KUPANG, BBC — Bupati Kupang, Yosef Lede, menghadiri Ibadah Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Jemaat GMIT Efata Taninri’in–Tunbaun yang dirangkaikan dengan peletakan batu pertama pembangunan gedung gereja, sebuah momentum yang tidak hanya menandai dimulainya pembangunan secara fisik, tetapi juga merefleksikan perjalanan panjang pelayanan dan persekutuan jemaat.

Kehadiran Bupati Kupang dalam momentum tersebut menjadi bagian dari dukungan pemerintah terhadap kehidupan keagamaan sekaligus pembangunan fasilitas peribadatan di Kabupaten Kupang.

Perayaan HUT ke-81 Jemaat GMIT Efata Taninri’in–Tunbaun memiliki makna historis bagi jemaat. Delapan dekade lebih perjalanan pelayanan menjadi penanda keberlanjutan kehidupan bergereja, sekaligus ruang refleksi untuk memperkuat persekutuan, pelayanan, kesaksian, serta tanggung jawab bersama di tengah masyarakat.

Rangkaian kegiatan kemudian ditandai dengan peletakan batu pertama pembangunan gedung gereja. Secara simbolis, peletakan batu pertama tersebut menjadi titik awal bagi proses pembangunan yang membutuhkan keterlibatan berbagai unsur, baik jemaat, pemerintah maupun seluruh pihak yang memiliki kepedulian terhadap keberlangsungan pelayanan gereja.

Dalam momentum tersebut, Yosef Lede menyampaikan pesan yang menempatkan pembangunan gereja bukan semata-mata sebagai pekerjaan konstruksi, melainkan bagian dari proses membangun kehidupan jemaat yang kokoh dalam iman, persaudaraan dan pelayanan.

Pesan tersebut menjadi relevan karena pembangunan sebuah rumah ibadah pada hakikatnya tidak berhenti pada berdirinya bangunan secara fisik.

Lebih jauh, keberadaan gedung gereja diharapkan menjadi ruang yang mendukung pertumbuhan kehidupan rohani jemaat serta memperkuat fungsi gereja di tengah masyarakat.

Bagi Jemaat GMIT Efata Taninri’in–Tunbaun, momentum HUT ke-81 sekaligus peletakan batu pertama menghadirkan dua makna yang berjalan beriringan. Di satu sisi, jemaat mengenang perjalanan pelayanan selama 81 tahun. Di sisi lain, jemaat membuka lembaran baru melalui pembangunan fasilitas gereja yang diharapkan dapat menunjang kehidupan persekutuan pada masa mendatang.

Yosef Lede juga menempatkan kebersamaan sebagai salah satu fondasi penting dalam proses pembangunan. Sebab, pembangunan rumah ibadah tidak hanya membutuhkan sumber daya material, tetapi juga komitmen, gotong royong, kesatuan hati dan partisipasi seluruh jemaat.

Dalam perspektif pembangunan daerah, kehidupan keagamaan memiliki keterkaitan dengan pembentukan karakter masyarakat. Karena itu, dukungan terhadap pembangunan rumah ibadah dapat ditempatkan dalam kerangka yang lebih luas, yakni memperkuat ruang-ruang pembinaan moral, spiritual dan sosial masyarakat.

Momentum tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pembangunan Kabupaten Kupang tidak hanya berorientasi pada pembangunan infrastruktur publik, tetapi juga memberi perhatian terhadap kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat.

HUT ke-81 Jemaat GMIT Efata Taninri’in–Tunbaun akhirnya menjadi lebih dari sekadar agenda seremonial tahunan. Perayaan tersebut menjadi ruang untuk mengingat perjalanan pelayanan, memperkuat persaudaraan jemaat dan meneguhkan komitmen menuju masa depan.

Sementara peletakan batu pertama menjadi simbol dimulainya sebuah pekerjaan fisik, pesan yang menyertainya memberikan dimensi yang lebih luas: bahwa setiap pembangunan membutuhkan fondasi yang kuat, bukan hanya pada struktur bangunan, tetapi juga pada kebersamaan, iman dan tanggung jawab seluruh elemen jemaat.

Dengan demikian, batu pertama yang diletakkan dalam momentum HUT ke-81 Jemaat GMIT Efata Taninri’in–Tunbaun tidak hanya menjadi penanda awal pembangunan gedung gereja.

Ia juga menjadi simbol harapan agar perjalanan pelayanan jemaat terus bertumbuh dan memberi kontribusi bagi kehidupan masyarakat di Kabupaten Kupang.