KUPANG, BBC – Malam telah turun di Mbay ketika rombongan dari Kabupaten Kupang tiba membawa bantuan untuk masyarakat Flores yang masih hidup dalam bayang-bayang gempa.

Di tengah gelapnya laut yang mereka lewati, ada sebuah perjalanan yang sesungguhnya jauh lebih dalam daripada sekadar perjalanan antarpulau. Ada duka yang ikut diseberangkan. Ada doa yang dibawa dari tanah Timor. Ada tangan-tangan yang ingin mengatakan kepada saudara-saudaranya di Flores bahwa mereka tidak sedang menghadapi ketakutan itu seorang diri.

Pesan kemanusiaan itulah yang dibawa Bupati Kupang Yosef Lede bersama Wakil Bupati Aurum Obe Titu Eki ketika mereka hadir langsung di Mbay, Kabupaten Nagekeo, Sabtu malam, 29 Agustus 2026.

Mereka datang ketika luka akibat gempa bumi masih belum sepenuhnya mengering.

Gempa bumi magnitudo (M) 7,7 yang melanda sejumlah wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 15 Agustus 2026 telah meninggalkan kecemasan yang tidak mudah hilang. Berdasarkan laporan yang disampaikan dalam rilis BMKG, gempa susulan masih berulang terjadi meskipun dengan kekuatan yang relatif rendah.

Bagi masyarakat yang mengalaminya, setiap getaran mungkin bukan sekadar angka pada alat pencatat gempa. Ia dapat menjadi pengingat tentang malam ketika bumi berguncang, rumah-rumah bergetar dan rasa aman seakan pergi entah ke mana.
Di tengah suasana itulah Pemerintah dan masyarakat Kabupaten Kupang memilih untuk datang.

Bukan hanya mengirim bantuan.
Tetapi hadir.

Menyeberangi Laut di Tengah Duka
Dari Kupang, rombongan bertolak menggunakan KM Dharma Rucitra.
Laut menjadi saksi perjalanan itu.

Di satu sisi, Pulau Timor yang menjadi tempat mereka berangkat. Di sisi lain, Flores yang sedang menanggung luka. Di antara keduanya terbentang laut, tetapi jarak geografis itu tidak mampu membatasi rasa persaudaraan.

Di dalamnya ada kepedulian Pemerintah Kabupaten Kupang, ada keikhlasan ASN, PPPK dan masyarakat yang menyisihkan sebagian yang mereka miliki untuk saudara-saudaranya yang sedang mengalami bencana.

Setibanya di Mbay, bantuan tersebut diserahkan secara langsung kepada Pemerintah Kabupaten Nagekeo.

Bantuan diterima oleh Bupati Nagekeo Simplisius Donatus dan Wakil Bupati Nagekeo Gonzalo Gratianus Muga Sada.

Penyerahan bantuan itu turut disaksikan Marsekal Muda TNI (Purn) Oka Prawira, selaku Tenaga Ahli pada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Hadir pula Ketua DPRD Nagekeo Shafar Laga Rema, Sekda Nagekeo Drs. Imanuel Ndun, Sekda Kabupaten Kupang Mateldi Sanam, anggota DPRD Kabupaten Kupang Deasy Ballo Foeh, Ira Sobeukum dan Mesak Mbura, Pimpinan Cabang Bank NTT Oelamasi Edward Hede, serta sejumlah pimpinan OPD Kabupaten Kupang.

Malam itu, pertemuan antarpemerintah daerah berubah menjadi pertemuan hati. Rp1 Miliar, 1,6 Ton Beras dan Doa yang Dibawa dari Kupang

Pemerintah Kabupaten Kupang bersama ASN, P3K dan masyarakat memberikan dukungan melalui sumbangan dana dan logistik.

Dana sebesar Rp1 miliar ditransfer langsung ke rekening kas Pemerintah Daerah.
Selain itu, diserahkan pula bantuan logistik berupa 1,6 ton beras, gula, telur dan berbagai kebutuhan lainnya.

