Kupang, BBC – Semarak Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80 di Desa Nunsaen, Kecamatan Fatuleu Tengah, Kabupaten Kupang, menjadi momen bersejarah yang bukan hanya merayakan kemerdekaan, tetapi juga meneguhkan komitmen pelestarian adat dan budaya.

Melalui perlombaan seni budaya seperti tari perang, bonet dan basan, masyarakat Desa Nunsaen menunjukkan bahwa kemerdekaan tidak hanya diukur dari kebebasan politik, tetapi juga dari kemampuan menjaga warisan leluhur di tengah arus modernisasi.

Kepala Desa Nunsaen, Litherheart Niuflapu, saat ditemui media ini pada Sabtu, 9 Agustus 2025, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar hiburan, melainkan investasi nilai-nilai budaya bagi generasi mendatang.

“HUT RI ke-80 mengingatkan kita pada jasa para pahlawan. Tapi kita juga harus ingat adat dan budaya kita, agar anak cucu kita mengerti dan menghargai warisan leluhur,” ujarnya.

Kegiatan ini dianggarkan melalui Alokasi Dana Desa (ADD) Tahun Anggaran 2025, membuktikan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan pembangunan desa.

Memperkuat Identitas dan Kebanggaan Diri
Tradisi seperti tari perang dan bonet menjadi simbol jati diri masyarakat Nunsaen, yang membedakan mereka dari komunitas lain dan menumbuhkan rasa bangga sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang beragam.

Menjaga Persatuan dan Solidaritas
Lomba budaya melibatkan seluruh lapisan masyarakat, sehingga menjadi sarana mempererat hubungan sosial, mengurangi perpecahan dan menumbuhkan rasa kebersamaan.

Menjadi Sarana Pendidikan Karakter
Nilai-nilai seperti disiplin, kerja sama dan penghormatan terhadap leluhur diajarkan melalui praktik adat, membentuk generasi muda yang beradab dan berkarakter kuat.

Potensi Pengembangan Pariwisata Desa
Pelestarian seni budaya dapat menarik wisatawan, menciptakan peluang ekonomi dan mengangkat nama Desa Nunsaen di kancah nasional maupun internasional.

Di tengah derasnya arus globalisasi, Litherheart menekankan bahwa kemajuan teknologi dan pembangunan tidak boleh mengikis akar budaya.

“Zaman boleh modern, tapi adat dan budaya kita harus tetap jadi satu kesatuan dalam diri kita sebagai manusia yang beradat dan berbudaya,” tegasnya.

Dengan menggabungkan perayaan kemerdekaan dan pelestarian adat, Desa Nunsaen memberikan teladan bahwa pembangunan sejati adalah pembangunan yang berpijak pada akar budaya, demi masa depan yang berkelanjutan.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.