Kupang, BBC – Desa Tolnaku, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang, kini menjadi cermin kegagalan dalam penanganan stunting di Kabupaten Kupang. Alih-alih menurun, angka stunting justru meningkat.

Data terbaru mencatat 45 anak mengalami stunting di desa tersebut, meskipun setiap tahun Dana Desa digelontorkan untuk Program Makanan Tambahan (PMT) dan program kesehatan rutin lainnya.

Kepala Desa Tolnaku, Ananias Mella, dalam forum Rembug Desa yang digelar Rabu (24/9/2025), melontarkan pernyataan tegas. Ia menyebut bahwa PMT tidak tepat sasaran karena sebagian besar makanan tambahan justru dikonsumsi oleh orang tua, bukan oleh anak-anak yang menjadi sasaran utama program.

“Saya harus bicara keras di sini. Makanan tambahan itu jatah anak-anak kita, bukan orang tua. Kalau setiap kali PMT dibawa pulang lalu dimakan orang tua, bagaimana mungkin angka stunting bisa turun? Itu pengkhianatan terhadap masa depan anak-anak Tolnaku,” tegas Ananias.

Dalam evaluasi desa, pemerintah menemukan bahwa meski anggaran kesehatan rutin disalurkan, tidak ada penurunan angka stunting dari tahun ke tahun. Bahkan, kasus terus bertambah. Hal ini memunculkan pertanyaan besar: ke mana sebenarnya Dana Desa untuk gizi itu diarahkan?

Ananias menegaskan bahwa mulai tahun ini, PMT tidak boleh lagi dibagikan sembarangan. Semua pembagian makanan tambahan harus dilakukan di posyandu atau puskesmas pembantu dengan pengawasan ketat.

“Saya ingin lihat langsung anak-anak yang makan, bukan orang tuanya. Kalau ketahuan orang tua yang makan, berarti ada yang salah besar dalam pola pikir dan tanggung jawab kita,” ujarnya lantang.

Kepala Desa juga mengeluarkan ultimatum bagi orang tua yang abai membawa anak ke posyandu atau kegiatan timbang badan. Nama-nama anak yang tidak hadir akan dicatat dan orang tuanya dipanggil ke kantor desa untuk dimintai pertanggungjawaban.

“Ini bukan sekadar aturan, tapi menyangkut masa depan anak. Orang tua yang tidak peduli pada kesehatan anaknya sama saja dengan menutup masa depan mereka. Saya tidak segan memanggil langsung ke kantor desa untuk mempertanyakan alasan mereka,” tegas Ananias.

Ia juga menyindir keras perilaku orang tua yang tega menghabiskan PMT untuk dirinya sendiri.

“Kalau orang tua makan jatah anak, maka mereka telah mencuri masa depan anaknya sendiri. Itu bukan hanya salah, tapi sebuah dosa sosial,” ujarnya lagi.

Selain persoalan salah sasaran PMT, stunting di Tolnaku juga diperparah oleh faktor struktural lain: kurangnya gizi seimbang, rendahnya kesadaran pemberian ASI eksklusif, terbatasnya akses air bersih serta lemahnya perhatian terhadap ibu hamil dan balita.

Namun, bagi kepala desa, faktor terbesar tetap ada pada kesadaran masyarakat sendiri.

“Kita bisa bangun program apa saja, tapi kalau orang tua masih makan jatah anak, tidak ada perubahan. Itu akar masalah yang paling nyata,” katanya menekankan.

Meski kecewa, Ananias tetap menegaskan bahwa pemerintah desa tidak akan berhenti melawan stunting. Ia berharap ada perubahan pola pikir di kalangan masyarakat.

“Setiap rupiah Dana Desa yang kita alokasikan untuk PMT adalah investasi untuk masa depan generasi Tolnaku. Jangan dirampas oleh orang tua yang tidak bertanggung jawab. Saya minta semua pihak berubah. Kalau tidak, anak-anak kita akan tumbuh tanpa masa depan,” pungkasnya dengan nada tegas.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.