Angka-angka tersebut mungkin terlihat sederhana ketika ditulis di atas kertas.
Namun bagi keluarga yang sedang berada dalam situasi bencana, satu kilogram beras dapat berarti makanan bagi keluarga.

Sebutir telur dapat menjadi bagian dari hidangan yang mungkin sederhana, tetapi penuh syukur. Dan sebuah bantuan dapat menjadi tanda bahwa masih ada orang-orang yang memikirkan mereka.

Karena dalam bencana, yang sering kali paling dibutuhkan bukan hanya benda untuk bertahan hidup.

Bupati Kupang Yosef Lede mengatakan kedatangan Pemerintah Kabupaten Kupang merupakan wujud rasa turut berduka cita dan simpati yang mendalam kepada masyarakat Flores.

“Flores tidak sendiri, kami datang dan memberikan dukungan bagi masyarakat Flores,” ungkap Yosef Lede.

Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun di tengah masyarakat yang masih menghadapi gempa susulan, kalimat tersebut menjadi semacam pelukan dari kejauhan.

Yosef menjelaskan bahwa bantuan tersebut tidak berdiri atas nama pemerintah semata.
Ada ASN. Ada P3K. Ada masyarakat Kabupaten Kupang.Semuanya bergerak dengan kesadaran untuk membantu..

“Pemerintah, ASN, P3K di Pemkab Kupang serta masyarakat dengan penuh kesadaran memberikan dukungan baik melalui sumbangan dana maupun logistik sembako yang diberikan langsung,” ujar Yosef.

Yosef bersama rombongan bertolak dari Kupang menggunakan KM Dharma Rucitra untuk hadir secara langsung dan mengantarkan dukungan tersebut.

“Dengan penuh semangat dirinya dan rombongan bertolak dari Kupang dengan menggunakan KM Dharma Rucitra untuk hadir dan mengantarkan dukungan logistik,” demikian disampaikan

Ada nilai kemanusiaan ketika seorang pemimpin memilih hadir, melihat, mendengar, dan berdiri bersama masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan.

Sebab, terkadang yang dibutuhkan oleh orang yang sedang berduka bukanlah pidato panjang.

Cukup seseorang datang dan berkata:
“Kami ada bersama kalian.”

Di Balik Bantuan, Ada Doa Agar Bumi Berhenti Berguncang
Namun ada satu harapan yang jauh lebih besar daripada bantuan yang dibawa malam itu.

Ia berharap proses penanganan dan pemulihan dapat berlangsung dengan baik sehingga masyarakat dapat kembali menjalani kehidupan sebagaimana biasanya.

Harapan itu tidak hanya disampaikan dalam kapasitasnya sebagai kepala daerah.
Ia menyebut doa masyarakat Kabupaten Kupang yang terus dipanjatkan bagi Flores.

“Kami dalam berbagai kesempatan, bersama masyarakat Kabupaten Kupang terus mendoakan agar gempa Flores berakhir dan Flores bisa bangkit dan pulih,” ungkap Yosef.

Kalimat itu barangkali menjadi bagian paling sunyi dari seluruh perjalanan tersebut.

Rp1 miliar dapat dicatat.
1,6 ton beras dapat ditimbang.
Gula dan telur dapat dihitung.
Tetapi doa tidak memiliki satuan ukur.
Ia hanya dapat dirasakan.

Doa agar malam-malam di Flores kembali tenang.

Doa agar anak-anak tidak lagi terbangun karena guncangan.

Doa agar keluarga-keluarga yang masih diliputi kecemasan dapat kembali tidur tanpa rasa takut.

Dan doa agar bumi yang telah mengguncang kehidupan mereka segera berhenti memberikan getaran.

Bupati Nagekeo Simplisius Donatus menyampaikan terima kasih atas perhatian dan dukungan Pemerintah serta masyarakat Kabupaten Kupang.

Atas nama masyarakat Nagekeo, ia mengapresiasi kehadiran langsung Bupati Kupang bersama jajaran.

