Buserbindo.com, Kupang Wartawan bukan hanya pengabdi informasi, tetapi juga penjaga kualitas bahasa dan benteng demokrasi. Hal ini ditegaskan oleh Kepala Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Ralph Hery Budhiono, S.Pd., M.A., saat membuka kegiatan Penyegaran Kompetensi Berbahasa bagi Wartawan Media Massa se-Provinsi NTT Tahun 2025, yang berlangsung di Kupang.

Dalam sambutannya, Ralph menyampaikan bahwa wartawan sebagai pilar keempat demokrasi memegang peran sentral dalam menyampaikan informasi yang kredibel, adil, dan mencerdaskan masyarakat. Oleh karena itu, kemampuan berbahasa Indonesia secara baik dan benar menjadi kompetensi mutlak yang harus dimiliki.

“Wartawan adalah pilar keempat demokrasi. Lewat bahasa, mereka menyampaikan realitas, membentuk opini publik, dan menjadi penghubung antara kekuasaan dan masyarakat. Maka, melek bahasa Indonesia bagi wartawan bukan lagi sekadar nilai tambah, tapi keharusan,” tegas Ralph.

Ia menekankan bahwa dalam praktik jurnalistik, pemilihan kata, struktur kalimat, dan gaya bahasa memiliki dampak besar dalam membentuk persepsi masyarakat. Kekeliruan bahasa bukan hanya soal teknis, tapi juga menyangkut akurasi informasi dan etika komunikasi publik.

“Media massa adalah ruang utama bahasa Indonesia berkembang dan dipraktikkan. Dari media jugalah muncul istilah baru seperti petahana, yang kini digunakan secara luas. Itu membuktikan betapa besar pengaruh wartawan terhadap dinamika bahasa,” jelasnya.

Kegiatan penyegaran ini diikuti oleh puluhan wartawan dari berbagai media cetak, daring, dan elektronik di seluruh Provinsi NTT. Para peserta mendapat materi kebahasaan yang mencakup kaidah penulisan, pembentukan istilah, dan praktik bahasa jurnalistik yang sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) serta KBBI.

Ralph menambahkan bahwa Balai Bahasa memiliki tanggung jawab mendampingi dan memperkuat kompetensi bahasa para wartawan agar penyebarluasan informasi publik dapat dilakukan dengan berdaya guna, komunikatif, dan tidak menyesatkan.

“Kami tidak ingin bahasa Indonesia hanya kuat di ranah pendidikan, tetapi juga merasuk dalam kehidupan sehari-hari, termasuk media massa. Wartawan adalah mitra penting kami dalam menjaga keutuhan dan martabat bahasa bangsa,” tutup Ralph.

Dengan kegiatan ini, Balai Bahasa Provinsi NTT berharap terjalin sinergi kuat antara lembaga bahasa dan media massa untuk bersama-sama memajukan kualitas komunikasi publik demi mencerdaskan kehidupan bangsa dan memperkokoh demokrasi di Indonesia.