BB — Di balik bukit yang sunyi, di tengah udara dingin dan langit mendung Desa Ekateta, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang, sebuah harapan besar akhirnya berdiri tegak.

Gedung SD Negeri Amnono, yang sejak lama hanya menjadi impian, kini hadir nyata — bukan karena proyek pemerintah, melainkan berkat swadaya masyarakat Dusun 3 Fatuoni yang tak rela masa depan anak-anak mereka terus tergadai.

Gedung sederhana itu adalah buah dari air mata, peluh, dan semangat gotong royong, yang tumbuh dari nurani, bukan kepentingan.

Di hari peresmian, tangis bahagia membaur dengan senyuman haru. Sebab, perjuangan panjang mereka membebaskan anak-anak dari belajar di bawah pohon akhirnya menemui terang.

Bertahun-tahun lamanya, anak-anak SDN Amnono menjalani proses belajar di bawah pohon, dengan tanpa bangku, tanpa papan tulis, tanpa atap pelindung. Hujan dan panas menjadi bagian dari pelajaran mereka.

Di tengah zaman yang mengagungkan teknologi dan digitalisasi pendidikan, realita ini begitu memilukan.

Salah satu tokoh kunci dalam pembangunan gedung sekolah ini adalah Melkianus Sabloit, putra daerah yang telah merantau ke Papua sejak 1977, namun hatinya tak pernah lepas dari tanah kelahiran. Saat kembali ke Ekateta dan melihat anak-anak belajar di tanah, Melkianus mengaku hatinya runtuh.

“Saya tidak sanggup lihat anak-anak belajar di tanah. Mereka generasi penerus. Tidak boleh dibiarkan seperti ini. Maka kami sepakat — jangan tunggu negara, kita bangun sendiri,” ungkapnya dengan mata berkaca,Jumat 27 Juni 2025

Pada tahun 2020, peletakan batu pertama dilakukan. Warga menyisihkan hasil kebun, tabungan pribadi, bahkan tenaga tanpa upah. Dana yang terkumpul mencapai Rp 54 juta, belum termasuk nilai kerja tukang yang seluruhnya dikerjakan secara sukarela oleh warga.

“Kami tidak punya anggaran. Tapi kami punya cinta. Dan cinta itu lebih kuat daripada alasan untuk menyerah,” ujarnya

Batu-batu dipikul dari sungai, dan semen dicampur dengan tangan-tangan kasar namun penuh harap. Mereka membangun tanpa kontraktor, tanpa tender, tanpa sorotan. Tapi mereka punya sesuatu yang lebih: rasa tanggung jawab kepada anak cucu.

Kini, SDN Amnono memiliki dua ruang kelas hasil swadaya, menyusul tiga ruang lain yang sebelumnya dibangun pemerintah. Bangunan ini bukan sekadar tempat belajar, tetapi simbol tekad, simbol cinta, dan simbol kemerdekaan dari ketergantungan.

Setiap batu yang disusun adalah cerita. Setiap bata yang ditumpuk adalah doa. Gedung ini hadir bukan karena anggaran, melainkan karena kepercayaan kolektif bahwa pendidikan adalah hak.

Kisah SDN Amnono adalah refleksi tentang disparitas pendidikan di wilayah tertinggal. Ia mengingatkan bahwa hingga hari ini, masih banyak anak Indonesia yang belajar tanpa fasilitas, dan masyarakat kerap kali bergerak lebih cepat daripada negara.

Kisah ini juga menjadi pengingat etis bagi para pemangku kebijakan: bahwa jika rakyat bisa bergerak tanpa anggaran, maka negara seharusnya lebih mampu bergerak tanpa alasan.

Hari ini, anak-anak SDN Amnono tak lagi belajar di bawah pohon. Mereka duduk di dalam kelas, di bawah atap, dengan harapan yang baru. Mereka belajar dengan cahaya matahari yang masuk dari jendela, bukan dari sela-sela dahan.

Gedung ini bukan milik pemerintah. Ia milik hati. Ia milik rakyat.
“Gedung ini mungkin tidak mewah. Tapi semangat yang membangunnya adalah fondasi bangsa.”

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.