Kupang, BBC — Di tengah langit desa yang tak selalu cerah, hadir secercah harapan dari negara. Sebanyak 171 kepala keluarga di Desa Nonbaun, Kecamatan Fatuleu Tengah, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur, menerima bantuan beras sebanyak 10 kilogram per keluarga. Bantuan ini disalurkan oleh Perum Bulog melalui sinergi aktif Pemerintah Desa pada Senin, 28 Juli 2025.
Bantuan beras tersebut bukan sekadar distribusi logistik, tetapi merupakan wujud kehadiran negara dalam bentuk yang paling mendasar: makanan yang menghidupi, yang menenangkan, yang meneguhkan martabat manusia.
Kepala Desa Nonbaun, Zet Koib dalam pernyataannya kepada media, menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam, seraya menegaskan bahwa bantuan ini menjadi bukti nyata bahwa negara tidak tinggal diam saat warganya menghadapi tantangan kehidupan.
“Hari ini, saya berdiri bukan hanya sebagai kepala desa, tetapi sebagai suara harapan 171 keluarga yang merasa diperhatikan. Bantuan ini bukan sekadar beras, ini adalah cinta negara dalam karung-karung kecil yang menyelamatkan,” ujar Zet Koib dengan nada haru.
Desa Nonbaun, seperti banyak desa lainnya di NTT, masih menghadapi tantangan struktural dalam bidang pangan. Musim tanam yang tak menentu, keterbatasan akses ekonomi, serta kondisi iklim yang ekstrem kerap membuat ketahanan pangan menjadi rentan. Di sinilah, menurut Zet Koib, peran pemerintah menjadi pelita di tengah gelapnya kecemasan.
“Kami tahu, ini belum menyelesaikan semuanya. Tapi setidaknya, ada yang datang, ada yang peduli dan itu membuat kami merasa tidak sendiri di jalan sunyi pembangunan,” lanjutnya.
Secara teoritis, ketahanan pangan merupakan salah satu indikator utama kesejahteraan sosial dan stabilitas negara. Tidak hanya soal stok makanan, tetapi juga soal akses, distribusi yang adil dan keberlanjutan ekosistem pangan. Dalam konteks desa, pangan adalah segalanya: kehidupan, kerja, bahkan kebahagiaan.
Zet Koib menegaskan bahwa program seperti ini perlu dilanjutkan dan diperluas. Ia berharap ada pendekatan pembangunan yang lebih menyentuh akar realitas masyarakat desa—yang sederhana, namun sangat bergantung pada uluran kebijakan yang adil.
“Kami butuh bukan hanya bantuan, tapi pemberdayaan. Bukan hanya beras hari ini, tapi jaminan bisa menanam untuk esok. Bukan hanya uluran tangan pemerintah, tapi kehadiran yang konsisten dan bermakna,” ujarnya, menyuarakan harapan kolektif warganya.
Ketika Negara Hadir, Desa Bangkit Bantuan ini diharapkan menjadi langkah awal menuju kebijakan yang lebih visioner dan adil, khususnya bagi daerah-daerah tertinggal.
Kepala desa menyampaikan komitmen pemerintah desa untuk terus menjadi jembatan antara rakyat dan negara, serta mendukung penuh setiap program pemerintah yang berpihak pada rakyat kecil.
“Dari beras sepuluh kilo, lahir sepuluh harapan. Dari tangan pemerintah, tumbuh tangan-tangan yang kuat menjaga desa. Kami percaya, pembangunan bukan hanya soal angka dan proyek, tetapi soal manusia, kehidupan dan masa depan,” tutup Zet Koib dengan nada optimis namun reflektif.
Di tengah deru pembangunan nasional, masih banyak suara dari desa yang perlu didengar. Kisah dari Nonbaun adalah potret kecil dari perjuangan besar Indonesia dalam mewujudkan keadilan sosial dan ketahanan pangan yang merata.
Maka, biarlah bantuan hari ini menjadi awal dari perubahan yang lebih dalam—yang bukan hanya memberi makan, tetapi juga membangkitkan semangat untuk terus hidup, bekerja dan bermimpi.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
