KUPANG, BBC — Jalan berbatu yang membelah perbukitan, jaringan internet yang nyaris tak tersentuh, listrik yang masih terbatas, hingga ruang belajar sederhana yang berdiri sunyi di tengah pegunungan, masih menjadi wajah pendidikan di sejumlah wilayah terpencil Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Namun di tengah keterbatasan yang nyaris memisahkan anak-anak desa dari arus kemajuan zaman itu, harapan belum benar-benar padam.
Di SD Negeri 2 Nainifo, sebuah sekolah kecil di kawasan terisolir Amfoang, secercah harapan kembali hadir melalui program pengiriman guru relawan oleh CT Arsa Foundation.
Program tersebut menjadi bagian dari pendampingan pendidikan jangka panjang yang kini difokuskan pada wilayah-wilayah terpencil dengan akses pendidikan yang masih tertinggal.
Head of Remote Area CT Arsa Foundation, Didi Putri, mengatakan pendampingan di SDN 2 Nainifo sebenarnya telah dimulai sejak sekitar empat tahun lalu dalam bentuk asesmen kebutuhan sekolah.
Namun sejak pertengahan Mei 2026, yayasan tersebut mulai menempatkan guru relawan yang akan tinggal dan mengabdi langsung di wilayah itu selama satu tahun penuh
“Kali ini kami sudah masuk pada tahap penempatan guru relawan. Nantinya relawan akan berganti setiap tahun dan setiap sekolah ditargetkan mendapat pendampingan selama lima tahun,” ujar Didi.
Menurutnya, sekolah-sekolah kecil di daerah terisolir tetap menjadi prioritas karena anak-anak di wilayah seperti itu sering kali menjadi kelompok yang paling sulit memperoleh akses pendidikan yang layak dan berkeadilan.
Pendampingan yang dilakukan tidak hanya berfokus pada kegiatan belajar mengajar, tetapi juga menyentuh pembangunan fasilitas dasar pendidikan.
Di sejumlah daerah tanpa aliran listrik, CT Arsa Foundation bekerja sama dengan PLN untuk menghadirkan listrik bagi sekolah. Setelah itu, penguatan jaringan internet, penyediaan laptop, hingga pelatihan teknologi digital bagi guru dan siswa dilakukan secara bertahap.
“Hasilnya mulai terlihat. Beberapa sekolah dampingan yang sebelumnya harus menumpang Asesmen Nasional Berbasis Komputer di sekolah lain, kini sudah bisa melaksanakan ANBK secara mandiri,” katanya.
Saat ini, CT Arsa Foundation memiliki tiga titik dampingan di Kabupaten Kupang, yakni Lelogama, Nunwana, dan Nainifo. Secara keseluruhan, yayasan tersebut mendampingi tujuh titik di NTT, termasuk di wilayah Sumba Barat Daya dan Manggarai Timur.
Di balik angka statistik pembangunan dan laporan peningkatan pendidikan nasional, terdapat kenyataan sunyi yang masih dipikul anak-anak pedalaman. Di beberapa dusun terpencil Kabupaten Kupang, anak-anak harus berjalan kaki hingga empat kilometer melewati jalan terjal dan tanah berlumpur hanya untuk tiba di sekolah.
Mereka datang dengan sandal tipis yang dipenuhi debu, membawa buku yang mulai lusuh oleh perjalanan panjang, lalu duduk di ruang kelas sederhana sambil menyimpan mimpi yang sama besarnya dengan anak-anak di kota.

Kondisi itu mendapat perhatian serius dari Wakil Bupati Kabupaten Kupang, Aurum Obe Titu Eki yang juga tercatat sebagai wanita pertama yang menjadi Wakil Bupati di Kabupaten Kupang.
Baginya, pendidikan di daerah terpencil bukan sekadar persoalan bangunan sekolah atau fasilitas belajar, melainkan menyangkut keadilan sosial, martabat manusia dan keberanian negara menghadirkan harapan hingga ke pelosok yang paling sunyi.
“Kabupaten Kupang memiliki wilayah yang sangat luas sehingga pemerintah memiliki banyak prioritas pembangunan. Karena itu kehadiran lembaga sosial seperti CT Arsa Foundation sangat membantu pemerintah menjangkau masyarakat yang selama ini sulit disentuh layanan pendidikan secara optimal,” ujarnya kepada media ini, Minggu (17/5/2026), di Kupang.
Aurum mengatakan, berdasarkan data pemerintah daerah, SD Negeri 2 Nainifo memang telah masuk dalam rencana revitalisasi sekolah. Namun proses pembangunan membutuhkan waktu, tahapan administrasi, serta kesiapan anggaran yang tidak singkat.
Karena itu, menurutnya, kehadiran guru relawan menjadi bantuan yang sangat berarti bagi masyarakat setempat, terutama dalam meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi anak-anak yang selama ini belajar dalam berbagai keterbatasan.
“Anak-anak desa juga berhak bermimpi besar. Mereka memiliki semangat belajar yang luar biasa meskipun hidup dalam keterbatasan,” kata Aurum.
Ia juga menilai keberhasilan pendampingan pendidikan di Lelogama mulai menunjukkan dampak positif dan berpotensi menjadi model pengembangan pendidikan daerah terpencil di wilayah lain Kabupaten Kupang.
Sebagai wanita pertama yang dipercaya menduduki kursi Wakil Bupati Kabupaten Kupang, Aurum menegaskan bahwa pembangunan sumber daya manusia melalui pendidikan harus menjadi prioritas bersama.
Menurutnya, tantangan geografis tidak boleh menjadi alasan lahirnya ketimpangan pendidikan bagi anak-anak pedalaman.
“Karena itu pemerintah terbuka untuk bekerja sama dengan berbagai lembaga sosial, baik di bidang pendidikan, kesehatan, maupun pembangunan masyarakat lainnya,” ujarnya.
Di tengah sunyi lembah dan pegunungan Amfoang, harapan itu kini perlahan tumbuh. Dari ruang kelas sederhana yang jauh dari gemerlap kota, anak-anak Nainifo sedang belajar mengeja masa depan mereka sendiri — dengan mimpi yang tetap menyala meski dunia belum sepenuhnya datang kepada mereka.
Sebab pada hakikatnya, pendidikan bukan sekadar proses memindahkan pengetahuan dari papan tulis ke ingatan anak-anak.
Pendidikan adalah jalan sunyi untuk memanusiakan manusia; sebuah ikhtiar panjang agar seorang anak yang lahir di pelosok pegunungan tetap memiliki hak yang sama untuk mengenal dunia, membangun martabatnya dan menentukan masa depannya sendiri.
Di desa-desa terpencil seperti kampung Nainifo, pendidikan sering kali bukan hadir dalam gedung megah atau fasilitas sempurna, melainkan dalam ketulusan seorang guru yang rela tinggal jauh dari kenyamanan, dalam langkah kaki anak-anak yang menembus jalan terjal setiap pagi dan dalam keyakinan sederhana bahwa kemiskinan tidak boleh diwariskan melalui ketertinggalan pendidikan.
Karena itu, ketika satu ruang kelas kecil di pedalaman tetap dipertahankan menyala, sesungguhnya yang sedang dijaga bukan hanya kegiatan belajar mengajar, melainkan peradaban itu sendiri.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
