KUPANG, BBC – Dalam khazanah ilmu kepemimpinan, terdapat satu prinsip yang selalu melampaui batas ruang dan waktu: jabatan adalah amanah yang bersifat sementara, sedangkan pengabdian merupakan nilai kemanusiaan yang bersifat abadi.

Kekuasaan dapat berakhir ketika masa bakti usai, namun keteladanan akan tetap hidup selama manfaatnya masih dirasakan oleh masyarakat. Sejarah tidak semata-mata mengingat siapa yang pernah memimpin, melainkan siapa yang mampu meninggalkan jejak pengabdian yang mengubah kehidupan rakyat menjadi lebih baik.

Atas dasar pemikiran tersebut, kehadiran Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memperoleh apresiasi dari berbagai kalangan.

Bagi sebagian masyarakat, kunjungan tersebut tidak hanya dipahami sebagai perjalanan seorang mantan kepala negara, melainkan sebagai simbol keberlanjutan kepedulian terhadap masyarakat yang selama ini menjadi fondasi utama pembangunan nasional.

Apresiasi tersebut disampaikan Feteaser Demitrius Tafetin, Anggota DPRD Kabupaten Kupang dari Fraksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI), saat memberikan keterangan kepada media pada Jumat, 31 Juli 2026.

Menurut Feteaser, kehadiran Jokowi di NTT tidak layak dimaknai sebagai sekadar agenda seremonial ataupun upaya membangun popularitas politik. Sebaliknya, kunjungan tersebut mencerminkan karakter kepemimpinan yang berakar pada nilai-nilai kemanusiaan, empati sosial dan keberpihakan terhadap masyarakat.

“Ini bukan pencitraan. Inilah ciri khas seorang pemimpin yang benar-benar mencintai rakyat. Pengabdian tidak berhenti ketika jabatan berakhir, tetapi terus diwujudkan melalui perhatian dan kepedulian kepada masyarakat,” tegas Feteaser.

Dalam perspektif administrasi publik dan tata kelola pemerintahan modern, legitimasi seorang pemimpin tidak hanya dibangun melalui kewenangan konstitusional yang dimiliki selama menjabat. Lebih dari itu, legitimasi moral lahir dari konsistensi tindakan, integritas pribadi, rekam jejak kebijakan, serta kemampuan membangun hubungan emosional dengan masyarakat yang dipimpinnya.

Atas dasar itulah, Feteaser menilai tidak mengherankan apabila hingga kini Jokowi masih memperoleh sambutan hangat di berbagai daerah yang dikunjunginya.

Menurutnya, penghormatan masyarakat merupakan akumulasi dari pengalaman kolektif selama dua periode kepemimpinan Jokowi yang dikenal aktif turun langsung ke lapangan, mendengar aspirasi rakyat dan memastikan kebijakan negara hadir menyentuh kebutuhan masyarakat hingga ke pelosok negeri.

Baginya, kedekatan seorang pemimpin dengan rakyat tidak dapat direkayasa melalui narasi komunikasi semata. Kedekatan tersebut lahir dari konsistensi, kehadiran dan keberanian menyaksikan secara langsung denyut kehidupan masyarakat.

Dalam kunjungannya ke Kabupaten Kupang, Jokowi memilih mendatangi wilayah Kupang Barat untuk menyaksikan secara langsung aktivitas para petani rumput laut. Pilihan tersebut dinilai Feteaser bukan tanpa makna.

Menurutnya, seorang pemimpin besar tidak selalu meninggalkan pesan melalui pidato yang panjang ataupun seremoni yang megah. Sering kali, pesan paling kuat justru lahir dari langkah sederhana yang menunjukkan keberpihakan kepada masyarakat kecil yang selama ini menjadi penyangga ekonomi bangsa.

“Kehadiran beliau di tengah para petani rumput laut menunjukkan bahwa perhatian terhadap ekonomi kerakyatan tetap menjadi prioritas. Beliau ingin melihat bagaimana masyarakat bekerja, memperoleh penghasilan dan bagaimana kehidupan mereka dapat berkembang menjadi lebih baik,” katanya.

