Kupang, BBC — Hujan turun tanpa suara, namun meninggalkan tangis yang panjang di tanah Babot. Lumpur menguasai jalan, menelan harapan, dan memaksa langkah warga Dusun Dua Kofi, Desa Oelbiteno, Kecamatan Fatuleu Tengah, Kabupaten Kupang, berjalan tertatih di atas penderitaan yang berulang. Di sinilah kesedihan itu hidup—nyata, dingin dan tak pernah benar-benar pergi.

Setiap musim hujan datang, jalan ini berubah menjadi ujian hidup. Bukan hanya licin dan rusak, tetapi juga mengikis semangat warga yang setiap hari harus melintasinya demi bertahan hidup.

Jalan Babot bukan lagi jalur penghubung, melainkan lorong duka yang memisahkan mereka dari harapan.

Selasa sore, 13 Januari 2026, Wakil Bupati Kupang, Aurum Obe Titu Eki hadir menyaksikan langsung kenyataan pahit tersebut. Ia berdiri di tengah lumpur, di hadapan jalan yang tak layak dilalui, menyaksikan bagaimana rakyatnya berjuang melawan kondisi yang seharusnya tidak mereka terima.

Lumpur tebal menutup permukaan jalan hingga sulit dibedakan antara tanah dan genangan. Kendaraan terjebak, roda berputar sia-sia, dan manusia dipaksa menjadi tenaga penolong. Waktu seolah berhenti, sementara beban hidup terus berjalan.

Di hadapan Wakil Bupati, warga menarik sebuah mobil truk menggunakan tali. Tangan-tangan kasar yang biasa menggenggam cangkul kini harus menarik beban besi demi melewati jalan yang rusak parah. Tidak ada mesin yang bisa diandalkan, selain kekuatan tubuh dan kebersamaan yang lahir dari keterpaksaan.

Tangisan tak terdengar, namun jelas terasa. Di setiap tarikan tali, ada lelah yang disembunyikan. Di setiap langkah di lumpur, ada harapan yang dipaksa bertahan.

Jalan Babot ini menghubungkan beberapa desa, termasuk Desa Passi, Nonbaun, Tanini, dan wilayah sekitarnya. Jalan ini menjadi nadi kehidupan bagi masyarakat. Namun saat nadi itu tersumbat lumpur, kehidupan pun berjalan pincang.

Bagi masyarakat yang mayoritas berprofesi sebagai petani, jalan rusak adalah bencana yang sunyi. Hasil kebun yang seharusnya menjadi sumber penghidupan justru terancam busuk sebelum sampai ke pasar. Mereka memikul hasil tani dengan langkah berat, melawan jalan yang tak berpihak pada kerja keras.

Lebih pilu lagi, para guru yang datang dari jauh harus berjuang melewati medan yang sama. Mereka datang dengan niat mendidik anak bangsa, menanamkan nilai dan harapan bagi masa depan. Namun jalan rusak seolah bertanya: masihkah pengorbanan mereka dihargai?

Pakaian guru-guru itu basah, sepatu tertutup lumpur, dan waktu belajar terpotong oleh perjalanan yang melelahkan. Dunia menuntut mereka mencerdaskan generasi, namun akses menuju tugas mulia itu dipenuhi penderitaan.

Anak-anak pun tak luput dari luka jalan ini. Mereka berangkat sekolah dengan kaki kotor, seragam basah, dan rasa takut terpeleset. Pendidikan, yang seharusnya menjadi cahaya, sering kali harus ditempuh melalui jalan yang gelap dan licin.

Aurum Obe Titu Eki tampak terdiam menyaksikan semua itu. Matanya menyusuri jalan rusak, wajahnya menyimpan keprihatinan mendalam. Ini bukan sekadar kunjungan kerja, melainkan pertemuan langsung dengan kenyataan pahit rakyatnya.

“Ini bukan hanya soal jalan rusak, ini soal kemanusiaan,” ujarnya lirih. Menurutnya, infrastruktur yang rusak telah menjelma menjadi luka sosial yang perlahan menggerogoti martabat dan kesejahteraan masyarakat.

Warga Babot tak menuntut kemewahan. Mereka hanya berharap jalan yang layak dilalui, agar hujan tidak lagi menjadi ancaman, agar sakit tidak tertunda, agar hasil kebun bisa sampai ke pasar, dan agar anak-anak bisa belajar tanpa rasa takut.

Desa Oelbiteno tetap bertahan di tengah keterbatasan. Mereka memilih kuat meski lelah, memilih sabar meski perih. Langkah mereka pelan, namun penuh ketabahan, menunggu perubahan yang entah kapan datangnya.

Kunjungan Wakil Bupati Kupang ini menjadi cermin bagi semua pihak bahwa pembangunan bukan sekadar angka di atas kertas. Pembangunan adalah tentang mendengar jeritan sunyi rakyat di pelosok, tentang melihat lumpur yang menelan harapan dan tentang keberanian untuk bertindak.

Di balik lumpur yang pekat di jalan Babot, tersimpan doa-doa sederhana warga Dusun Kofi. Doa agar suatu hari nanti, jalan ini tak lagi menjadi cerita duka, melainkan jalan pulang yang layak bagi kemanusiaan.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.