KUPANG, BBC — Di Amfoang, alam seolah tidak pernah kehabisan cara untuk menunjukkan keindahannya. Bukit-bukit berdiri tegak memeluk cakrawala, hutan menyimpan kekayaan yang belum seluruhnya terungkap, madu mengalir dari ketekunan alam dan lebah, sementara bentang perbukitan menyimpan potensi pariwisata yang dapat membawa kehidupan baru bagi masyarakatnya.
Namun, di balik kekayaan itu, ada harapan yang masih menunggu jalan untuk sampai ke tujuan. Ada masyarakat yang menggantungkan masa depan pada tanah yang diwariskan leluhur, pada ladang yang harus terus diolah, serta pada pembangunan yang diharapkan mampu mendekatkan mereka kepada kesejahteraan.
Di tengah bentang alam yang indah sekaligus penuh tantangan itu, Bupati Kupang Yosef Lede menghadiri kegiatan reses Anggota DPR RI, Viktor Bungtilu Laiskodat, di Bukit Wisata Humon, Kecamatan Amfoang Selatan, Kabupaten Kupang, Sabtu (24/10/2026).
Pertemuan tersebut bukan sekadar ruang untuk menyampaikan aspirasi politik. Lebih dari itu, reses menjadi kesempatan bagi masyarakat Amfoang untuk menitipkan harapan tentang jalan, pertanian, pariwisata, air dan masa depan ekonomi keluarga kepada para pemangku kebijakan.
Di tanah yang kaya akan potensi, harapan masyarakat tidak boleh berhenti sebagai cerita yang berulang dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dalam sambutannya, Bupati Kupang Yosef Lede menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan reses yang secara berkala dilakukan Viktor Bungtilu Laiskodat di Kabupaten Kupang.
Menurutnya, reses merupakan ruang penting bagi masyarakat untuk menyampaikan kebutuhan pembangunan secara langsung kepada wakil rakyat di tingkat pusat.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Kupang, saya menyampaikan terima kasih atas kunjungan dan pelaksanaan reses ini. Kami memandang Bapak Viktor sebagai mitra strategis pemerintah daerah yang dapat membantu memperjuangkan berbagai kebutuhan masyarakat, terutama program dan dukungan anggaran dari pemerintah pusat yang belum sepenuhnya dapat dipenuhi melalui APBD Kabupaten Kupang,” ujar Yosef Lede.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan daerah tidak dapat berjalan hanya dengan mengandalkan satu tangan. Ada kebutuhan yang harus diperjuangkan bersama, ada keterbatasan anggaran yang perlu dijembatani dan ada tanggung jawab yang menuntut pemerintah daerah serta pemerintah pusat berjalan dalam arah yang sama.
Ia menegaskan bahwa pembangunan Kabupaten Kupang membutuhkan kolaborasi yang kuat antara pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi, pemerintah pusat dan DPR RI.

Sinergi tersebut diperlukan untuk mempercepat pembangunan infrastruktur dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama di wilayah Amfoang yang memiliki tantangan geografis tersendiri.
Bagi masyarakat yang hidup di wilayah berbukit, jalan bukan sekadar bentangan aspal atau pengerasan tanah. Jalan adalah penghubung antara hasil kebun dan pasar, antara anak-anak dan kesempatan pendidikan, antara potensi wisata dan kedatangan pengunjung, serta antara harapan masyarakat dan peluang ekonomi yang selama ini terasa jauh.
Ketika jarak dan kondisi geografis menjadi tantangan, kekayaan alam tidak selalu mudah berubah menjadi kesejahteraan. Potensi dapat tumbuh di tanah, tetapi manfaatnya membutuhkan akses, pengetahuan, infrastruktur dan kebijakan yang berpihak kepada kehidupan masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Pemerintah Kabupaten Kupang menyalurkan bantuan benih padi, benih jagung, dan pupuk kepada kelompok tani di wilayah Amfoang Raya.
Total bantuan benih yang disebutkan dalam data kegiatan mencapai 10 ton, disertai bantuan pupuk sebanyak 500 kilogram. Bantuan ini merupakan bagian dari upaya mendukung produktivitas pertanian dan memperkuat usaha tani masyarakat.
