Kupang, BBC – Mantan Bupati Kupang dua periode, Ayub Titu Eki yang juga dikenal luas sebagai akademisi dan tokoh masyarakat, kembali mengingatkan publik tentang bahaya laten korupsi.
Ia menegaskan bahwa pembangunan daerah tidak akan pernah maju apabila korupsi masih diberi ruang hidup, terutama ketika “ikan-ikan besar” pandai bersembunyi di balik “ikan-ikan kecil”.
“Saya secara pribadi menyatakan dukungan dan doa tulus untuk Kajari Yupiter Selan. Untuk memajukan daerah, semua harus bebas dari korupsi. Tanpa itu, mustahil ada kemajuan,” tegas Ayub kepada media ini, Kamis (2/10/2025)
Ayub memperkenalkan konsep metaforis yang sarat makna: “ikan halus, ikan kecil, ikan sedang, dan ikan besar.” Konsep ini, menurutnya, bukan merujuk pada status sosial seseorang, melainkan pada besaran nilai proyek bermasalah yang menjadi pintu masuk praktik korupsi.
“Puluhan juta itu ikan halus, ratusan juta itu ikan kecil, proyek bernilai satu hingga empat miliar adalah ikan sedang, sedangkan lima miliar ke atas itulah ikan besar,” jelasnya.
Lebih jauh, Ayub menekankan bahwa korupsi memiliki pola yang kompleks: ikan besar sering menyembunyikan diri di balik ikan kecil, bahkan menjadikan yang kecil sebagai tameng untuk mengalihkan perhatian penegak hukum.
“Kalau pola ini dibiarkan, korupsi tidak akan pernah habis dan daerah tidak akan pernah bangkit,” ujarnya.
Mantan bupati yang dikenal kritis ini menyinggung kasus Pisang Cavendish yang belakangan memicu perdebatan publik. Baginya, kasus tersebut adalah contoh klasik bagaimana elit politik maupun pelaku ekonomi besar kerap mengorbankan pihak kecil untuk menutupi kesalahan pihak yang lebih besar.
“Itu sebenarnya bukan sekadar soal ikan kecil. Ada ikan sedang, bahkan ikan besar, yang sengaja bersembunyi dan menjadikan ikan kecil sebagai tumbal. Inilah permainan kotor yang terus dipelihara oleh mereka yang haus keuntungan,” tegas Ayub.
Karena itu, ia mendesak Kajari Yupiter Selan untuk tidak berhenti pada permukaan. “Pak Kajari dan jajaran harus cerdik membaca peta permainan. Jangan sampai koruptor besar tetap aman, sementara yang kecil terus dijadikan kambing hitam,” pesannya.
Ayub juga menegaskan bahwa masyarakat Kabupaten Kupang sedang menunggu langkah tegas kejaksaan dalam penanganan sejumlah kasus. Menurutnya, publik menginginkan kejelasan, bukan sekadar proses panjang tanpa kepastian.
“Masyarakat sudah menanti lama. Jangan biarkan waktu memperpanjang ketidakpastian. Segera tetapkan tersangka pada kasus-kasus yang sudah didalami,” ungkapnya.
Ia lalu menambahkan, “Beta mohon, Pak Kajari jangan takut dan jangan gentar dengan permainan elit. Saya percaya, doa masyarakat bersama beliau. Dan saya yakin, Tuhan akan melindungi langkah yang benar.”
Dalam pernyataan reflektifnya, Ayub memberikan nasihat simbolis. Menurutnya, pemberantasan korupsi membutuhkan strategi yang tajam, penuh perhitungan dan berani mengambil risiko.
“Siapkan mata kael (kail) yang tajam dan umpan yang tepat. Hanya dengan begitu, ikan besar yang cerdik bisa ditarik keluar ke permukaan. Tanpa strategi, mereka akan terus bersembunyi di balik ikan kecil,” tuturnya.
Lebih jauh, Ayub menyinggung kasus Buraen Erbaun yang masih menunggu kepastian hukum. Menurutnya, kasus tersebut merupakan batu ujian bagi integritas lembaga penegak hukum di Kabupaten Kupang.
“Kasus Buraen Erbaun harus segera dituntaskan. Ini bukan hanya soal hukum, tapi juga soal kepercayaan publik. Jangan biarkan masyarakat menunggu terlalu lama,” katanya tegas.
Sebagai penutup, Ayub menegaskan bahwa keberanian Kajari Yupiter Selan dalam memberantas korupsi adalah modal penting bagi kemajuan Kabupaten Kupang. Baginya, dukungan moral dan doa masyarakat adalah kekuatan spiritual yang akan menopang langkah penegakan hukum.
“Saya mengapresiasi Pak Kajari. Beliau komitmen, beliau tegas. Masyarakat pun menaruh harapan besar dan doa tulus. Semua ini demi satu tujuan: agar daerah ini bersih dari korupsi, agar pembangunan benar-benar berpihak pada rakyat,” pungkas Ayub Titu Eki.
