KUPANG, BBC — Tidak semua harapan lahir dari sesuatu yang besar. Sebagian tumbuh diam-diam dari halaman rumah, dari kebun yang sederhana, dari hasil bumi yang selama ini dianggap biasa, bahkan dari setandan pisang yang mungkin tak pernah dibayangkan mampu mengubah kehidupan sebuah keluarga.
Di Kabupaten Kupang, pisang bukanlah sesuatu yang sulit ditemukan. Buah itu tumbuh di tengah kehidupan masyarakat, menemani keseharian keluarga dan menjadi bagian dari kekayaan pangan lokal. Namun, di balik kesederhanaannya, tersimpan peluang yang dapat membuka jalan menuju kemandirian ekonomi.
Dari pisang dapat dibuat tepung. Dari tepung dapat lahir beragam produk olahan. Dan dari tangan-tangan perempuan yang tekun, potensi sederhana itu dapat bertumbuh menjadi usaha, sumber penghasilan, serta harapan bagi keluarga yang ingin menjalani kehidupan lebih sejahtera.
Semangat itulah yang mengemuka ketika Bupati Kupang Yosef Lede membuka kegiatan Sosialisasi Peningkatan Kapasitas Kesejahteraan Keluarga bagi Sekolah/Kelompok Perempuan melalui Pelatihan Pembuatan Tepung Pisang dan Produk Olahannya Tingkat Kabupaten Kupang Tahun 2026.
Kegiatan tersebut berlangsung pada Kamis (8/10/2026) pagi di Gereja Ebenhaezer Tarus Barat, Kelurahan Tarus, Kecamatan Kupang Tengah.
Di tempat itu, pelatihan bukan sekadar pertemuan untuk mempelajari cara mengolah bahan pangan. Lebih dari itu, terdapat harapan agar perempuan mampu melihat kembali potensi yang tumbuh di sekitar mereka, kemudian mengubahnya menjadi kekuatan ekonomi yang dapat menopang kehidupan keluarga.
Sebab, di balik setiap keluarga yang berjuang memenuhi kebutuhan hidup, selalu ada tangan-tangan yang bekerja, ada pengorbanan yang tidak banyak diceritakan, dan ada harapan yang tetap dipelihara meskipun keadaan tidak selalu mudah.
Bagi Yosef Lede, pemberdayaan masyarakat membutuhkan kerja bersama. Pemerintah, gereja, masyarakat dan kelompok perempuan memiliki peran penting dalam mendorong pembangunan daerah.
Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi atas kolaborasi berbagai pihak yang mendukung pelaksanaan program pemberdayaan tersebut.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Kupang, saya menyampaikan terima kasih atas inisiatif dan pelaksanaan program ini. Saya juga menyampaikan apresiasi kepada gereja yang terus mendukung pemerintah dalam berbagai program pembangunan daerah,” ujar Bupati.
Bagi sebagian orang, pisang mungkin hanya buah yang dipetik ketika matang, dijual ketika berlebih, atau diolah menjadi makanan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Namun, dalam pandangan pembangunan ekonomi, sesuatu yang sederhana dapat memiliki nilai berbeda ketika disentuh oleh pengetahuan, kreativitas dan keberanian untuk berinovasi.
Di sinilah Yosef Lede menaruh perhatian.
Ia menekankan bahwa pelatihan bagi kelompok perempuan tidak boleh berhenti pada keterampilan dasar. Peserta harus memperoleh pengetahuan baru yang dapat diterapkan setelah kembali ke rumah masing-masing.
Baginya, kegiatan pemberdayaan tidak cukup hanya menghasilkan orang-orang yang mengetahui cara membuat suatu produk. Pelatihan harus mampu menumbuhkan keberanian untuk menciptakan sesuatu yang berbeda, mengembangkan kreativitas, dan membuka peluang usaha.
Ia menginginkan agar peserta tidak pulang hanya dengan membawa pengalaman mengikuti kegiatan, tetapi juga membawa keterampilan yang dapat dipraktikkan dan dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Kalau hanya belajar membuat kue pisang yang biasa-biasa saja, sebenarnya tidak perlu datang mengikuti pelatihan. Yang kita harapkan adalah ada sesuatu yang baru yang dipelajari, ada inovasi dan kreasi baru yang bisa dibawa pulang dan dilaksanakan,” tegasnya.