“Kami ucapkan terima kasih pak Bupati Kupang dan Wakil Bupati Kupang serta jajaran yang telah hadir langsung di sini dan memberikan dukungan dan bantuan bagi kami. Tentunya ini sangat bermanfaat bagi masyarakat,” ungkap Donatus.

Kehadiran dan solidaritas yang diberikan Pemerintah Kabupaten Kupang menjadi kekuatan moral bagi masyarakat yang masih menghadapi situasi pascabencana.

Donatus menyatakan bahwa gempa susulan masih sering terjadi meskipun memiliki daya rendah.

Karena itu, dukungan doa dan solidaritas dari Pemerintah Kabupaten Kupang memberikan semangat serta kekuatan bagi masyarakat.
Di tengah ketidakpastian itu, masyarakat membutuhkan lebih dari sekadar bantuan.
Mereka membutuhkan keyakinan bahwa ketika bumi berguncang, persaudaraan tidak ikut runtuh.

Suara dari Mereka yang Menerima Bantuan
Dari masyarakat, ucapan terima kasih juga datang.

Anselmus Go, Ketua RT 07, Kelurahan Nanga Roro, Kecamatan Nanga Roro, yang menerima bantuan, menyampaikan limpah terima kasih atas kepedulian Pemerintah, ASN dan masyarakat Kabupaten Kupang.

“Bantuan ini sangat bermanfaat bagi kami, terima kasih pak Bupati dan jajaran Pemda Kabupaten Kupang,” ungkap Anselmus.

Kalimat Anselmus terdengar sederhana.
Tetapi kesederhanaan itu justru menyimpan kedalaman…

Sebab bagi masyarakat yang sedang menghadapi bencana, bantuan bukan hanya tentang apa yang ada di dalam karung atau berapa nominal yang ditransfer ke rekening pemerintah.

Bantuan adalah tentang sebuah pesan.
Bahwa di tengah rasa takut, masih ada yang mengingat.

Di tengah kesulitan, masih ada yang datang.
Di tengah malam yang panjang, masih ada cahaya kecil bernama solidaritas.

Sabtu malam di Mbay akhirnya bukan sekadar tentang penyerahan bantuan.
Ia menjadi sebuah peristiwa kemanusiaan.

Dari Kupang, sebuah rombongan menyeberangi laut untuk menemui saudara-saudaranya yang sedang terluka.

Mereka membawa beras.
Mereka membawa gula dan telur.
Mereka membawa Rp1 miliar.

Tetapi sesungguhnya, mereka juga membawa sesuatu yang tidak dapat dimasukkan ke dalam daftar logistik:

rasa kehilangan yang ikut dirasakan, doa yang ikut dipanjatkan dan harapan yang ingin tetap dijaga.

Ketika bumi Flores berguncang, hati Kabupaten Kupang ikut bergetar.
Ketika masyarakat Flores menatap malam dengan kecemasan karena gempa susulan, dari seberang laut datang sebuah kabar bahwa mereka tidak dilupakan.

Dan ketika bantuan itu akhirnya sampai di tangan masyarakat, barangkali yang paling berharga bukanlah nilai yang tercantum dalam laporan.

Melainkan perasaan bahwa di tengah bencana, mereka masih memiliki saudara.
Malam semakin larut.

Laut yang tadi diseberangi perlahan kembali tenang.

Namun doa dari Kupang masih terus berjalan.
Semoga bumi Flores segera diam.
Semoga rumah-rumah kembali menjadi tempat yang aman.

Semoga keluarga-keluarga kembali tidur tanpa ketakutan.

Dan semoga dari puing-puing kecemasan, Flores menemukan kembali kekuatannya untuk berdiri.

Sebab dari tanah Timor, satu pesan telah diseberangkan bersama ombak:

Ketika Flores terluka, Kabupaten Kupang datang. Ketika Flores menangis, Kabupaten Kupang ikut berdoa. Dan ketika Flores berjuang untuk bangkit, Kabupaten Kupang berdiri di sisinya.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.