Di tangan petani, benih bukan sekadar bahan untuk ditanam. Benih adalah awal dari sebuah penantian panjang: tanah yang diolah, hujan yang diharapkan, tanaman yang dijaga dan hasil panen yang dinanti untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Tidak semua benih akan tumbuh tanpa hambatan. Tidak setiap musim memberikan hasil seperti yang diharapkan. Namun, selama tanah masih dapat diolah dan masyarakat masih memiliki kesempatan untuk bekerja, harapan tetap memiliki tempat untuk bertumbuh.
Bantuan pertanian tersebut menjadi salah satu langkah untuk memperkuat usaha tani masyarakat. Keberlanjutannya tentu membutuhkan dukungan yang terencana, mulai dari ketersediaan air, pendampingan teknis, akses pasar, hingga kemampuan petani memperoleh nilai ekonomi yang layak dari hasil produksinya.
Sebab, kesejahteraan petani tidak cukup diukur dari banyaknya benih yang dibagikan. Ukuran yang lebih bermakna adalah ketika hasil tanah mampu menopang kehidupan keluarga, membiayai pendidikan anak dan memberikan kepastian yang lebih baik bagi masa depan mereka.
Bupati Yosef Lede juga memaparkan sejumlah rencana pembangunan strategis yang akan dilaksanakan pada tahun 2027, di antaranya pembangunan jalan menuju Amfoang Utara melalui kawasan Gunung Timau serta pengembangan destinasi wisata kampung adat di wilayah Amfoang.
Rencana tersebut membawa perhatian pada salah satu kebutuhan penting masyarakat di kawasan Amfoang, yakni konektivitas ant wilayah yang dapat mendukung pergerakan manusia, barang dan kegiatan ekonomi.
Gunung Timau berdiri dengan bentang alam yang menyimpan keindahan tersendiri.
Namun, di balik kemegahan perbukitannya, pembangunan jalan tetap menjadi bagian penting dari upaya membuka akses dan memperluas kesempatan masyarakat.
Jalan yang baik dapat membantu hasil pertanian mencapai pasar, memudahkan perjalanan masyarakat dan membuka peluang bagi wisatawan untuk mengenal kekayaan alam serta budaya setempat.
Dengan perencanaan yang matang, pembangunan infrastruktur dapat menjadi fondasi bagi tumbuhnya berbagai kegiatan ekonomi yang saling mendukung.
Pemerintah Kabupaten Kupang telah meninjau lokasi yang dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata berbasis budaya dan kearifan lokal. Untuk mendukung pengembangan tersebut, Bupati menyampaikan bahwa anggaran sebesar Rp5 miliar telah dialokasikan pada tahun 2027.
“Amfoang memiliki kekayaan alam dan budaya yang luar biasa. Kita ingin mengembangkan kampung adat sebagai destinasi wisata agar semakin banyak orang datang berkunjung. Dengan demikian, masyarakat juga memperoleh manfaat ekonomi melalui pengembangan usaha lokal dan berbagai aktivitas pariwisata,” jelasnya.
Di balik rencana itu, terdapat kesempatan untuk menjadikan masyarakat bukan sekadar penonton ketika wisata berkembang, melainkan bagian utama dari pertumbuhan ekonomi tersebut.

Kampung adat dapat menjadi ruang bagi warisan leluhur untuk tetap hidup, tradisi untuk dikenal generasi muda dan usaha lokal untuk memperoleh kesempatan berkembang. Apabila dikelola secara bertanggung jawab, pariwisata dapat membuka peluang bagi pemandu lokal, pengrajin, pelaku kuliner, pengelola penginapan, serta masyarakat yang menjaga kebudayaan dan lingkungan.
Kekayaan Amfoang tidak hanya terletak pada pemandangan yang memikat mata. Hutan, madu, perbukitan, budaya dan kehidupan masyarakatnya merupakan bagian dari potensi yang perlu dijaga serta dikembangkan secara berkelanjutan.
Madu, misalnya, dapat menjadi bagian dari usaha ekonomi lokal apabila didukung pengolahan yang baik, mutu produk, kemasan, pemasaran dan akses pasar. Demikian pula keindahan alam dan kekayaan budaya memerlukan pengelolaan yang tidak merusak lingkungan atau menghilangkan nilai-nilai yang diwariskan para leluhur.