Feteaser menjelaskan bahwa paradigma pembangunan modern menempatkan manusia sebagai pusat dari seluruh proses pembangunan (people-centered development). Oleh karena itu, keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur dari bertambahnya infrastruktur fisik ataupun megahnya bangunan pemerintahan, tetapi harus tercermin pada meningkatnya kualitas hidup masyarakat.

Menurutnya, jalan yang baik, gedung yang megah, maupun fasilitas publik yang lengkap hanya akan memiliki makna apabila mampu menghadirkan kesejahteraan yang nyata.

Pembangunan dikatakan berhasil ketika masyarakat memiliki pekerjaan yang layak, memperoleh penghasilan yang memadai, mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga jenjang yang lebih tinggi, mengakses pelayanan kesehatan yang berkualitas, serta memiliki harapan yang semakin besar terhadap masa depan.

Feteaser yang juga merupakan putra Fatuleu dan anggota DPRD Kabupaten Kupang yang membidangi sektor pendidikan menilai bahwa investasi terbesar sebuah bangsa bukan hanya pembangunan fisik, melainkan pembangunan manusia.

Pendidikan, pemberdayaan ekonomi dan keberpihakan terhadap masyarakat kecil harus menjadi fondasi utama dalam mewujudkan pembangunan yang berkeadilan dan berkelanjutan.

Dalam pandangannya, seorang pemimpin sejati tidak pernah mengukur keberhasilan dari seberapa lama ia menduduki kursi kekuasaan, melainkan dari seberapa banyak kehidupan masyarakat yang berubah menjadi lebih baik karena kebijakan dan keteladanannya.

“Pemimpin sejati adalah mereka yang tetap hadir ketika rakyat membutuhkan perhatian. Jabatan hanyalah amanah yang memiliki batas waktu, tetapi pengabdian adalah panggilan moral yang tidak pernah mengenal masa akhir,” ujarnya.

Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memandang setiap kunjungan tokoh nasional secara objektif, rasional, dan proporsional sebagai bagian dari kehidupan demokrasi yang sehat.

Menurutnya, setiap perhatian terhadap daerah patut diapresiasi selama memberikan manfaat nyata, memperkuat ekonomi masyarakat, serta mendorong percepatan pembangunan yang inklusif.

Lebih jauh, Feteaser berharap semangat kepedulian yang ditunjukkan Jokowi dapat menjadi inspirasi bagi para pemimpin di semua tingkatan pemerintahan. Baginya, kepemimpinan yang berkualitas adalah kepemimpinan yang tidak menciptakan jarak dengan rakyat, melainkan membangun ruang dialog, mendengar suara masyarakat secara langsung, dan menghadirkan kebijakan yang berpihak pada kepentingan publik.

Pada akhirnya, sejarah akan selalu menempatkan setiap pemimpin pada lembar penilaiannya sendiri. Kekuasaan akan berhenti ketika waktu menutup masa jabatan, tetapi keteladanan akan terus hidup dalam ingatan masyarakat.

Sebab rakyat tidak selalu mengingat siapa yang paling lama berkuasa, melainkan siapa yang paling tulus berjalan bersama mereka ketika harapan terasa jauh dan kehidupan membutuhkan uluran perhatian.

Di tanah Nusa Tenggara Timur, kunjungan Jokowi dipandang sebagian masyarakat bukan sekadar perjalanan seorang mantan Presiden. Ia dimaknai sebagai pengingat bahwa pemimpin yang baik bukan hanya hadir ketika memiliki kewenangan, tetapi juga ketika hatinya masih terpaut pada denyut kehidupan rakyat.

Di sanalah letak makna terdalam sebuah pengabdian—bahwa cinta kepada rakyat tidak berakhir bersama jabatan, melainkan terus hidup melalui karya, keteladanan dan jejak-jejak kebaikan yang diwariskan kepada bangsa.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.