KUPANG, BBC – Di balik hamparan perbukitan yang selama ini menjadi ruang hidup masyarakat Desa Passi, Kecamatan Fatuleu Tengah, Kabupaten Kupang, tersimpan sebuah kisah tentang ketabahan menghadapi bencana dan kepedulian yang lahir dari semangat kebersamaan.

Awal tahun 2026 menjadi masa yang tidak mudah bagi keluarga Yohanis Babu, warga RT 2 RW 1 Dusun I Desa Passi. Bencana longsor yang terjadi di sekitar lokasi tempat tinggalnya meninggalkan luka dan kekhawatiran yang mendalam. Material tanah yang runtuh membentuk longsoran dengan kedalaman lebih dari tiga meter, lebar sekitar 10 meter dan membentang sepanjang kurang lebih 200 meter.

Kondisi tersebut tidak hanya mengubah bentang alam di sekitar permukiman warga, tetapi juga menghadirkan ancaman nyata terhadap keselamatan keluarga yang tinggal di kawasan tersebut.

Bagi masyarakat pedesaan yang menggantungkan kehidupan pada lahan dan lingkungan tempat mereka tinggal, bencana alam bukan sekadar peristiwa geologis.

Bencana sering kali menghadirkan ketidakpastian, kecemasan, bahkan ancaman terhadap keberlangsungan hidup keluarga. Dalam situasi seperti itulah kehadiran pemerintah menjadi sangat penting, bukan hanya sebagai penyelenggara administrasi pemerintahan, tetapi juga sebagai penggerak solidaritas dan pelindung masyarakat.

Sebagai bentuk tanggung jawab sosial dan kepedulian terhadap warga yang terdampak, Pemerintah Desa Passi menyalurkan bantuan yang bersumber dari alokasi Dana Desa sebesar tiga persen yang diperuntukkan bagi penanganan keadaan darurat dan bantuan sosial kebencanaan.

Bantuan tersebut diserahkan secara langsung oleh Sekretaris Desa Passi, Jonri Paut pada 14 Februari 2026 di kediaman Yohanis Babu.

Mewakili Kepala Desa Passi, Jonri Paut mengatakan bahwa penyaluran bantuan tersebut merupakan bagian dari komitmen pemerintah desa untuk memastikan tidak ada warga yang menghadapi musibah seorang diri.

“Pemerintah desa memiliki kewajiban moral, sosial dan administratif untuk hadir ketika masyarakat mengalami kesulitan. Saat bencana terjadi, yang paling dibutuhkan warga bukan hanya bantuan materi, tetapi juga kepastian bahwa mereka tidak ditinggalkan. Kehadiran pemerintah harus benar-benar dirasakan oleh masyarakat,” ujar Jonri.

Menurutnya, bantuan yang diberikan mungkin belum mampu menggantikan seluruh kerugian maupun rasa khawatir yang dialami keluarga korban. Namun, bantuan tersebut diharapkan dapat menjadi bentuk dukungan awal yang membantu meringankan beban mereka.

“Kami memahami bahwa musibah ini memberikan tekanan yang tidak ringan bagi keluarga Bapak Yohanis Babu. Karena itu, pemerintah desa berupaya hadir dengan segala kemampuan yang dimiliki. Nilai bantuan mungkin terbatas, tetapi kepedulian dan perhatian yang menyertainya jauh lebih besar. Kami ingin memastikan bahwa keluarga yang terdampak tetap memiliki harapan dan semangat untuk bangkit,” katanya.

Jonri menjelaskan bahwa Dana Desa pada hakikatnya tidak hanya diarahkan untuk pembangunan infrastruktur fisik, tetapi juga memiliki fungsi strategis dalam memperkuat sistem perlindungan sosial masyarakat desa, terutama ketika warga menghadapi keadaan darurat akibat bencana alam.

“Pembangunan bukan hanya soal membangun jalan, drainase, atau fasilitas umum. Pembangunan juga berbicara tentang melindungi manusia. Ketika ada warga yang mengalami musibah, maka di situlah pembangunan harus hadir dalam bentuk kepedulian dan perlindungan sosial,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa pemerintah desa terus melakukan pemantauan terhadap lokasi longsor karena kondisi geografis wilayah tersebut masih berpotensi mengalami pergerakan tanah, terutama saat intensitas hujan meningkat.

“Keselamatan masyarakat adalah prioritas utama. Kami terus memantau perkembangan kondisi lapangan dan mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Bencana alam sering datang tanpa peringatan yang cukup, sehingga kesiapsiagaan menjadi hal yang sangat penting,” ungkapnya.

Lebih jauh, Jonri mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menumbuhkan kembali semangat gotong royong yang selama ini menjadi kekuatan utama kehidupan sosial di desa.

“Musibah yang dialami satu keluarga sejatinya adalah keprihatinan bersama. Kami percaya bahwa nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong yang hidup dalam masyarakat kita masih sangat kuat. Karena itu, kami mengajak semua pihak untuk saling membantu sesuai kemampuan masing-masing. Sekecil apa pun bantuan yang diberikan akan sangat berarti bagi keluarga yang sedang menghadapi cobaan,” tuturnya.

Menurut Jonri, solidaritas sosial merupakan modal penting dalam membangun ketahanan masyarakat terhadap bencana. Pemerintah desa dapat menjalankan fungsi pelayanan publik, tetapi kekuatan sesungguhnya lahir ketika masyarakat saling menguatkan dan bergandengan tangan membantu sesama.

“Kami berharap perhatian dan kepedulian dari berbagai pihak dapat terus mengalir kepada keluarga yang terdampak. Bencana tidak boleh membuat seseorang merasa sendirian. Justru dalam situasi seperti inilah nilai kemanusiaan diuji dan ditunjukkan melalui tindakan nyata,” katanya.

Sementara itu, Yohanis Babu menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada Pemerintah Desa Passi yang telah memberikan perhatian kepada keluarganya di tengah situasi yang penuh ketidakpastian.

Bagi dirinya, bantuan tersebut bukan hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga menjadi bukti bahwa masih ada kepedulian yang hadir ketika musibah datang menghampiri.

Penyaluran bantuan ini menjadi cerminan bahwa Dana Desa dapat berfungsi sebagai instrumen pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada aspek fisik, tetapi juga pada dimensi kemanusiaan. Di tengah ancaman longsor yang masih membayangi, langkah cepat Pemerintah Desa Passi menjadi pesan kuat bahwa pembangunan desa yang sejati bukan sekadar membangun infrastruktur, melainkan juga menjaga martabat, harapan, dan keberlangsungan hidup masyarakatnya.

Kini, keluarga Yohanis Babu masih membutuhkan perhatian dan dukungan dari berbagai pihak. Sebab di balik angka-angka kerusakan yang tercatat, terdapat sebuah keluarga yang sedang berjuang mempertahankan rasa aman, menata kembali kehidupan dan menumbuhkan harapan di tengah bekas luka yang ditinggalkan oleh bencana alam.