Sebab, pariwisata yang berhasil bukan hanya tentang berapa banyak orang datang mengambil gambar, melainkan tentang berapa banyak keluarga memperoleh manfaat tanpa kehilangan identitas dan ruang hidupnya.
Sementara itu, Anggota DPR RI Viktor Bungtilu Laiskodat menyoroti besarnya potensi sumber daya alam Kabupaten Kupang yang perlu dikelola secara lebih produktif dan berkelanjutan.
Ia menyebut sektor kelautan, perikanan, rumput laut dan pengembangan garam sebagai potensi unggulan yang dapat dikembangkan melalui perencanaan yang matang, pemanfaatan teknologi dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Viktor juga menekankan bahwa pembangunan tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan anggaran, tetapi harus disertai pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengelola potensi daerah. Karena itu, ia mendorong peningkatan akses pendidikan dan pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan sektor unggulan Kabupaten Kupang.
Dalam kesempatan tersebut, Viktor turut memberikan apresiasi terhadap kepemimpinan Bupati Yosef Lede dan upaya Pemerintah Kabupaten Kupang dalam mendorong pembangunan serta menggali potensi daerah.
Menurutnya, potensi sumber daya alam yang dimiliki Kabupaten Kupang perlu diikuti dengan langkah-langkah nyata, kepemimpinan yang kuat, serta kemampuan pemerintah dan masyarakat dalam mengelolanya agar memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas.
Pesan itu menempatkan manusia sebagai bagian penting dari pembangunan. Alam dapat menyediakan bahan baku, tanah dapat memberi hasil dan laut dapat menawarkan kekayaan, tetapi pengetahuan serta keterampilan menentukan sejauh mana semua potensi tersebut mampu menghasilkan nilai tambah.
Masyarakat perlu memperoleh kesempatan untuk belajar mengolah hasil alam, mengembangkan usaha, memanfaatkan teknologi dan memperluas jaringan pemasaran.
Dengan demikian, kekayaan daerah tidak hanya menjadi kebanggaan ketika diceritakan, tetapi juga menjadi kekuatan ekonomi yang dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi Amfoang, tantangan tersebut sekaligus merupakan peluang. Potensi alam dan budaya yang dimiliki dapat dikembangkan melalui perencanaan terpadu, dengan tetap memperhatikan kebutuhan masyarakat, daya dukung lingkungan dan keberlanjutan sumber daya.
Viktor juga menyoroti pentingnya pengelolaan sumber air secara produktif. Pembangunan sumur bor dan penyediaan jaringan air, menurutnya, perlu diikuti dengan kegiatan pertanian dan penanaman tanaman produktif agar fasilitas yang dibangun memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat.
Air memiliki arti yang jauh melampaui kebutuhan sehari-hari. Bagi masyarakat yang menggantungkan hidup pada pertanian, air menentukan keberlangsungan tanaman, peluang produksi dan kemampuan keluarga mempertahankan sumber penghasilan.
Karena itu, pembangunan fasilitas air perlu disertai perencanaan pemanfaatan yang jelas, pemeliharaan, serta pengelolaan yang melibatkan masyarakat. Infrastruktur yang tersedia harus mampu menjawab kebutuhan nyata dan memberi manfaat dalam jangka panjang.

Selain itu, Viktor mendorong pengembangan keterampilan teknis di bidang peternakan, pengolahan garam, kelautan dan teknologi. Dengan peningkatan pengetahuan dan keterampilan, masyarakat diharapkan mampu mengolah potensi yang tersedia menjadi kegiatan ekonomi produktif dan meningkatkan pendapatan keluarga.
Pendidikan dan pelatihan menjadi penting agar masyarakat tidak berhenti sebagai pemilik potensi, tetapi mampu menjadi pengelola yang terampil dan mandiri.
Sebab, kekayaan alam tanpa pengetahuan berisiko tidak memberikan nilai tambah yang optimal. Sebaliknya, pengetahuan yang bertemu dengan potensi lokal dapat membuka jalan menuju usaha produktif, kesempatan kerja dan peningkatan kesejahteraan.
