Kupang ,BBC —Kabut pagi menyingkap perlahan di langit Oelamasi. Di halaman Kantor Bupati Kupang, udara seolah menyimpan getar sejarah.

Pagi itu, Selasa (28/10/2025), waktu seakan berhenti sejenak memberi ruang bagi gema Hari Sumpah Pemuda ke-97.Dan di tengah barisan merah putih yang berkibar, berdirilah Bupati Kupang, Yosef Lede tegap dalam pakaian adat kebesaran Helong Semau, menyatukan simbol adat dan semangat kebangsaan dalam satu tarikan napas.

Suaranya lirih, namun tajam seperti nasihat seorang ayah kepada anak-anak yang akan berlayar menantang ombak zaman.

“Pemuda harus menjadi pelopor dalam menumbuhkan semangat kebangsaan yang menghargai keberagaman,” ujarnya — bukan sekadar seruan, melainkan doa yang menetes dari nurani pemimpin yang memahami getirnya perpecahan.

Tema “Pemuda Pemudi Bergerak, Indonesia Bersatu” bergema di halaman itu bukan hanya sebagai slogan tahunan, tetapi sebagai manifesto moral bagi generasi Kupang.

Yosef Lede mengajak para muda untuk tidak larut dalam kenyamanan digital yang melenakan, melainkan menjadi pelaku sejarah, menulis masa depan dengan pena yang dicelup dalam integritas dan pengetahuan.

Ia menegaskan bahwa perjuangan kini tak lagi bersenjatakan bambu runcing, melainkan akal yang jernih, hati yang jujur, dan jiwa yang berdaya cipta.

Tantangan hari ini, katanya, bukan lagi peluru penjajah, melainkan virus kebodohan, kemalasan, intoleransi, dan derasnya arus informasi yang menyesatkan.

“Bangkitlah, wahai pemuda Kupang,”
tutur Yosef, suaranya menembus riuh angin,
“karena bangsa ini menunggu langkahmu,
menunggu tanganmu yang menenun kembali persatuan
yang mulai kusut dihembus zaman.”

Dalam amanat yang penuh refleksi, Yosef Lede menekankan bahwa Sumpah Pemuda bukan artefak sejarah, tetapi ruh yang harus dihidupkan kembali melalui kerja nyata, kolaborasi dan inovasi lintas bidang.

Ia menyeru agar pemuda membangun karakter kebangsaan yang kokoh, kapasitas yang mumpuni dan daya saing yang sehat di tengah pusaran globalisasi.

“Persatuan bukan kata yang usang,” katanya dengan lirih,
“ia adalah napas bangsa,
dan kalian — para pemuda — adalah paru-parunya.”

Pagi itu juga, Pemerintah Kabupaten Kupang menyerahkan SK Pensiun kepada 15 ASN yang akan memasuki masa purna bakti per 1 November 2025.

Di antara wajah-wajah yang menua oleh pengabdian, tampak sorot mata yang teduh — menatap generasi baru yang akan melanjutkan kisah perjuangan dengan cara yang berbeda, namun dengan cinta yang sama.

Langit Oelamasi mulai terang. Namun di hati yang hadir, terasa semburat sendu — sendu karena waktu terus berjalan, namun juga haru karena semangat tidak pernah benar-benar padam.

Dari tanah yang berdebu dan berangin itu, Yosef Lede menitipkan pesan: bahwa setiap pemuda Kupang adalah bara kecil yang dapat menyalakan obor persatuan bangsa.

Bahwa perjuangan hari ini bukan lagi tentang darah yang tumpah,melainkan tentang hati yang menyala — tenang, tekun dan setia pada Indonesia.

“Kupang, jangan diam,”ucapnya menutup upacara dengan nada nyaris seperti doa.
“Sebab dari Timur, cahaya selalu lahir
dan dari semangatmu, Indonesia selalu menemukan arti bersatu.”

 

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.