Kupang, BBC — Di sudut Desa Noelbaki, berdiri sebuah gubuk reyot dengan dinding rapuh dan atap bocor. Di dalamnya, hidup seorang perempuan renta bernama Felpina Pian.

Puluhan tahun ia bertahan seorang diri, tanpa keluarga, tanpa sanak saudara, tanpa seorang pun yang setia menemani. Kesepian menjadi teman setianya dan malam panjang sering kali hanya ditemani tangis lirih yang tak terdengar oleh siapa pun.

Hidup Felpina adalah kisah tentang luka yang disembunyikan, doa yang terucap tanpa jawaban dan penantian panjang akan kasih sayang yang tak kunjung tiba. Namun doa itu akhirnya menemukan jalannya, mengetuk hati Bupati Kupang, Yosef Lede.

Sebuah rekaman video dari seorang kepala sekolah yang tinggal tak jauh dari gubuk Felpina, menyibak tirai sunyi yang menutup kisahnya. Mendengar kabar itu, Yosef tak tinggal diam.

Ia segera menginstruksikan Dinas Sosial Kabupaten Kupang dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk bergerak cepat, karena bagi dirinya, kemanusiaan tak boleh menunggu.

“Nenek Felpina memang masih tercatat sebagai warga Kota Kupang secara administrasi, tetapi ia sudah lama hidup di wilayah kita. Kita akan segera mengusahakan mutasi kependudukannya agar ia bisa menerima bantuan berkala dari Kabupaten Kupang,” ujar Yosef Lede dengan suara tegas, namun matanya menyiratkan luka yang sama—luka melihat seorang manusia bertahan sendirian di usia senja.

Hari itu, di hadapan warga Noelbaki dan Kepala Desa Oktovianus Logo Buke, Yosef Lede datang bukan hanya dengan bantuan dari Dinas Sosial dan BPBD, tetapi juga dengan sentuhan pribadi.

Sebuah uluran tangan yang sederhana, namun penuh makna, seakan berkata bahwa hidup Nenek Felpina tak lagi sunyi.

Namun Yosef tahu, tanggung jawab ini tidak berhenti pada pemerintah. Ia mengingatkan masyarakat agar tidak menutup mata terhadap tetangga sendiri.

“Kita berharap masyarakat juga hadir. Jangan biarkan ada yang berjalan sendirian di jalan sunyi kehidupan. Kasih sayang tidak boleh berhenti pada batas administrasi,” tegasnya.

Di balik tangan renta yang bergetar, Nenek Felpina menerima uluran itu dengan linangan air mata. Bagi dunia luar, bantuan itu mungkin tampak kecil.

Tetapi bagi dirinya, itu adalah cahaya—cahaya yang mematahkan malam panjang, cahaya yang menyibak sepi, cahaya yang datang bersama langkah seorang bupati.

Senja di Noelbaki hari itu terasa berbeda. Angin yang biasanya membawa dingin kesepian, kini berhembus lembut membawa harapan.

Gubuk reyot yang selama ini menjadi saksi bisu penderitaan, untuk pertama kali mendengar kembali suara kebahagiaan.

Nama Felpina Pian, yang selama ini tenggelam dalam kesunyian, kini kembali diperjuangkan. Ia bukan lagi sekadar lansia terlupakan, tetapi bagian dari wajah kemanusiaan yang tidak boleh diabaikan.

Dan di sana, di antara doa-doa yang tak pernah berhenti, terselip sebuah pesan yang begitu kuat:

bahwa kemanusiaan adalah cahaya; dan cahaya itu akan lahir setiap kali hati manusia menolak untuk menutup mata.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.