BB – Di bawah langit cerah pagi Amarasi, Jumat (16/5/2025), dua sosok muda pemimpin Kabupaten Kupang, Bupati Yosef Lede dan Wakil Bupati Aurum Obe Titu Eki melangkah pasti menyapa warganya dalam sebuah kegiatan yang tampak sederhana: senam sehat bersama.

Namun di balik gerakan ringan dan tawa masyarakat, tersembunyi pesan kuat tentang gaya kepemimpinan baru yang membumi, peduli, dan menjangkau hingga pelosok.

Kegiatan ini adalah bagian dari Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS), program nasional yang bertujuan membangun budaya hidup sehat dari masyarakat bawah.

Namun, di Amarasi hari itu GERMAS menjelma menjadi panggung dialog batin antara pemimpin dan rakyat—sebuah ruang di mana kedekatan, empati, dan nilai– nilai kemanusiaan bertemu dalam wujud nyata.

Di antara ratusan peserta dari pelajar, tenaga kesehatan, perangkat desa, hingga lansia, Aurum Titu Eki berbicara tidak seperti seorang pejabat, melainkan seperti putri daerah yang pulang menyapa keluarga besar.

Ia menekankan bahwa kesehatan bukan hanya urusan individu, melainkan tanggung jawab kolektif, yang harus ditanam sejak dini lewat pendidikan, akses pangan sehat, dan kebiasaan fisik sederhana seperti senam pagi.

“Kebugaran bukan soal tubuh semata, tapi soal semangat. Tubuh yang sehat akan melahirkan ide, kerja, dan harapan yang sehat pula,” tutur Aurum dengan tenang, mengenakan tenun khas Amarasi yang memeluk tubuhnya seperti pelukan dari akar budaya yang dalam.

Di sampingnya, Bupati Yosef Lede tampil tidak sebagai pemimpin yang berjarak, tapi sebagai figur yang menyatu dengan denyut warganya.

Ia menandatangani komitmen GERMAS bersama Aurum, menegaskan bahwa arah pembangunan Kabupaten Kupang tidak semata soal jalan dan jembatan, tapi soal pembangunan manusia: tubuh yang sehat, jiwa yang kuat, dan komunitas yang saling menguatkan.

“Kepemimpinan bukan hanya soal memerintah, tetapi hadir, mendengar, dan berjalan bersama. Karena di mana ada rakyat, di situlah pemimpin harus berada,” ucap Yosef, lirih namun menggetarkan hati.

Simbolisme “Satu Matahari, Satu Kepemimpinan” yang mereka usung bukan sekadar slogan. Yosef dan Aurum menjalankannya sebagai prinsip etika politik: satu komando, satu arah, tanpa saling menonjolkan ego. Yosef sebagai matahari yang menerangi siang, dan Aurum sebagai bulan yang menjaga malam dengan kelembutan.

Satu menyinari, satu meneduhkan—sebuah harmoni yang jarang ditemukan dalam politik lokal.

Kehadiran mereka di Amarasi juga membawa kesan haru. Banyak warga yang terisak lirih, bukan karena penderitaan, tapi karena merasa benar – benar dilihat dan dihargai oleh pemimpinnya.

Ini bukan hanya cerita tentang gerakan sehat. Ini adalah kisah tentang dua pemimpin muda yang membawa semangat baru.

Mereka tidak datang membawa janji, tapi membawa diri. Tidak sekadar memimpin dari kantor, tapi hadir dalam peluh, tawa, dan doa rakyatnya.

Dan Amarasi hari itu menjadi saksi bahwa harapan itu belum padam—bahwa di sudut-sudut desa, matahari dan bulan masih bersinar bersamaan.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.