Kupang, BBC — Pada pagi yang bening, 24 November 2025, Aula Kantor Bupati Kupang menjadi ruang perjumpaan intelektual, tempat 87 guru dari 24 kecamatan berkumpul dalam hening yang penuh harapan.
Bupati Kupang, Yosef Lede secara resmi membuka Lomba Cerdas-Cermat, Lomba Mengajar dan Lomba Paduan Suara Antar Guru se-Kabupaten Kupang dalam rangka memperingati HUT ke-80 PGRI dan Hari Guru Nasional 2025.
Di tengah riuh rendah semangat, terdapat 19 peserta Lomba Mengajar dan 68 peserta Lomba Cerdas-Cermat dari 17 tim, didampingi dua juri akademis dari Dinas Pendidikan Kota Kupang—Marthen Boboy, S.Pd., M.Pd. dan Naomi Dilak, S.Pd., M.Pd.
Dalam sambutan yang tegas namun bersahaja, Bupati Kupang Yosef Lede menyampaikan apresiasi mendalam kepada para guru.
Ia tidak sekadar memuji, melainkan mengajak mereka merenungkan kembali makna profesi yang mereka emban—sebuah profesi yang memahat masa depan bangsa dengan sentuhan kesabaran dan ketekunan.
“Jadilah guru-guru yang hebat. Kalau guru hebat, masa depan bangsa akan baik,” ucapnya, menghadirkan nuansa ajakan sekaligus doa.
Bupati Lede, yang menyebut dirinya sebagai “produk pendidikan”, menegaskan bahwa kompetisi seperti ini bukan hanya panggung pertandingan, melainkan laboratorium karakter, tempat mental diuji dan kualitas dimurnikan.
“Kadang seseorang punya kemampuan, tetapi tidak punya mental. Ketika mental tidak siap, kualitas tidak akan muncul,” tegasnya—sebuah refleksi yang terasa seperti nasihat lama yang tak lekang oleh waktu.
Dengan suara yang mantap, Bupati Lede menegaskan bahwa PGRI harus bergerak sebagai pionir, bukan sekadar organisasi yang menghimpun. Objektivitas juri pun ditegaskan sebagai syarat moral, bukan hanya teknis.
“Yang menang harus diberikan kepada yang terbaik. Juri harus objektif dan sportif,” ujarnya, seolah meneguhkan keadilan sebagai dasar dari setiap pembelajaran.
Baginya, kompetisi bukan sekadar gelanggang mencari juara, tetapi sebuah ruang kontemplasi, tempat guru saling belajar, saling menguatkan dan saling memperkaya pendekatan pedagogik.
Ketua PGRI Kabupaten Kupang, Ribka R. Kekado dalam sambutannya menyampaikan terima kasih atas dukungan Pemerintah Kabupaten Kupang.
Ia menginformasikan bahwa puncak perayaan HUT PGRI tingkat provinsi akan digelar pada 27 November 2025.
Ribka menuturkan tujuan dari berbagai lomba yang diadakan—tujuan yang tak semata administratif, tetapi berjiwa.
“Ini ajang kompetisi sehat antar guru, memperteguh persatuan dan memperkuat kompetensi pedagogik serta profesional,” ungkapnya, dengan nada yang terdengar seperti jalinan harapan bagi masa depan pendidikan Kupang.
Ia menegaskan bahwa inovasi adalah denyut nadi seorang guru; kompetisi adalah ruang yang mempercepat tumbuhnya kreativitas..
Dengan semangat yang menyala, kegiatan ini menjadi bukti bahwa Kabupaten Kupang terus menata kualitas guru melalui upaya nyata, bukan sekadar wacana.
Para guru—yang sehari-hari menjadi pengukir masa depan murid—kini menguji diri mereka di hadapan juri, rekan sejawat dan nurani profesional mereka sendiri.
Kompetisi ini diharapkan bukan hanya memunculkan juara, tetapi juga menyalakan kembali api dedikasi, memperhalus kualitas mengajar dan menguatkan karakter profesional yang tangguh.
Kegiatan ditutup dengan harapan yang mengalun lembut:
bahwa guru-guru Kupang akan terus menjadi teladan unggul, pengarah langkah generasi muda dan penjaga cahaya pengetahuan yang tak pernah padam.
