KUPANG, BBC – Kemajuan sebuah bangsa sesungguhnya tidak bermula dari megahnya gedung pemerintahan ataupun tingginya bangunan perkotaan.
Peradaban lahir dari ruang-ruang kelas yang sederhana, tempat anak-anak belajar mengeja harapan, menata cita-cita dan menumbuhkan keyakinan bahwa masa depan dapat diubah melalui ilmu pengetahuan. Karena itu, setiap langkah yang berpihak kepada pendidikan pada hakikatnya adalah langkah yang sedang menanam kehidupan bagi generasi yang akan datang.
Kesadaran itulah yang tercermin dalam kunjungan Anggota DPRD Kabupaten Kupang Daerah Pemilihan II dari Fraksi PSI, Feteaser Demitrius Tafetin, yang akrab disapa Aser Tafetin, ketika menyambangi UPTD SDN Ajaobonet, Desa Tanini, Kecamatan Takari, Jumat (17/7/2026).
Sebagai putra asli Fatuleu, Aser memilih meninggalkan kenyamanan ruang kerja dan hadir di tengah masyarakat. Baginya, seorang wakil rakyat tidak cukup memahami persoalan hanya melalui laporan tertulis ataupun pembahasan di ruang rapat.
Kehadiran di lapangan merupakan bentuk penghormatan terhadap amanat rakyat sekaligus jalan untuk memahami kenyataan sebagaimana adanya.
Di sekolah yang berdiri sederhana itu, Aser tidak datang untuk menjadi pusat perhatian. Ia lebih banyak memilih diam. Tatapannya menyusuri ruang-ruang belajar yang menjadi saksi lahirnya mimpi-mimpi anak desa, sementara telinganya setia mendengarkan setiap suara yang selama ini mungkin jarang memperoleh ruang untuk didengar.
Masyarakat menyampaikan berbagai harapan dan pergumulan yang mereka hadapi dalam memperjuangkan pendidikan anak-anak mereka. Dialog yang berlangsung tanpa kemewahan itu justru menghadirkan makna yang mendalam. Sebab, setiap keluhan yang terucap bukan sekadar rangkaian kata, melainkan cermin dari perjuangan orang tua yang mendambakan masa depan yang lebih baik bagi putra-putri mereka.
Suasana sederhana itu perlahan berubah menjadi ruang kontemplasi. Di balik dinding sekolah yang bersahaja, tersimpan semangat besar yang tidak pernah menyerah kepada keadaan.
Anak-anak tetap belajar dengan mata yang penuh harapan, sementara para guru terus mengabdikan diri dengan keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan paling mulia untuk memutus rantai keterbatasan.
Kepada media ini, Aser Tafetin mengaku kunjungannya meninggalkan kesan yang sangat mendalam dalam batinnya.
“Saya sungguh terharu mendengar secara langsung apa yang disampaikan masyarakat. Ketika kita hadir sendiri, kita dapat melihat kenyataan yang sesungguhnya. Pendidikan bukan semata-mata berbicara tentang bangunan sekolah, melainkan tentang harapan anak-anak yang setiap pagi datang membawa mimpi untuk mengubah masa depan mereka,” ungkapnya.
Menurut Aser, kesederhanaan bukanlah penghalang bagi lahirnya generasi unggul. Sejarah membuktikan bahwa banyak tokoh besar justru ditempa oleh keterbatasan, bukan oleh kemewahan.
Ruang kelas yang sederhana sering kali melahirkan pribadi-pribadi yang memiliki ketangguhan, daya juang, serta karakter yang kokoh dalam menghadapi kehidupan.
“Saya percaya bahwa dari ruang kelas yang sederhana akan lahir anak-anak hebat. Mereka sedang belajar menjadi pribadi yang kuat, belajar memelihara harapan dan suatu hari nanti merekalah yang akan membangun Kabupaten Kupang. Oleh karena itu, pendidikan harus menjadi tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah, melainkan seluruh elemen masyarakat,” katanya.
Aser menegaskan bahwa amanat sebagai wakil rakyat tidak boleh dimaknai sebatas menghadiri sidang atau menyusun kebijakan. Lebih dari itu, amanah tersebut menuntut keberanian untuk hadir, mendengar dan memperjuangkan setiap aspirasi masyarakat agar benar-benar memperoleh perhatian dalam proses perencanaan pembangunan daerah.
“Sebagai wakil rakyat, saya memiliki tanggung jawab moral untuk berada bersama masyarakat. Apa yang saya dengar hari ini akan menjadi dasar bagi saya untuk menjalankan fungsi pengawasan sekaligus memperjuangkan kebutuhan dunia pendidikan melalui pembahasan kebijakan dan anggaran di DPRD Kabupaten Kupang,” tegasnya.
Ia juga mengajak seluruh pemangku kepentingan menjadikan pendidikan sebagai gerakan kolektif.
Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh pemerintah ataupun sekolah, melainkan juga oleh keluarga, masyarakat, lembaga keagamaan, dunia usaha dan seluruh komponen bangsa yang memiliki kepedulian terhadap masa depan generasi muda.
Secara filosofis, pendidikan merupakan proses memanusiakan manusia. Ia bukan sekadar sarana mentransfer ilmu pengetahuan, melainkan ruang pembentukan karakter, integritas, etika dan kebijaksanaan.
Setiap buku yang dibuka, setiap pelajaran yang diajarkan dan setiap perhatian yang diberikan kepada seorang anak sesungguhnya adalah benih peradaban yang kelak akan tumbuh menjadi pohon kehidupan bagi daerah dan bangsa.
Kunjungan Aser Tafetin ke SDN Ajaobonet menjadi pengingat bahwa kepemimpinan yang bermakna lahir dari kerendahan hati untuk mendengar sebelum berbicara, memahami sebelum memutuskan dan merasakan sebelum bertindak.
Dalam perspektif tata kelola pemerintahan yang demokratis, kehadiran seorang wakil rakyat di tengah masyarakat bukan sekadar simbol kedekatan, melainkan manifestasi nyata dari prinsip pemerintahan yang responsif, partisipatif dan berorientasi pada kebutuhan rakyat.
Di tengah berbagai tantangan pembangunan pendidikan, langkah sederhana yang ditempuh Aser menyampaikan pesan yang begitu dalam: masa depan tidak selalu dibangun dari tempat-tempat yang megah.
Ia sering kali bertumbuh dari ruang kelas kecil di pelosok desa, dari bangku-bangku kayu yang sederhana, dari tangan-tangan guru yang setia mengabdi dan dari mata anak-anak yang tetap berbinar meskipun hidup dalam keterbatasan.
Sebab, ketika seorang anak tetap berani bermimpi di tengah segala kekurangan, sesungguhnya harapan belum pernah meninggalkan negeri ini. Dan ketika masih ada wakil rakyat yang memilih datang untuk mendengar daripada sekadar berbicara, harapan itu akan terus menemukan jalannya menuju masa depan yang lebih bermartabat bagi Kabupaten Kupang.
