cinta pastoral yang tak pernah menuntut balasan.

Emeritasi ini menjadi ruang reflektif bagi gereja dan masyarakat untuk mengenang perjalanan seorang hamba Tuhan yang telah menenun hidupnya bagi umat—dari mimbar ke rumah-rumah jemaat, dari doa-doa yang terucap hingga air mata yang disimpan dalam diam.

Hadir dalam kebaktian tersebut Bupati Kupang Yosef Lede bersama Wakil Bupati Kupang Aurum Obe Titu Eki, jajaran Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), para pendeta, jemaat, serta keluarga besar Pdt. Adolfina Uy.

Kehadiran pemerintah daerah dalam ibadah gerejawi ini memperlihatkan bahwa pelayanan iman dan pembangunan sosial berjalan dalam relasi yang saling menopang, saling menyapa dan saling menguatkan.

Dalam sambutannya, Bupati Kupang Yosef Lede menyampaikan penghargaan yang mendalam atas dedikasi panjang Pdt. Adolfina Uy. Ia menegaskan bahwa pelayanan kependetaan tidak hanya membentuk spiritualitas jemaat, tetapi juga berkontribusi pada pembentukan etika sosial, kepekaan moral, serta harmoni dalam kehidupan bermasyarakat.

“Atas nama Pemerintah Kabupaten Kupang, saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya atas pengabdian dan penggembalaan Ibu Pendeta bagi jemaat, yang pada hakikatnya juga merupakan bagian dari masyarakat Kabupaten Kupang,” ujar Yosef Lede.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa emeritasi secara struktural tidak pernah dapat mematikan panggilan ilahi. Menurutnya, jabatan dapat berakhir, tetapi nilai, keteladanan dan jejak pelayanan akan terus hidup dalam ingatan kolektif umat.

“Pelayanan boleh berakhir secara organisatoris, tetapi karya pelayanan tidak pernah selesai. Selama hidup masih menjadi persembahan, panggilan sebagai hamba Tuhan akan terus berjalan,” ungkapnya.

Dalam semangat tersebut, Pemerintah Kabupaten Kupang, lanjut Yosef Lede, berkomitmen untuk tetap melibatkan Emerita Pdt. Adolfina Uy dalam pelayanan iman di wilayah pemerintahan. Komitmen ini merupakan bentuk penghormatan atas kebijaksanaan rohani dan pengalaman panjang yang telah ditempa oleh waktu, doa dan pengorbanan.

Sementara itu, Wakil Ketua Majelis Sinode GMIT, Saneb Ena Blegur, S.Th, dalam suara gembala menyampaikan bahwa 34 tahun masa pelayanan Pdt. Adolfina Uy adalah anugerah ilahi yang tidak semua hamba Tuhan peroleh. Ia menempatkan emeritasi ini sebagai mahkota kesetiaan, bukan sekadar akhir dari sebuah perjalanan.

“Banyak pendeta GMIT yang bercita-cita mencapai titik ini dalam kesetiaan pelayanan. Bahwa Ibu Pendeta dapat sampai pada fase emeritasi ini merupakan anugerah terbesar yang Tuhan karuniakan,” tuturnya.

Ia menegaskan bahwa perjalanan pelayanan Pdt. Adolfina Uy telah menjadi teks hidup yang dibaca oleh gereja—tentang ketekunan yang sunyi, kesetiaan yang tidak selalu disorot, dan pelayanan yang dilakukan bukan untuk dikenang, tetapi untuk mengasihi.

Saneb Ena Blegur juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh jemaat GMIT yang selama ini berjalan bersama para hamba Tuhan.

Menurutnya, pelayanan gereja adalah karya kolektif yang lahir dari perjumpaan antara panggilan pendeta dan kesetiaan jemaat dalam memuliakan nama Tuhan.

“Atas nama Gereja Masehi Injili di Timor, serta atas nama pribadi dan keluarga, kami mengucapkan selamat memasuki masa emeritasi. Selamat berada dalam ruang pelayanan yang baru—ruang di mana jabatan boleh senyap, tetapi panggilan tetap bernyanyi,” ujarnya dengan suara penuh makna.

Ia kembali menegaskan bahwa berakhirnya jabatan kependetaan tidak pernah berarti berakhirnya panggilan. Panggilan itu, menurutnya, akan terus menemukan bentuk baru sesuai dengan talenta dan karunia yang Tuhan titipkan.

Dalam ungkapan suara hati yang sarat syukur dan keharuan, Emerita Pdt. Adolfina Uy, S.Th menyampaikan terima kasih atas penyertaan Tuhan yang setia sepanjang perjalanan pelayanannya.

Ia juga menyampaikan apresiasi mendalam kepada Sinode GMIT, Pemerintah Kabupaten Kupang, rekan-rekan pelayanan, keluarga, serta Jemaat GMIT Ebenhaezer Matani yang setia berjalan bersamanya hingga tiba pada masa emeritasi.

“Dari tempat ini saya menyampaikan terima kasih kepada semua rekan pelayanan selama masa pengabdian saya di Gereja Masehi Injili di Timor. Terima kasih juga kepada Pemerintah Kabupaten Kupang atas dukungan yang telah diberikan,” ungkapnya dengan nada penuh kerendahan hati.

Ia menutup kesaksiannya dengan pernyataan iman yang merangkum seluruh hidup pelayanannya—bahwa kependetaan bukan sekadar jabatan, melainkan identitas yang melekat seumur hidup.

“Saya telah mengakhiri pelayanan secara organisatoris, tetapi sebagaimana amanat yang saya terima, kependetaan itu dibawa sampai mati,” tutupnya.

Kebaktian emeritasi ini pada akhirnya bukan sekadar perpisahan dengan sebuah jabatan, melainkan sebuah pengakuan bahwa pelayanan sejati tidak pernah selesai. Dalam iman Kristen, ia hanya berpindah ruang—dari struktur ke kesaksian, dari jabatan ke keteladanan—dan terus bernyanyi pelan dalam kehidupan.