Pesan itu menyimpan makna yang lebih dalam daripada sekadar tuntutan untuk menghasilkan produk baru.
Di tengah kehidupan keluarga yang harus terus berhadapan dengan kebutuhan pangan, pendidikan anak dan berbagai keperluan rumah tangga, keterampilan dapat menjadi salah satu jalan untuk memperluas kesempatan memperoleh penghasilan.
Perempuan tidak seharusnya hanya menjadi penonton ketika potensi di sekelilingnya memiliki peluang untuk dikembangkan. Mereka perlu memperoleh ruang untuk belajar, menciptakan, memproduksi dan membangun kemandirian.
Sebab, pengetahuan yang hanya berhenti di ruang pelatihan tidak akan mengubah keadaan. Keterampilan baru menemukan maknanya ketika mulai digunakan, sementara inovasi akan semakin berarti ketika mampu memberikan manfaat bagi kehidupan.
Kabupaten Kupang memiliki potensi pangan lokal yang dapat dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi. Salah satunya adalah pisang, bahan pangan yang mudah diperoleh dan dekat dengan kehidupan masyarakat.
Yosef Lede mendorong kelompok perempuan untuk memanfaatkan potensi tersebut melalui pengembangan produk olahan yang memiliki nilai tambah.
Ia memandang pengolahan pisang sebagai bagian dari upaya hilirisasi pangan lokal, yakni mengembangkan bahan mentah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Dengan kreativitas dan keterampilan yang tepat, pisang tidak harus berhenti sebagai hasil kebun yang dijual dalam bentuk mentah. Bahan pangan itu dapat diolah menjadi tepung dan berbagai produk lain yang berpotensi dikembangkan sebagai kegiatan usaha.
“Pisang ini ada di mana-mana. Kita harus mampu menciptakan inovasi dari bahan yang ada sehingga menjadi produk yang memiliki nilai tambah. Dengan begitu, ada peningkatan pendapatan bagi mama-mama dan keluarga,” katanya.
Kalimat itu membawa perhatian kembali kepada sesuatu yang sering luput dari pandangan: peluang tidak selalu datang dalam bentuk modal besar atau usaha yang membutuhkan tempat luas.
Terkadang, peluang berada begitu dekat, tumbuh di tanah sendiri, tetapi belum sepenuhnya dikenali nilainya.
Di tangan yang terampil, pisang dapat menjadi bahan baku. Di tangan yang kreatif, bahan baku dapat menjadi produk. Dan ketika produk itu dikembangkan secara konsisten, terbuka kesempatan untuk membangun usaha yang memberikan tambahan penghasilan bagi keluarga.
Namun, jalan menuju kemandirian tentu membutuhkan lebih dari sekadar kemauan.
Diperlukan pengetahuan, kesempatan untuk berlatih, pendampingan, inovasi, serta keberlanjutan agar keterampilan yang diperoleh tidak berhenti sebagai kenangan dari sebuah kegiatan.
Karena itu, pelatihan menjadi penting ketika mampu membuka pintu menuju praktik nyata, terutama bagi perempuan yang ingin mengembangkan potensi lokal menjadi sumber penghidupan.
Yosef Lede berharap pelatihan serupa pada masa mendatang dapat dilaksanakan secara lebih intensif dengan durasi yang lebih panjang.
Menurutnya, peserta membutuhkan waktu yang cukup untuk memahami materi, mempraktikkan keterampilan dan menghasilkan produk yang siap dikembangkan.
Harapan tersebut memperlihatkan bahwa pemberdayaan tidak semestinya diukur hanya dari terlaksananya sebuah kegiatan, banyaknya peserta yang hadir, atau materi yang selesai disampaikan.
Ukuran yang lebih bermakna terletak pada apa yang dapat dilakukan peserta setelah pelatihan berakhir.
Apakah keterampilan itu benar-benar dipraktikkan? Apakah produk yang dipelajari dapat dikembangkan? Apakah pengetahuan tersebut membuka kesempatan untuk meningkatkan pendapatan keluarga?
Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi penting karena perubahan ekonomi tidak selalu hadir dalam waktu singkat.
Ada proses yang harus dilalui, ada keterampilan yang perlu diasah dan ada keberanian yang harus terus dipelihara ketika seseorang mulai mencoba sesuatu yang baru.
Bagi perempuan yang ingin mengembangkan usaha dari rumah, setiap pengetahuan baru dapat menjadi bekal untuk melangkah.
Namun, bekal tersebut membutuhkan kesempatan agar dapat berkembang menjadi kemampuan yang produktif.
Pemerintah Kabupaten Kupang, kata Yosef, akan terus mendukung program pemberdayaan yang memberikan dampak langsung terhadap peningkatan ekonomi masyarakat, termasuk melalui kerja sama dengan pemerintah pusat, kementerian dan lembaga terkait.
Dukungan tersebut diharapkan dapat memperkuat keberlanjutan program, sehingga pemberdayaan tidak berhenti ketika kegiatan selesai, melainkan terus bertumbuh melalui penerapan keterampilan dan pengembangan usaha.
Sebab, harapan sebuah keluarga tidak selesai pada hari ketika seseorang memperoleh pengetahuan baru. Harapan itu justru mulai diuji ketika pengetahuan tersebut dibawa pulang dan diperhadapkan dengan kenyataan hidup.
Di sanalah keterampilan harus menemukan jalannya. Di sanalah kreativitas diuji. Dan di sanalah sebuah potensi sederhana berpeluang berubah menjadi kekuatan ekonomi.
Bagi Yosef Lede, peningkatan keterampilan dan pendapatan keluarga merupakan bagian dari upaya mewujudkan visi Kabupaten Kupang menuju masyarakat yang makmur dan sejahtera.
Pemberdayaan perempuan menjadi salah satu jalan untuk mendekatkan harapan tersebut kepada kehidupan masyarakat.
Ketika perempuan memiliki keterampilan, mereka memperoleh kesempatan untuk memproduksi sesuatu dengan kemampuan sendiri. Ketika hasil produksi dapat dikembangkan menjadi usaha, terbuka peluang untuk menghasilkan pendapatan.
Dan ketika pendapatan keluarga meningkat, keluarga memiliki kesempatan yang lebih besar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Perjalanan itu mungkin tidak selalu mudah. Tidak semua usaha langsung menemukan pasar, tidak semua produk segera menghasilkan keuntungan dan tidak setiap langkah membawa hasil seperti yang diharapkan.
Namun, di antara berbagai keterbatasan, pengetahuan dan keterampilan dapat menjadi modal penting untuk terus mencoba.
Di balik dapur yang sederhana, mungkin ada seorang ibu yang sedang memikirkan biaya sekolah anaknya. Di balik kesibukan mengurus rumah tangga, mungkin ada perempuan yang menyimpan keinginan untuk membantu suaminya memenuhi kebutuhan keluarga. Di balik hasil kebun yang selama ini dijual seadanya, mungkin ada peluang usaha yang belum sempat dikembangkan.
Kisah-kisah seperti itulah yang membuat pemberdayaan ekonomi keluarga memiliki arti lebih luas daripada sekadar angka produksi dan pendapatan.
Ia menyentuh kehidupan manusia, menyangkut kesempatan untuk bekerja, serta membuka kemungkinan agar keluarga dapat menjalani hari esok dengan lebih baik.
Karena itu, keterampilan yang diberikan kepada perempuan bukan sekadar pengetahuan tentang cara mengolah bahan pangan. Keterampilan tersebut dapat menjadi salah satu bekal untuk memperkuat kemandirian dan memperluas kesempatan ekonomi keluarga.
Yosef Lede menegaskan bahwa kemampuan perempuan untuk memproduksi, bekerja dan menghasilkan merupakan bagian dari langkah menuju cita-cita pembangunan Kabupaten Kupang.
“Kalau mama-mama sudah memiliki keterampilan, bisa memproduksi sendiri, bekerja sendiri dan menghasilkan, itu salah satu langkah menuju Kabupaten Kupang Emas,” pungkasnya
