Kupang, BBC – Senja turun perlahan di Desa Tolnaku, Kecamatan Fatuleu. Cahaya keemasan yang remang menyusup di sela pepohonan, menyentuh sebuah rumah reyot berdinding bebak, beratap daun yang rapuh dan berlantai tanah yang dingin.
Di sanalah, seorang perempuan renta bernama Oma Terfina Lake menjalani hidupnya sendirian. Hampir dua puluh tahun lebih ia ditinggalkan suaminya, menyisakan ruang kosong yang tak pernah sepenuhnya terisi.
Kesunyian yang pekat menjelma sahabat setia. Angin malam menjadi penghibur, sementara denting hujan di atap daun menjadi lagu pengantar tidur. Namun, di tengah sepi itu, langkah kaki para tamu mulia kerap hadir sebagai cahaya kecil yang meruntuhkan dinding keterasingan.
Pada Sabtu sore, Kapolsek Fatuleu Iptu Maks Tameno bersama ibu-ibu Bhayangkari Polsek Fatuleu kembali menyapa Oma dengan kasih. Mereka tidak datang dengan kemewahan, melainkan dengan ketulusan.
Beras, telur, sabun dan gula yang mereka bawa bukan sekadar benda, melainkan simbol cinta, bukti nyata bahwa kehadiran bisa menyembuhkan luka yang lama.
“Oma Terima Lake sudah menjadi bagian dari keluarga Polsek Fatuleu. Setiap bulan kami selalu datang, mendengar kisahnya dan berbagi sedikit yang kami punya. Inilah ketulusan dan bhakti Polri untuk mereka yang sungguh membutuhkan,” ujar Iptu Maks Tameno dengan suara lembut yang menyiratkan penghormatan pada sosok tua yang tegar di tengah keterbatasan.
Suasana desa yang biasanya sunyi tiba-tiba berubah. Tawa ringan, doa-doa yang lirih dan obrolan sederhana memecah keheningan.
Arisan Bhayangkari yang dilaksanakan di rumah oma menjadikan tempat reyot itu seakan bertransformasi menjadi ruang cinta dan persaudaraan. Rumah yang biasanya hanya menyimpan air mata, hari itu dipenuhi oleh cahaya kasih.
Oma Terfina Lake sendiri tak banyak berkata-kata. Namun, air matanya berbicara, matanya yang berkaca-kaca memantulkan rasa syukur mendalam.
Di balik keriput wajahnya tersimpan kisah ketabahan dan di balik senyum tipisnya tersimpan kerinduan akan kehangatan keluarga.
Kehadiran polisi dan Bhayangkari menjawab kerinduan itu: mereka hadir sebagai anak, sebagai cucu, sebagai keluarga yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Hidup di rumah sederhana dengan dinding rapuh, atap daun yang nyaris runtuh dan lantai tanah yang menyerap setiap tetes air hujan, adalah metafora dari kehidupan yang penuh cobaan.
Namun, di sanalah teruji makna sejati kemanusiaan. Bahwa manusia tidak dilahirkan untuk hidup sendiri, melainkan untuk saling menguatkan.
Kunjungan ini bukan sekadar kegiatan rutin. Ia adalah pelajaran sekaligus moral bahwa pembangunan bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga soal rekonstruksi nilai kemanusiaan.
Polri hadir tidak hanya sebagai institusi penegak hukum, tetapi juga sebagai agen sosial yang memelihara rasa solidaritas di tengah masyarakat.
Ketika matahari mulai tenggelam di balik bukit Fatuleu, Oma Terfina Lake menatap langit senja dengan hati yang berbeda. Hari itu ia tidak sekadar menerima bantuan, tetapi juga menerima cinta.
Kesepian panjangnya retak, digantikan oleh harapan baru bahwa masih ada tangan-tangan yang rela menyeka air mata orang tua yang terlupakan.
Di Fatuleu, kasih itu tumbuh sederhana: dari sebutir beras, dari senyum tulus, dari hati yang sudi singgah. Dan dari senja yang redup, kita belajar bahwa harapan akan selalu menemukan jalannya, bahkan di bilik daun yang rapuh sekalipun.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
