Kupang, BBC – Senja kembali menyapa dengan warna jingga yang perlahan ditelan malam. Di meja kayu sederhana, secangkir kopi hitam mengepulkan aroma khasnya, seakan menjadi saksi bisu pergumulan hati manusia yang kerap letih menanggung beban.

Di sampingnya, sebuah majalah rohani terbuka, menyingkap pesan firman yang menohok sekaligus menenangkan: “Bertekun dalam Tuhan = Menang.

Kalimat sederhana itu bukan sekadar tulisan. Ia adalah gema dari surat Paulus kepada jemaat di Korintus, sebuah pengingat bahwa setiap cobaan bukanlah akhir, melainkan jalan menuju kemenangan. Paulus menegaskan: “Allah setia, Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu.”

Hidup seringkali memberi alasan untuk menyerah. Ketika masyarakat menunggu janji yang tak kunjung ditepati, ketika suara mereka tertahan dalam amarah di depan gedung pemerintahan, atau ketika beban keluarga terasa begitu berat, air mata menjadi bahasa yang lebih jujur dari kata-kata.

Namun di tengah kerumunan dan riuh tuntutan itu, hadir seorang pemimpin yang memilih mendengar. Bupati Kupang Yosef Lede pernah menunjukkan sikap demikian: hadir di tengah rakyat, bukan sekadar memberi janji, tetapi menawarkan kepastian. Di situlah firman Paulus terasa relevan: cobaan bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk membentuk kekuatan baru.

Secangkir kopi Deka yang pahit namun hangat mengalirkan renungan: hidup tidak selalu manis, tidak selalu indah. Ada getir yang harus ditelan, ada luka yang harus dirasakan. Namun, justru di balik pahitnya perjalanan itu, lahir kekuatan untuk tetap berdiri.

Firman Paulus tidak menutup mata pada realitas penderitaan. Ia tidak berkata bahwa hidup akan selalu mudah, tetapi ia meneguhkan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya.

Cobaan adalah bagian dari perjalanan iman, dan setiap tetes air mata yang jatuh bukanlah sia-sia, melainkan ditampung dalam pelukan kasih-Nya.

Ada kalanya malam begitu sunyi, dan manusia merasa rapuh tanpa daya. Tetapi justru di saat itulah bisikan Kristus terdengar paling jelas: “Aku beserta engkau sampai kepada kesudahan zaman.”

Menang bukan berarti tanpa masalah. Menang bukan berarti tanpa luka. Menang berarti tetap percaya, tetap setia, tetap berjalan meski langkah tertatih. Itulah kemenangan yang sejati—kemenangan yang lahir dari iman yang tidak menyerah pada keadaan.

Seperti aroma kopi yang tetap tinggal meski cangkir telah kosong, demikianlah firman Tuhan yang terus hidup di dalam hati. Ia menyusup lembut ke relung terdalam, membisikkan harapan ketika dunia menawarkan keputusasaan.

Harapan itu tidak fana, tidak mudah hilang. Harapan itu abadi, karena berakar pada Kristus yang telah menang atas maut.

Maka, meski hidup memberi seribu alasan untuk menyerah, iman selalu menghadirkan satu alasan untuk bertahan: bersama Kristus, kita tidak pernah kalah.

“Air mata adalah bahasa jiwa yang jujur, tetapi iman adalah jawabannya. Karena di balik setiap luka, ada kasih Tuhan yang selalu menopang.”

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.