BB — Di tengah hiruk pikuk tantangan pendidikan di Indonesia Timur, secercah cahaya datang dari Kabupaten Kupang. Bupati Kupang, Yosef Lede mencatat sejarah sebagai Pejabat Inspirator Guru Penulis Nasional 2025 yang dianugerahkan oleh Yayasan Agupena dalam Rakornas Agupena di Universitas Negeri Jakarta, Sabtu (11/5/2025).

Penghargaan ini bukan sekadar simbol, melainkan cermin dari dedikasi seorang pemimpin yang melihat literasi sebagai pondasi peradaban.

Yosef Lede mendapat penghargaan tersebut atas perannya yang luar biasa dalam memotivasi para guru dan tenaga kependidikan untuk menulis, menuangkan gagasan dan kisah nyata ke dalam buku yang membangun semangat dan inspirasi.

Salah satu bukti nyata peran Bupati Kupang dalam membumikan literasi adalah sambutannya dalam buku biografi “Anak Petani Meraih Gelar Doktor”—kisah perjuangan Dr. Eliazer Teuf anak petani dari pedalaman Amarasi Timur yang pernah menjadi penjual ikan, hingga meraih gelar doktor.

Dalam sambutannya, Bupati Yosef menulis dengan getir dan haru:
“Ketekunan, kerja keras, dan doa yang tulus membuat sang Doktor meraih segala yang dicita-citakannya. Pejabat yang sangat menginspirasi dan memotivasi.”
Ia juga mengutip filosofi René Descartes “Cogito ergo sum” — aku berpikir maka aku ada, sebagai refleksi atas perjalanan hidup dan kepemimpinannya.

“Kemarin saya berpikir, maka hari ini saya ada sebagai Bupati Kupang untuk membangun Kabupaten Kupang tercinta dalam segala aspek kehidupan masyarakat,” ungkapnya penuh makna.

Tak hanya memberi motivasi, Bupati Yosef juga membuktikan komitmennya melalui aksi nyata. Pada peringatan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2025 lalu, ia secara resmi melaunching sembilan buku karya para guru Kupang, disaksikan secara langsung dan virtual oleh jajaran Agupena pusat.

Launching ini ditandai dengan pelepasan sembilan balon ke udara—simbol bahwa karya-karya mereka akan terbang tinggi menembus batas-batas wilayah dan waktu.

Dalam Rakornas Agupena, Kabupaten Kupang ditetapkan sebagai daerah dengan jumlah penulis dan buku terbanyak, menjadikannya ikon baru literasi Indonesia Timur.

Ketua Yayasan Agupena Provinsi NTT, Dra. Lilis Ika Herpianti Sutikno, S.H., tak kuasa menahan haru. Lewat akun media sosialnya, ia menulis:
“Terharu mengharu biru… NTT membawa perubahan menuju provinsi literasi terbaik se-Indonesia. Bismillahirrahmanirrahim… Alhamdulillah…NTT the best, dari Bupati, Kepala Dinas, hingga para guru semua membawa pulang penghargaan.”
Namun di balik euforia itu, terselip kesedihan yang mendalam. Sebab, hingga kini para guru penulis di Kabupaten Kupang masih harus menanggung beban biaya penulisan secara mandiri.

Mereka menulis bukan karena disuruh, tapi karena cinta—cinta pada ilmu, dan pada anak-anak bangsa.

“Kami berharap ke depan ada dukungan anggaran dari pemerintah daerah. Guru-guru ini menulis pakai uang pribadi, tapi semangat mereka luar biasa,” ungkap Lilis.

Selain Bupati Kupang, penghargaan Penulis Inspirator 2025 juga diberikan kepada enam guru dari Kabupaten Kupang, termasuk Lilis sendiri yang memimpin gerakan Sagu Satu—satu guru satu buku per tahun.

Literasi bukan sekadar tentang buku. Ia adalah tentang harapan. Tentang keyakinan bahwa dari desa terpencil sekalipun, lahir pemimpin dan pemikir besar.

Dan hari ini, dari tanah gersang NTT, suara literasi itu menggema ke seluruh negeri—membawa pesan bahwa pendidikan dan kepemimpinan yang tulus bisa menembus batas.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.