Kupang, BBC – Di tanah Timor yang retak oleh panas, angin berhembus membawa kabar kesedihan. Bukit Humon, yang pernah menjadi saksi penanaman harapan pada Maret 2025 lalu, kini merintih dalam diam.
Anak-anak pohon yang ditanam Bupati Kupang Yosef Lede dan Wakil Bupati Kupang Aurum Obe Titu Eki, satu per satu mulai layu. Mereka haus, mereka menanti air, mereka menanti kehidupan.
Namun air semakin menjauh. Sumur-sumur menipis, sungai-sungai menyusut dan matahari tak berhenti menyalakan bara. Dalam kesenyapan itu, muncul langkah seorang anak negeri: Yan Tamoes, Plt Camat Amfoang Selatan.
Ia tidak datang dengan janji, ia datang dengan jerigen. Ia tidak membawa kata-kata kosong, ia membawa air kehidupan.
Dengan mobil pribadinya, ia mengangkut jerigen-jerigen air bersama stafnya, menaiki jalan terjal menuju Bukit Humon. Setiap tetes yang ia tuangkan ke tanah kering adalah semacam doa.
Doa agar pohon kecil itu tidak mati, agar harapan tidak layu, agar masa depan anak cucu tidak hilang ditelan kemarau.
“Cuaca di Timor makin panas, air semakin berkurang. Kalau tidak disiram, pohon ini bisa mati,” ujar Yan Tamoes lirih. Kata-katanya sederhana, tapi beratnya seperti beban bumi: tanpa air, kehidupan hanyalah kesepian panjang.
Di tengah keheningan bukit, suara air yang jatuh ke tanah terdengar seperti lagu duka. Pohon itu seakan bernapas kembali, daunnya yang lemah merayakan sedikit kesejukan.
Pohon ini bukan sekadar batang yang tumbuh—ia adalah janji. Janji kepada anak cucu, bahwa alam akan diwariskan, bahwa tanah ini tidak akan dibiarkan gersang selamanya.
Yan Tamoes tahu, langkah kecilnya mungkin tidak menyelamatkan dunia. Tetapi ia percaya, menjaga satu pohon sama artinya dengan menjaga secercah masa depan. Karena pohon adalah penjaga udara, peneduh jiwa dan pengikat kesetiaan manusia kepada bumi.
Air dalam jerigen itu mungkin sedikit. Tetapi bagi pohon yang merana, ia adalah kehidupan. Bagi tanah yang retak, ia adalah pelipur lara. Bagi anak cucu, ia adalah warisan yang tak ternilai: udara bersih, tanah yang bernyanyi dan bayangan teduh di masa depan.
Bukit Humon kini menyimpan cerita. Tentang pohon-pohon kecil yang hampir mati, lalu diselamatkan oleh tangan sederhana. Tentang seorang Yan Tamoes yang mengajarkan bahwa cinta pada alam bukan sekadar kata-kata, melainkan tindakan nyata. Tentang air yang tak hanya membasahi akar, tetapi juga menghidupkan doa.
Karena pohon bukan sekadar tanaman. Pohon adalah doa yang berakar dan air adalah jawaban yang menghidupkan.
“Manusia tidak mewarisi bumi dari leluhur, melainkan meminjamnya dari anak cucu.” – Kutipan reflektif ini seakan menegaskan langkah Yan Tamoes: menyiram pohon hari ini adalah menyelamatkan kehidupan esok hari.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
