KUPANG, BBC — Dalam lanskap peristiwa yang sarat dengan dimensi spiritual, sosial, dan kultural, Yosef Lede menghadiri perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-23 GMIT Amanau Tablolong, Klasis Kupang Barat, yang dirangkaikan dengan peletakan batu pertama pembangunan gedung serbaguna jemaat.

Kegiatan yang berlangsung dalam suasana khidmat, reflektif, dan penuh kekhusyukan ini dipimpin oleh Yandi Manobe, S.Th., serta diselenggarakan di Gedung Kebaktian GMIT Amanau Tablolong, Desa Tablolong, Kecamatan Kupang Barat, pada Rabu (22/04/2026) siang.

Peristiwa ini, dalam kerangka analisis sosial-keagamaan, tidak semata dimaknai sebagai seremoni temporal yang bersifat seremonial, melainkan sebagai artikulasi historis atas perjalanan iman kolektif yang mengalami proses dialektika—bertumbuh, berakar dan berbuah—dalam ruang kehidupan jemaat.

Dua puluh tiga tahun eksistensi GMIT Amanau Tablolong merepresentasikan konstruksi naratif yang kompleks, mencakup dimensi kesetiaan spiritual, dinamika pergumulan eksistensial, serta kontinuitas pengharapan yang senantiasa diperbarui dalam horizon teologis.

Dalam sambutannya, Bupati Kupang menyampaikan ucapan selamat ulang tahun kepada seluruh jemaat, seraya menegaskan bahwa perayaan HUT ke-23 yang dirangkaikan dengan peletakan batu pertama pembangunan gedung serbaguna merupakan manifestasi nyata dari karya Tuhan yang terus hidup di tengah jemaat.

Lebih lanjut, ia menekankan dimensi spiritualitas sebagai fondasi ontologis dalam kehidupan berjemaat.

‘Ungkapan syukur ini memang harus dilakukan sebagai bentuk terima kasih atas kasih dan penyertaan Tuhan kepada kita semua, khususnya jemaat Amanau Tablolong, sehingga hari ini kita dapat menyampaikan rasa syukur kepada Tuhan yang terus memelihara jemaat sampai saat ini,’ Ungkapnya.

Pernyataan tersebut secara epistemologis merefleksikan kesadaran teologis bahwa eksistensi komunitas iman tidak dapat direduksi dalam kerangka material semata, melainkan terikat secara inheren dalam relasi transendental antara manusia dan Sang Pencipta.

Dalam perspektif ini, syukur tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi liturgis, tetapi juga sebagai praksis etis yang membentuk habitus kolektif jemaat dalam merespons realitas sosial secara konstruktif dan bermakna.

Dalam kesempatan yang sama, Bupati Kupang juga menyampaikan harapannya agar jemaat terus mengalami pertumbuhan iman yang berkelanjutan, memperkuat persekutuan, serta menjadi agen berkat bagi lingkungan sekitarnya.

‘Saya berharap jemaat terus bertumbuh dalam iman, terus bersekutu, menjadi gereja yang diberkati dan juga menjadi berkat bagi sesama di tempat ini,’ tambahnya.

Peletakan batu pertama pembangunan gedung serbaguna, dalam perspektif simbolik-struktural, tidak hanya merepresentasikan inisiasi pembangunan fisik, tetapi juga menegaskan eksistensi nilai-nilai kolektif berupa kemandirian, solidaritas dan kohesi sosial jemaat.

Bupati Kupang menegaskan bahwa karena pembangunan ini merupakan hasil keputusan bersama, maka seluruh prosesnya harus dijalankan dalam semangat kebersamaan dan kerendahan hati, tanpa dominasi klaim individual, melainkan kesadaran bahwa segala sesuatu terjadi dalam campur tangan Tuhan.

Di sisi lain, perhatian terhadap konteks sosial-ekonomi lokal turut menjadi bagian integral dari narasi kebijakan yang disampaikan. Desa Tablolong sebagai kawasan pesisir sekaligus destinasi pariwisata memiliki potensi strategis yang dalam perspektif pembangunan berkelanjutan perlu dikelola secara sistematis, partisipatif dan berorientasi jangka panjang.

Pemerintah desa dihimbau untuk memperhatikan kebersihan lingkungan sebagai fondasi ekologis dalam pengembangan kawasan, terlebih dengan adanya rencana pembangunan kampung nelayan yang diharapkan mampu menciptakan efek multiplikatif terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Dalam kerangka tersebut, jemaat tidak hanya diposisikan sebagai entitas religius yang bersifat internal, melainkan sebagai subjek sosial yang memiliki tanggung jawab moral dan kolektif dalam memanfaatkan peluang pembangunan secara optimal demi tercapainya kesejahteraan bersama yang inklusif.

Menutup sambutannya, Bupati Kupang menyampaikan refleksi atas perjalanan 23 tahun GMIT Amanau Tablolong sebagai fondasi yang kokoh bagi masa depan. Ia meyakini jemaat akan terus berkembang dan maju, namun tetap berakar kuat dalam persekutuan iman bersama Yesus Kristus sebagai pusat spiritualitas.

Sementara itu, Ketua Majelis Jemaat Amanau Tablolong, Yandry Masu Sennabu, dalam suara gembalanya menyampaikan bahwa pembangunan gedung serbaguna merupakan simbol kemandirian dan kebersamaan jemaat.

Gedung tersebut direncanakan memiliki kapasitas sekitar 1.200 orang dengan estimasi anggaran sebesar Rp1,5 miliar.
Ia menjelaskan bahwa nomenklatur “Amanau” yang berarti “Kehendak Bapa” mengandung dimensi teologis yang menjadi landasan spiritual dalam setiap proses perjuangan jemaat.

Berangkat dari berbagai tantangan yang dihadapi, jemaat secara kolektif membangun komitmen untuk mentransformasikan keterbatasan menjadi peluang menuju kehidupan yang damai dan sejahtera melalui prinsip kemandirian.

Gedung serbaguna yang akan dibangun nantinya tidak hanya diperuntukkan bagi kegiatan gerejawi, tetapi juga terbuka bagi berbagai aktivitas kemasyarakatan. Dalam perspektif sosiologis, keberadaan fasilitas ini diharapkan menjadi pusat interaksi sosial yang produktif, inklusif, serta memiliki daya guna yang luas bagi masyarakat Tablolong dan wilayah sekitarnya.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh sejumlah tokoh dan pemangku kepentingan, antara lain Jan Piter Windi, Daniel Taimenas, Absalom Mbuy, Abdi Karya Wenyi, pimpinan perangkat daerah, Camat Kupang Barat, para kepala desa se-Kecamatan Kupang Barat, serta jemaat dan tamu undangan lainnya.

Dengan demikian, perayaan HUT ke-23 GMIT Amanau Tablolong dapat dipahami sebagai suatu peristiwa yang melampaui dimensi seremonial, yakni sebagai refleksi multidimensional tentang bagaimana iman, kebersamaan dan praksis sosial berkelindan menjadi kekuatan transformasional dalam membangun kehidupan jemaat dan masyarakat.

Dari doa yang dipanjatkan dalam keheningan iman, lahirlah karya yang menjelma dalam realitas—menjadi penanda bahwa spiritualitas yang hidup tidak berhenti pada ritus, melainkan berlanjut dalam tindakan yang memberi makna bagi kehidupan bersama, kini dan di masa yang akan datang.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.