Kupang, BBC — Di tengah musim hujan yang kerap menghadirkan kejutan getir dari alam, sebuah peristiwa dramatis mengguncang ruang publik digital. Video yang memperlihatkan kendaraan dinas Satpol PP milik Pemerintah Kabupaten Kupang terseret arus banjir di Sungai Pinang, Desa Nuataus, Kecamatan Fatuleu Barat, mendadak viral di berbagai platform media sosial dan memantik beragam tafsir serta emosi warganet.

Sebagian publik sempat menduga pengemudi bertindak nekat menerobos banjir. Namun klarifikasi resmi yang disampaikan pihak Prokopim Kabupaten Kupang menegaskan bahwa peristiwa tersebut bukanlah buah kelalaian, melainkan tragedi alam yang datang tiba-tiba, tanpa aba-aba, tanpa jeda, dan tanpa ruang bagi manusia untuk bersiap.

Peristiwa memilukan itu terjadi setelah rangkaian kegiatan kerja Bupati Kupang, Yosef Lede, di wilayah Kecamatan Fatuleu Barat pada Jumat (13/2).

Dalam agenda tersebut, Bupati bersama rombongan menyalurkan bantuan perlengkapan sekolah bagi peserta didik SD kelas 1 dan SMP kelas 7 se-kecamatan, yang dipusatkan di SDI Siumolo — sebuah momentum yang semula sarat harapan, keceriaan dan doa bagi masa depan generasi muda.

Selain kegiatan pendidikan, rombongan juga meninjau secara langsung kondisi wilayah terdampak banjir serta jembatan yang rubuh di Desa Siumolo, seolah menyaksikan bagaimana alam, dalam satu hentakan waktu, dapat meruntuhkan apa yang manusia bangun dengan susah payah.

Sebagai wujud tanggung jawab kemanusiaan, pemerintah daerah bahkan menurunkan satu unit excavator untuk melakukan normalisasi Kali Siumolo. Upaya tersebut menjadi simbol nyata bahwa di tengah luka bencana, negara tetap hadir sebagai tangan yang berusaha menata kembali harapan.

Usai seluruh agenda selesai, rombongan Bupati bertolak kembali menuju Kantor Bupati di Kabupaten Kupang. Sekitar pukul 10.45 Wita, mereka tiba di Sungai Pinang.

Menurut staf prokopim Kabupaten Kupang, Lily, kondisi air saat mobil patwal memasuki aliran sungai masih relatif aman. Debit air belum mencapai tinggi ban kendaraan, dan jalur crossway di dalam sungai tampak masih dapat dilalui meski sempit dan licin.

Pengemudi sempat mengambil ancang-ancang untuk melintasi jalur tersebut. Namun, seperti takdir alam yang kerap bergerak di luar perhitungan manusia, banjir bandang tiba-tiba datang dari arah hulu.

“Ketika mobil masuk, air belum tinggi. Tapi tiba-tiba banjir besar datang dan arusnya sangat kuat hingga menyeret mobil,” ungkap Lily, dengan nada yang menyiratkan betapa cepatnya peristiwa itu berlangsung.

Dalam sekejap, ketenangan berubah menjadi kepanikan. Alam yang semula tampak jinak mendadak menunjukkan wajahnya yang tak tertebak.

Arus deras yang datang mendadak membuat mobil patwal kehilangan kendali dan terseret sekitar 500 meter dari titik awal. Kendaraan itu terombang-ambing di atas air, bagai daun kering yang dipermainkan angin musim, hingga akhirnya tertahan oleh sebuah pohon besar di tepi sungai.

Di dalam mobil terdapat tiga orang: seorang anggota Satpol PP sebagai pengemudi, seorang kameraman Prokopim, serta ajudan Bupati.

Dalam situasi yang nyaris melampaui batas ketakutan manusia, mereka memilih bertahan di dalam kendaraan. Keputusan itu menjadi penentu keselamatan, sebab membuka pintu di tengah arus deras sama artinya menyerahkan diri pada ketidakpastian.

Saat kejadian berlangsung, kendaraan Bupati masih berada di pinggir sungai. Menyaksikan situasi darurat tersebut, Bupati Yosef Lede bersama staf segera turun dan berupaya memberikan pertolongan.

“Kami bersyukur tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini,” ujar Lily, kalimat yang sederhana namun sarat makna: bahwa di tengah ancaman maut, keselamatan tetap menjadi anugerah yang tak ternilai.

Salah satu korban selamat, kameraman Prokopim Jhon Humau, menuturkan detik-detik mencekam yang masih membekas dalam ingatan.

Ia menjelaskan bahwa mobil sebenarnya hampir keluar dari aliran sungai ketika sopir mencoba mengambil haluan di jalur sempit dan licin.

“Tiba-tiba banjir besar muncul dari arah kiri. Tingginya sekitar dua meter dan langsung menghantam mobil,” katanya.

Selama kendaraan terseret, seluruh penumpang berusaha tetap tenang dan tidak membuka pintu, menyadari bahwa kepanikan hanya akan mempercepat petaka. Mereka menunggu hingga mobil tersangkut pada pohon sebelum akhirnya keluar dan menyelamatkan diri.

Meski trauma masih membayang, Jhon memastikan semua kru selamat, bahkan perlengkapan kamera dan rekaman kegiatan tetap aman — seolah menjadi metafora bahwa di tengah bencana, dokumentasi kebenaran tetap bertahan.

Keterangan resmi dari Prokopim Kabupaten Kupang sekaligus menjadi penegasan atas berbagai spekulasi yang beredar di media sosial. Mereka menegaskan bahwa kendaraan tidak menerobos banjir, melainkan terjebak oleh banjir bandang yang datang secara tiba-tiba dan sulit diprediksi.

Peristiwa ini menjadi pengingat mendalam bahwa manusia, sekuat apa pun teknologi dan perencanaannya, tetap berada dalam keterbatasan di hadapan alam.

Ia juga menjadi pelajaran kolektif tentang pentingnya kewaspadaan saat melintasi sungai atau jalur rawan banjir, terutama di musim hujan dengan potensi cuaca ekstrem.

Pemerintah daerah mengimbau masyarakat agar selalu mengutamakan keselamatan dan tidak memaksakan diri melintasi aliran air apabila terdapat tanda-tanda peningkatan debit secara mendadak.

Sebab pada akhirnya, dalam setiap peristiwa bencana, yang paling berharga bukanlah kendaraan, jabatan, atau materi, melainkan satu hal yang tak tergantikan: nyawa manusia dan kesempatan untuk kembali pulang.***

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.