KUPANG, BBC – Polres Kupang menorehkan capaian prestisius dengan berhasil menembus lima besar nasional Kompolnas Award 2026 kategori B.
Prestasi tersebut tidak semata-mata merepresentasikan keberhasilan institusi dalam sebuah kompetisi penghargaan, tetapi menjadi indikator atas upaya transformasi pelayanan kepolisian yang mengedepankan integritas, inovasi, akuntabilitas, serta pendekatan berbasis kearifan lokal.
Capaian Polres Kupang tersebut menjadi semakin signifikan karena proses penilaian dilakukan secara kompetitif dengan melibatkan 403 Polres dan 34 Polda se-Indonesia. Dari keseluruhan peserta tersebut, sebanyak 177 Polres berhasil masuk dalam nominasi untuk mengikuti tahapan penilaian lebih lanjut.
Polres Kupang kemudian mampu mempertahankan posisinya hingga masuk dalam lima besar nasional kategori B.
Penilaian tersebut dilakukan secara langsung oleh Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) bersama tim juri eksternal yang datang ke Polres Kupang untuk melihat secara faktual berbagai aspek penyelenggaraan tugas kepolisian, mulai dari inovasi, kualitas pelayanan publik, integritas kelembagaan hingga dampak program terhadap masyarakat.
Tim penilai dipimpin Mochammad Choirul Alam, S.H., dengan melibatkan unsur akademisi dan media mainstream.
Dalam proses tersebut turut hadir Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta serta perwakilan media Kompas, Sonya Helen Sinombor, S.H., M.H.
Kedatangan tim Kompolnas dan juri eksternal diterima langsung Kapolres Kupang AKBP Aditya Octorio Putra, S.I.K., bersama jajaran Polres Kupang.
Penyambutan berlangsung di kawasan Eko Wisata Tantya Sudirajati Polres Kupang dengan menghadirkan prosesi Natoni, salah satu bentuk ekspresi budaya masyarakat Timor.
Penggunaan Natoni dalam penyambutan tersebut bukan sekadar seremoni. Kehadiran unsur budaya lokal menjadi representasi pendekatan Polres Kupang dalam membangun hubungan kelembagaan dengan masyarakat melalui penghormatan terhadap identitas, nilai dan kearifan lokal.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa transformasi pelayanan kepolisian tidak selalu harus diwujudkan melalui teknologi atau modernisasi administratif semata. Dalam konteks masyarakat yang memiliki struktur sosial dan budaya yang kuat, pelayanan publik juga membutuhkan kemampuan institusi untuk memahami karakter masyarakat yang dilayaninya.
Kompolnas Gali Penilaian Masyarakat
Setelah prosesi penyambutan, kegiatan dilanjutkan dengan dialog bersama Forkopimda Kabupaten Kupang, tokoh masyarakat, tokoh agama, pemerhati sosial, serta berbagai elemen masyarakat.
Dialog tersebut turut dihadiri Wakil Bupati Kupang Aurum Obe Titu Eki, M.Ars.
Forum tersebut menjadi bagian penting dari proses penilaian karena tim Kompolnas dan juri eksternal tidak hanya mengandalkan pemaparan internal kepolisian. Mereka juga menggali pandangan para pemangku kepentingan mengenai kualitas pelayanan, inovasi, integritas, serta dampak kehadiran Polres Kupang di tengah masyarakat.
Dengan demikian, penilaian tidak berhenti pada bagaimana sebuah program dirancang, tetapi juga mempertimbangkan bagaimana program tersebut dipersepsikan, dirasakan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Kapolres Kupang AKBP Aditya Octorio Putra menyampaikan apresiasi atas kedatangan Kompolnas dan tim juri eksternal.
Menurutnya, penilaian dari pihak eksternal merupakan kesempatan bagi Polres Kupang untuk memperoleh perspektif objektif terhadap pelaksanaan pelayanan sekaligus menjadi bahan evaluasi untuk melakukan pembenahan secara berkelanjutan.
“Kami menyambut baik kedatangan tim Kompolnas dan tim penilai eksternal. Kami siap menerima masukan, arahan maupun evaluasi sebagai bahan untuk melakukan perbaikan dan meningkatkan pelayanan kepada masyarakat,” ungkap Kapolres.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa penghargaan tidak ditempatkan sebagai titik akhir, melainkan sebagai bagian dari proses evaluasi kelembagaan.
Inovasi Tidak Berhenti pada Administrasi
Dalam proses penilaian, Polres Kupang memaparkan sejumlah inovasi yang dikembangkan dalam berbagai sektor.
Program-program tersebut mencakup bidang pendidikan, ketahanan pangan, pemberdayaan masyarakat, kebencanaan, kearifan lokal, hingga transformasi pelayanan publik.
Salah satu program yang diperkenalkan adalah Polisi Peduli Pendidikan. Program tersebut merepresentasikan keterlibatan kepolisian dalam mendukung dunia pendidikan sekaligus membangun karakter generasi muda.
Polres Kupang juga mengembangkan Eko Wisata Tantya Sudirajati sebagai kawasan berbasis edukasi sekaligus ruang interaksi antara kepolisian dan masyarakat.
Konsep tersebut menjadi salah satu pendekatan untuk membangun relasi kepolisian yang lebih terbuka, komunikatif dan humanis.
