KUPANG, BBC – Ada pesan yang kadang lebih kuat daripada pidato panjang. Pesan itu lahir dari sebuah sikap sederhana: duduk sejajar, mendengar dengan hati dan menghargai sesama tanpa sekat jabatan.
Pemandangan penuh makna itu terlihat di lobi lantai dua Kantor Bupati Kupang di Oelamasi, Senin (22/6/2026), ketika Wakil Bupati Kupang, Aurum Obe Titu Eki, yang juga menjabat sebagai Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Kupang, memilih duduk bersama para perempuan pengrajin tenun dari berbagai wilayah di Kabupaten Kupang.
Tidak ada jarak yang dibangun. Tidak ada sekat antara pemimpin dan rakyatnya. Aurum duduk sejajar bersama para ibu penenun, berbincang hangat, mendengarkan cerita, sekaligus memberikan perhatian terhadap hasil karya yang selama ini menjadi identitas budaya masyarakat Kabupaten Kupang.
Momen tersebut menjadi gambaran nyata bahwa pembangunan daerah tidak hanya berbicara tentang infrastruktur, angka pertumbuhan ekonomi, atau berbagai program pemerintah.
Pembangunan yang sejati juga berbicara tentang penghormatan terhadap manusia, budaya dan kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun oleh leluhur kepada generasi penerus.
Para ibu penenun selama ini merupakan penjaga warisan budaya yang memiliki nilai sejarah, ekonomi dan sosial yang sangat tinggi.
Melalui tangan-tangan mereka lahir berbagai motif tenun yang tidak sekadar menjadi produk kerajinan, tetapi juga merekam identitas, perjalanan sejarah, filosofi hidup dan nilai-nilai luhur masyarakat Timor.
Kehadiran Wakil Bupati Kupang di tengah para pengrajin tenun menunjukkan komitmen Pemerintah Kabupaten Kupang dalam memberikan ruang yang lebih besar bagi pemberdayaan perempuan sekaligus pengembangan ekonomi kreatif yang bertumpu pada kekuatan budaya lokal.
Di tengah arus globalisasi dan modernisasi yang terus bergerak cepat, keberadaan para penenun menjadi benteng penting dalam menjaga jati diri daerah.
Kain tenun bukan sekadar lembaran benang yang dirajut menjadi kain, melainkan karya budaya yang menyimpan nilai kehidupan, kesabaran, ketekunan, penghormatan kepada leluhur, serta kecintaan terhadap tanah kelahiran.
Lebih dari itu, momen sederhana tersebut menjadi pesan moral yang sangat berharga bagi kaum muda di Pulau Timor, khususnya generasi muda Kabupaten Kupang. Di saat banyak anak muda tumbuh dalam era digital yang serba cepat dan dipengaruhi berbagai budaya dari luar, mereka perlu memahami bahwa kemajuan tidak boleh membuat seseorang kehilangan identitas budayanya sendiri.
Budaya bukanlah sesuatu yang kuno untuk ditinggalkan, melainkan akar yang menjaga sebuah masyarakat tetap berdiri kokoh menghadapi perubahan zaman. Tenun, bahasa daerah, adat istiadat, nilai gotong royong dan penghormatan kepada orang tua merupakan kekayaan yang tidak ternilai harganya.
Karena itu, generasi muda Timor diajak untuk terus mencintai, mempelajari dan melestarikan budaya yang diwariskan oleh para leluhur. Sebab suatu bangsa atau daerah akan kehilangan arah ketika generasinya mulai melupakan sejarah dan budayanya sendiri.
Sikap Aurum Obe Titu Eki yang memilih duduk sejajar bersama para penenun menghadirkan pesan kuat bahwa budaya harus dihormati, bukan hanya melalui kata-kata, tetapi melalui tindakan nyata.
Kepemimpinan yang baik bukan hanya membangun gedung dan jalan, melainkan juga menjaga nilai-nilai yang menjadi roh kehidupan masyarakat.
Bagi para ibu penenun, perhatian seperti ini menjadi bentuk penghargaan yang sangat berarti. Sebab di balik setiap helai kain yang mereka hasilkan, terdapat perjuangan panjang menjaga tradisi, membantu ekonomi keluarga, sekaligus mewariskan identitas budaya kepada generasi berikutnya.
Momen sederhana di lobi Kantor Bupati Kupang itu pada akhirnya menjadi lebih dari sekadar pertemuan biasa. Ia menjelma menjadi simbol penghormatan terhadap perempuan, budaya dan kerja keras masyarakat yang selama ini turut menopang pembangunan daerah.
Ketika seorang pemimpin memilih duduk sejajar dengan rakyatnya, sesungguhnya yang sedang dibangun bukan hanya komunikasi, melainkan kepercayaan. Dan ketika seorang pemimpin memberi penghormatan kepada budaya, sesungguhnya ia sedang menanamkan kesadaran kepada generasi muda bahwa kemajuan dan modernitas harus berjalan beriringan dengan pelestarian identitas.
Sebab Pulau Timor tidak hanya dikenal karena bentang alamnya yang indah, tetapi juga karena budaya yang kaya dan diwariskan dengan penuh pengorbanan dari generasi ke generasi.
Jangan pernah malu menjadi anak Timor. Jangan pernah lupa budaya sendiri. Karena di dalam budaya itulah tersimpan jati diri, harga diri dan masa depan yang akan terus hidup sepanjang zaman.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
