KUPANG, BBC — Di tengah kunjungan peninjauan infrastruktur rusak di wilayah Amfoang Barat Daya, Kabupaten Kupang, sebuah kalimat sederhana dari Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, justru menjadi momen paling membekas di hati masyarakat.

“Ibu duduk… nggak boleh gendong. Ibu mau duduk, kursi saya kosong.”

Kalimat spontan itu diucapkan Gibran saat melihat seorang ibu hamil masih berdiri di tengah kerumunan warga ketika dirinya berdialog bersama masyarakat Desa Manubelon, Jumat (22/5/2026).

Tidak ada seremoni besar pada momen itu. Tidak ada pula pidato panjang yang dirancang secara protokoler. Namun perhatian kecil yang lahir secara spontan tersebut menghadirkan suasana haru di tengah masyarakat Amfoang yang selama bertahun-tahun hidup dalam keterisolasian akibat rusaknya infrastruktur jalan dan jembatan.

Saat itu, Gibran sedang memegang mikrofon dan mendengarkan berbagai aspirasi masyarakat mengenai kondisi jalan rusak, jembatan putus, kesulitan air bersih, hingga akses pelayanan dasar yang terbatas di kawasan perbatasan Kabupaten Kupang.

Di tengah warga yang berdiri berdesakan di bawah terik matahari, perhatian Gibran tertuju kepada seorang perempuan hamil yang tetap berdiri mengikuti jalannya kegiatan.

Perempuan tersebut diketahui bernama Atri Tosi, tenaga PPPK yang bertugas di UPTD Puskesmas Manubelon. Meski sedang mengandung, ia tetap hadir bersama masyarakat demi menyaksikan langsung kunjungan Wakil Presiden dan menyampaikan harapan akan perubahan bagi daerahnya.

Melihat kondisi itu, Gibran langsung menghentikan pembicaraannya sejenak lalu mempersilakan Atri duduk di kursi yang sebelumnya telah disiapkan untuk dirinya.

“Ibu duduk… Nggak boleh gendong. Ibu mau duduk, kursi saya kosong,” ujar Gibran spontan.

Sementara Atri duduk perlahan dengan wajah haru, Gibran memilih tetap berdiri selama kegiatan berlangsung.

Suasana mendadak berubah hening.
Beberapa warga terlihat menundukkan kepala, sementara yang lain tampak berkaca-kaca menyaksikan momen yang sangat sederhana namun penuh nilai kemanusiaan itu.

Di tengah penderitaan panjang akibat buruknya akses pembangunan, perhatian kecil tersebut terasa begitu besar bagi masyarakat Amfoang.

Bagi masyarakat kota, kursi mungkin hanyalah benda biasa. Namun bagi warga di wilayah terpencil yang selama ini merasa jauh dari perhatian negara, tindakan sederhana seorang pemimpin yang rela berdiri demi menghormati ibu hamil menghadirkan rasa dihargai sebagai manusia.

Di kawasan Amfoang, persoalan infrastruktur bukan sekadar isu pembangunan fisik. Rusaknya Jembatan Termanu dan Jembatan Manubelon telah menyebabkan sejumlah wilayah mengalami keterisolasian cukup lama.

Anak-anak harus melewati jalan rusak untuk menuju sekolah. Warga sakit kesulitan mendapatkan pelayanan kesehatan. Distribusi kebutuhan pokok terhambat, sementara masyarakat harus mempertaruhkan keselamatan ketika melintasi akses jalan yang rusak dan berlumpur.

Bagi tenaga kesehatan seperti Atri Tosi, kenyataan itu bukan cerita yang didengar dari orang lain, melainkan kehidupan yang dijalani setiap hari. Dalam kondisi hamil sekalipun, ia tetap menjalankan tugas pelayanan kesehatan di wilayah terpencil dengan segala keterbatasan yang ada.

Karena itu, momen ketika seorang Wakil Presiden mempersilahkannya duduk dengan penuh hormat menghadirkan rasa emosional yang begitu mendalam bagi masyarakat yang hadir.

Secara sosial dan akademis, tindakan spontan tersebut memiliki makna simbolik yang kuat. Kepemimpinan tidak hanya diukur melalui pembangunan fisik dan kebijakan besar, tetapi juga melalui sensitivitas sosial, penghormatan terhadap martabat manusia dan kemampuan menghadirkan empati kepada masyarakat kecil.

Dalam budaya masyarakat timur, penghormatan kepada ibu hamil memiliki nilai moral dan kemanusiaan yang sangat tinggi. Ibu hamil dipandang sebagai simbol kehidupan, harapan dan masa depan generasi. Karena itu, tindakan sederhana yang dilakukan Gibran dianggap mencerminkan penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang hidup dalam masyarakat.

Di tengah pembahasan serius mengenai jalan rusak, jembatan roboh, dan keterisolasian wilayah perbatasan, masyarakat Amfoang justru pulang membawa kenangan tentang sebuah tindakan kecil yang begitu manusiawi.

Sebab pada hari itu, di sebuah desa terpencil yang lama hidup dalam keterbatasan, seorang Wakil Presiden memilih berdiri agar seorang ibu hamil tidak terus berdiri menahan lelahnya.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.