Pada sektor ketahanan pangan, Polres Kupang menjalankan Program Pekarangan Pangan Bergizi dengan mendorong masyarakat memanfaatkan lahan secara produktif.
Program tersebut memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar pemanfaatan lahan. Ketahanan pangan pada tingkat masyarakat merupakan bagian dari upaya memperkuat kapasitas sosial dan ekonomi masyarakat sekaligus mendorong kemandirian.
Sementara itu, aspek kearifan lokal diwujudkan melalui inovasi transformasi air nira menjadi gula merah.
Program tersebut menunjukkan bagaimana potensi lokal dapat dikembangkan menjadi sumber nilai tambah bagi masyarakat. Pendekatan ini menempatkan kepolisian bukan hanya sebagai institusi penegakan hukum, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem pembangunan sosial masyarakat.
Sejumlah inovasi lainnya yang dipaparkan antara lain Polri Presisi Tanggap Bencana, Patroli Presisi Berbasis Data, serta Media Humas Terintegrasi.
Rangkaian program tersebut memperlihatkan adanya upaya untuk memperluas dimensi pelayanan kepolisian agar semakin adaptif terhadap kebutuhan masyarakat dan perkembangan lingkungan strategis.
Pelayanan Publik Diperiksa Langsung
Setelah dialog, tim Kompolnas bersama juri eksternal melakukan pemeriksaan langsung terhadap sejumlah unit pelayanan di Polres Kupang.
Pemeriksaan meliputi pelayanan Satuan Lalu Lintas, Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT), Satuan Reskrim hingga pelayanan Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK).
Pemeriksaan lapangan tersebut memiliki arti penting karena menjadi instrumen untuk memastikan kesesuaian antara inovasi yang dipaparkan dengan praktik pelayanan sehari-hari.
Dengan kata lain, keberhasilan sebuah program tidak cukup diukur dari kualitas konsep, tetapi harus dapat dibuktikan melalui implementasi yang konsisten.
Aspek tersebut menjadi semakin penting dalam perspektif tata kelola pemerintahan modern, ketika pelayanan publik dituntut untuk memenuhi prinsip efektivitas, transparansi, akuntabilitas, responsivitas dan kepastian pelayanan.
Selain inovasi, aspek integritas menjadi salah satu perhatian utama dalam proses penilaian.
Tim penilai memberikan perhatian terhadap tidak adanya catatan pelanggaran keuangan maupun catatan Propam serta pelanggaran lainnya yang menjadi bagian dari indikator penilaian.
Hal tersebut menunjukkan bahwa inovasi tanpa integritas tidak akan memiliki fondasi kelembagaan yang kuat.
Dalam institusi pelayanan publik, integritas merupakan modal utama untuk membangun kepercayaan masyarakat.
Kepercayaan tersebut pada akhirnya menjadi salah satu ukuran penting bagi legitimasi dan efektivitas pelayanan kepolisian.
Ketua tim penilai Mochammad Choirul Alam, S.H., memberikan apresiasi terhadap capaian Polres Kupang yang berhasil masuk dalam lima besar nasional Kompolnas Award 2026 kategori B.
Menurut tim penilai, capaian tersebut merupakan prestasi yang luar biasa mengingat Polres Kupang harus bersaing dengan ratusan Polres dari berbagai wilayah di Indonesia.
Capaian tersebut juga dinilai semakin berarti karena berbagai inovasi mampu dikembangkan dalam kondisi keterbatasan anggaran.
Masuknya Polres Kupang dalam lima besar nasional Kompolnas Award 2026 pada akhirnya memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar pencapaian kompetitif.
Prestasi tersebut menjadi cermin bahwa institusi kepolisian di daerah memiliki ruang untuk membangun inovasi pelayanan yang relevan dengan karakteristik masyarakat setempat.
Integrasi antara integritas, inovasi, pelayanan publik dan kearifan lokal menjadi kekuatan penting dalam membangun model kepolisian yang tidak berjarak dengan masyarakat.
Di sisi lain, capaian tersebut juga menghadirkan tanggung jawab baru.
Lima besar bukanlah garis akhir. Justru, capaian tersebut menjadi standar baru yang harus dipertahankan melalui konsistensi pelayanan, penguatan pengawasan internal, keterbukaan terhadap kritik, serta keberlanjutan program yang benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.
Pada akhirnya, penghargaan hanya menjadi simbol apabila tidak diikuti perubahan nyata dalam kualitas pelayanan.
Karena itu, keberhasilan Polres Kupang menembus lima besar nasional Kompolnas Award 2026 seharusnya dimaknai sebagai momentum untuk memperkuat kepercayaan publik.
Dari Natoni yang menyambut kedatangan tim penilai, inovasi ketahanan pangan, pendidikan dan kebencanaan, hingga pemeriksaan langsung ruang-ruang pelayanan publik, Polres Kupang menunjukkan sebuah pesan penting: bahwa wajah kepolisian modern tidak hanya dibangun melalui kewenangan, tetapi juga melalui integritas, inovasi, kedekatan dengan masyarakat dan penghormatan terhadap kearifan lokal.
Dengan fondasi tersebut, capaian lima besar nasional bukan sekadar penghargaan yang patut dibanggakan, melainkan amanah untuk memastikan bahwa setiap inovasi benar-benar berujung pada satu tujuan utama: pelayanan kepolisian yang semakin dekat, terbuka, responsif dan bermanfaat bagi masyarakat.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