Bupati berharap kegiatan reses tersebut menghasilkan komunikasi yang konkret mengenai kebutuhan masyarakat, sehingga aspirasi yang memerlukan dukungan pemerintah pusat dapat diperjuangkan melalui kewenangan dan fungsi anggaran DPR RI.
Kegiatan reses tersebut dihadiri Wakil Ketua DPRD Kabupaten Kupang, Sofia Dehaan, sejumlah anggota DPRD Kabupaten Kupang dari Partai NasDem, pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) Kabupaten Kupang, para camat dan kepala desa, tokoh agama, serta ribuan masyarakat dari enam kecamatan di wilayah Amfoang Raya.
Kehadiran masyarakat dalam jumlah besar memperlihatkan pentingnya ruang dialog antara warga dan para pemangku kebijakan. Namun, arti sebuah pertemuan pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh banyaknya orang yang datang, melainkan juga oleh sejauh mana aspirasi yang disampaikan dapat ditindaklanjuti melalui program, kebijakan dan dukungan anggaran yang tepat.
Masyarakat membutuhkan kepastian mengenai arah pembangunan, prioritas yang sesuai dengan kebutuhan, serta pelaksanaan yang dapat dipantau. Dengan demikian, harapan yang disampaikan dalam forum reses memiliki peluang untuk berkembang menjadi langkah nyata.
Di Amfoang, pembangunan bukan semata-mata tentang mendirikan bangunan, memperpanjang jalan, atau mengalokasikan anggaran. Pembangunan juga menyangkut kesempatan bagi keluarga untuk hidup lebih layak, bagi anak-anak untuk menatap masa depan dengan lebih percaya diri dan bagi masyarakat untuk mengembangkan kekayaan daerah tanpa kehilangan jati diri.
Amfoang memiliki bentang alam yang memikat, kekayaan budaya yang bernilai, potensi pertanian, serta peluang pengembangan berbagai usaha berbasis sumber daya lokal. Akan tetapi, potensi tersebut tidak dengan sendirinya menjamin kesejahteraan. Diperlukan akses yang memadai, sumber daya manusia yang terampil, pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab dan kebijakan yang konsisten.
Rencana pembangunan jalan menuju Amfoang Utara melalui kawasan Gunung Timau, alokasi Rp5 miliar untuk pengembangan kampung adat pada 2027, serta bantuan pertanian menjadi bagian dari agenda yang disampaikan Pemerintah Kabupaten Kupang.
Sementara itu, dorongan Viktor Laiskodat terhadap pendidikan, keterampilan, teknologi dan pengelolaan sumber daya memperlihatkan pentingnya membangun manusia bersama pembangunan fisik.
Semua itu perlu bergerak dalam satu arah: memastikan kekayaan daerah dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Pada akhirnya, bukit-bukit Amfoang tidak hanya menyimpan keindahan untuk dipandang. Di balik setiap lereng, ada tanah yang menunggu diolah, ada madu yang berpotensi menghidupi usaha keluarga, ada kebudayaan yang perlu diwariskan dan ada masyarakat yang berharap pembangunan menjangkau kehidupan mereka.
Tanah yang kaya seharusnya tidak membuat rakyat terus-menerus menunggu. Kekayaan alam perlu menemukan jalan menuju kesejahteraan, sementara pembangunan harus memastikan bahwa masyarakat menjadi penerima manfaat utama, bukan sekadar saksi atas perubahan di tanah kelahirannya sendiri.
Sebab, ukuran keberhasilan pembangunan bukan hanya seberapa tinggi bangunan berdiri atau seberapa panjang jalan terbentang. Ukuran yang sesungguhnya adalah ketika keluarga dapat hidup lebih layak, anak-anak memiliki kesempatan lebih luas, petani memperoleh hasil yang pantas dan masyarakat tidak lagi merasa bahwa masa depan selalu berada terlalu jauh dari tempat mereka berpijak.
Di Amfoang, harapan telah disampaikan dari Bukit Wisata Humon. Kini, harapan itu membutuhkan kerja yang berkelanjutan agar keindahan alam tidak hanya menjadi cerita, kekayaan tidak hanya menjadi kebanggaan dan janji pembangunan tidak berhenti sebagai kenangan dari sebuah pertemuan.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
