KUPANG, BBC — Ada tanah yang lama terdiam. Tanah yang pernah dibiarkan sunyi, retak oleh musim dan dilupakan oleh waktu.
Di tempat seperti itulah, harapan sering kali tumbuh paling pelan—namun paling tulus.
Di Desa Sillu, sebuah desa yang berada di wilayah Kabupaten Kupang, tanah yang pernah sepi itu kini berbicara.
Ia tidak lagi hanya memantulkan panas matahari dan debu musim kering, tetapi mulai menguning oleh bulir-bulir jagung yang tumbuh dari kerja keras dan keyakinan para pemuda desa.
Pada Rabu (11/3/2026), Bupati Kupang, Yosef Lede, hadir di tengah hamparan ladang tersebut untuk melakukan panen perdana jagung di lahan milik Pemerintah Desa Silu seluas lima hektar yang dikelola oleh para pemuda karang taruna. Di antara batang-batang jagung yang berdiri tegak, panen itu bukan sekadar peristiwa pertanian. Ia adalah kisah tentang keberanian menghidupkan kembali tanah yang lama terabaikan.
Lahan yang dahulu sunyi kini berubah menjadi ladang harapan. Dari tanah yang diolah dengan tangan yang mungkin pernah ragu, tumbuh jagung yang diperkirakan menghasilkan rata-rata delapan ton per hektar. Jika dihitung secara keseluruhan, panen dari lahan tersebut diproyeksikan mencapai sekitar empat puluh ton.
Namun bagi Yosef Lede, angka-angka itu bukanlah inti dari cerita yang sedang tumbuh di Desa Sillu. Yang jauh lebih berharga adalah semangat yang menghidupkan tanah tersebut—semangat anak-anak muda desa yang memilih untuk menanam masa depan di tanah mereka sendiri.
Di tengah ladang yang menguning, Yosef Lede menyampaikan rasa bangga sekaligus harunya melihat inisiatif Pemerintah Desa Sillu dan para pemuda yang berani memulai langkah yang tidak selalu mudah. Dalam banyak desa, tanah sering kali ditinggalkan karena dianggap tidak menjanjikan. Tetapi di Sillu, tanah justru dipeluk kembali.
Menurutnya, apa yang dilakukan Pemerintah Desa Sillu sejatinya merupakan wujud nyata dari pelaksanaan kebijakan nasional yang mendorong pemanfaatan dana desa untuk memperkuat ketahanan pangan masyarakat.
Kebijakan tersebut merupakan bagian dari arahan pemerintah pusat agar desa-desa di seluruh Indonesia mampu berdiri lebih mandiri melalui pengelolaan sumber daya yang mereka miliki.
Namun di Sillu, kebijakan itu tidak berhenti sebagai dokumen atau program administratif. Ia menjelma menjadi ladang, menjadi benih dan akhirnya menjadi jagung yang menguning di bawah langit desa.
Yosef Lede menilai keberhasilan panen ini membuktikan bahwa dana desa dapat menghasilkan manfaat nyata apabila dikelola dengan niat yang jujur, perencanaan yang matang dan keberanian untuk bekerja bersama.
Ia juga memberikan apresiasi kepada Kepala Desa Sillu yang tidak hanya menjalankan arahan pemerintah, tetapi juga mampu menggerakkan sumber daya manusia di desa, terutama generasi muda.
Menurutnya, sinergi antara pemerintah desa, karang taruna, serta pemanfaatan lahan dan sumber air yang tersedia merupakan fondasi penting dalam membangun kemandirian pangan.
Bahkan ia menyebut apa yang dilakukan Desa Sillu sebagai salah satu langkah awal yang patut menjadi contoh bagi desa-desa lain di wilayah Kabupaten Kupang.
Meski demikian, di tengah kegembiraan panen perdana itu, Yosef Lede mengingatkan bahwa perjalanan masih panjang. Ia meminta pemerintah desa dan para pemuda untuk tidak berhenti pada keberhasilan pertama.
Sebab, menurutnya, potensi lahan dan sumber air di Desa Sillu masih jauh lebih besar daripada yang terlihat hari ini.
Pemerintah Kabupaten Kupang, kata dia, akan hadir melalui dinas-dinas teknis untuk membantu memaksimalkan potensi tersebut agar sektor pertanian di desa dapat berkembang secara berkelanjutan.
Ia juga menyinggung kondisi dunia yang tengah diliputi ketidakpastian, termasuk konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah. Dalam situasi seperti itu, ketahanan pangan menjadi isu yang tidak bisa dianggap remeh.
Setiap daerah, menurutnya, harus belajar berdiri di atas kekuatan sendiri, termasuk dalam memastikan ketersediaan pangan bagi masyarakatnya.
Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk tidak membiarkan lahan-lahan yang ada tetap tidur dalam kesunyian.
Tanah, kata dia orang nomor satu Kabupaten Kupang selalu memiliki cara untuk membalas kerja keras manusia, selama ia diberi kesempatan untuk ditanami.
Pemerintah melalui Perum Bulog, lanjutnya, juga siap hadir sebagai penyangga pasar dengan menyerap hasil panen petani.
Harga jagung ditetapkan sekitar Rp6.500 per kilogram dengan standar kadar air 14 persen, sehingga petani tidak perlu khawatir mengenai kepastian pasar.
Sementara itu, Kepala Desa Sillu, Mikhael Takel, menjelaskan bahwa gagasan pengelolaan lahan tersebut lahir dari arahan Bupati Kupang kepada para kepala desa agar memanfaatkan dana desa untuk mendukung ketahanan pangan.
Setelah menerima arahan tersebut, ia mengajak para pemuda karang taruna untuk berdiskusi mengenai potensi yang dimiliki desa.
Dari diskusi sederhana itulah lahir keputusan untuk memanfaatkan lahan-lahan yang sebelumnya tidak produktif.
Melalui kerja sama dengan masyarakat, beberapa lahan tidur kemudian disewa dan dikelola secara kolektif oleh para pemuda desa.
Mereka menanam jagung dengan harapan sederhana: agar tanah tidak lagi dibiarkan kosong dan agar desa tidak hanya menunggu bantuan dari luar.
Perlahan, tanah yang sebelumnya sunyi itu mulai berubah. Benih yang ditanam dengan keyakinan kini tumbuh menjadi tanaman jagung yang menjanjikan kehidupan baru bagi masyarakat desa.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Kupang, Amin Juariah yang turut hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan bahwa hasil panen jagung dari masyarakat memiliki peluang pasar yang baik.
Kehadiran Bulog sebagai pembeli diharapkan mampu memberikan kepastian bagi petani sekaligus mendorong semangat masyarakat untuk terus mengembangkan sektor pertanian.
Panen perdana di Desa Sillu itu juga dihadiri oleh Asisten I Sekretariat Daerah Kabupaten Kupang, Guntur Subu Taopan, sejumlah pimpinan organisasi perangkat daerah di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kupang, serta Camat Fatuleu.
Di bawah langit desa yang tenang, di antara batang-batang jagung yang bergoyang pelan diterpa angin, panen perdana itu terasa lebih dari sekadar hasil pertanian.
Ia adalah kisah tentang tanah yang pernah sepi, tentang pemuda yang menolak menyerah pada keadaan dan tentang keyakinan sederhana bahwa dari desa kecil yang sunyi, harapan besar masih bisa tumbuh.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
