KUPANG, BBC — Ada bangunan sekolah yang menyimpan lebih banyak kecemasan daripada yang mampu diungkapkan oleh dinding-dindingnya. Di bawah plafon yang rusak, di antara ruang-ruang yang harus berbagi fungsi, guru tetap mengabdi dan anak-anak terus datang membawa cita-cita.
Mereka ingin belajar, membaca dan mengenal dunia, meski tempat yang seharusnya menjadi rumah bagi ilmu pengetahuan itu belum sepenuhnya memberikan kenyamanan dan rasa aman.
Di SD Negeri Batu Esa, Desa Sumlili, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), harapan anak-anak kini berhadapan dengan kenyataan bangunan sekolah yang mengalami kerusakan berat.
Menjelang musim penghujan, kondisi tersebut menghadirkan kecemasan tersendiri bagi pihak sekolah, terutama terkait kelayakan bangunan dan keberlangsungan kegiatan belajar mengajar.
Persoalan itu bukan semata-mata tentang atap, plafon, atau dinding yang membutuhkan perbaikan. Lebih jauh, kondisi SD Negeri Batu Esa mengingatkan bahwa pendidikan yang berkualitas membutuhkan lingkungan belajar yang layak, sarana pendukung yang memadai, serta perhatian berkelanjutan terhadap keselamatan dan kebutuhan peserta didik.
Pada Kamis pagi, 8 Oktober 2026, Wakil Bupati Kupang, Aurum Obe Titu Eki, meninjau langsung kondisi sekolah tersebut. Kunjungan itu menjadi kesempatan untuk melihat dari dekat kerusakan bangunan sekaligus mendengarkan berbagai keterbatasan yang selama ini dihadapi pihak sekolah.
Mengenakan kemeja hitam dan celana berwarna putih keabu-abuan, Aurum menyusuri ruangan demi ruangan. Ia memperhatikan kondisi fisik bangunan, termasuk bagian plafon yang telah mengalami kerusakan parah.
Di sejumlah sudut, kerusakan itu memperlihatkan kebutuhan akan penanganan yang tidak bisa dipandang sebagai persoalan biasa.
Aurum menggunakan telepon selulernya untuk mendokumentasikan bagian-bagian bangunan yang rusak sebagai gambaran faktual mengenai kondisi sekolah.
Dokumentasi tersebut menjadi bagian dari upaya memahami persoalan secara langsung. Sebab, membicarakan pembangunan pendidikan tidak cukup hanya dengan menghitung jumlah peserta didik, menyusun kurikulum, atau menetapkan target capaian akademik.
Pendidikan juga menyangkut ruang tempat guru menjalankan pengabdian, tempat anak-anak membangun pengetahuan, serta lingkungan yang memungkinkan mereka belajar tanpa dibayangi kecemasan.
Di hadapan Wakil Bupati Kupang, kepala sekolah menjelaskan bahwa keterbatasan SD Negeri Batu Esa tidak hanya terletak pada kerusakan fisik bangunan. Sekolah tersebut juga belum memiliki ruang kepala sekolah dan ruang guru yang terpisah.
Berbagai fungsi pelayanan pendidikan terpaksa dijalankan dalam satu ruangan. Ruang yang sama digunakan untuk kepala sekolah, guru, Unit Kesehatan Sekolah (UKS) dan perpustakaan.
Kondisi tersebut memperlihatkan keterbatasan sarana dan prasarana yang berdampak terhadap kenyamanan serta efektivitas penyelenggaraan pendidikan.
Ruangan yang seharusnya mendukung beragam fungsi pelayanan harus menampung aktivitas berbeda dalam ruang yang sama.
Dampaknya terasa hingga ke salah satu unsur penting dalam proses belajar, yakni perpustakaan.
Fasilitas yang semestinya menjadi pintu bagi anak-anak untuk menjelajahi dunia melalui buku itu belum memiliki ruang tersendiri yang memadai.
Kepala sekolah mengungkapkan keterbatasan tersebut dengan nada prihatin.
“Ruang kepala sekolah dan ruang guru tidak ada. Semua kami gabung di satu ruangan, di dalamnya ada ruang UKS, kepala sekolah, ruang guru ini menjadi satu dalam satu ruangan dan perpustakaan sehingga anak-anak ketika mau membaca tidak ada tempat untuk mereka,” ungkapnya.
Pernyataan itu menggambarkan persoalan yang lebih luas daripada sekadar kekurangan ruangan. Ketika perpustakaan tidak memiliki tempat yang memadai, kesempatan anak-anak untuk membaca, memperluas wawasan dan membangun kebiasaan belajar ikut menghadapi keterbatasan.
Padahal, membaca merupakan fondasi penting dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis, memperkaya pengetahuan dan menumbuhkan kemandirian belajar sejak usia sekolah dasar.
Buku-buku semestinya menjadi jendela yang membawa anak-anak melampaui batas kampung halaman mereka. Melalui bacaan, mereka dapat mengenal tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi, memahami kehidupan yang belum pernah dialami dan membayangkan masa depan yang lebih luas daripada keadaan yang mereka hadapi hari ini.
Namun, ketika ruang untuk membaca belum tersedia secara memadai, kesempatan itu tidak dapat dinikmati sebagaimana mestinya.
Di tengah keterbatasan tersebut, guru tetap menjalankan tugas pendidikan dan anak-anak terus membutuhkan lingkungan belajar yang layak.
Semangat mereka patut dijaga, tetapi semangat saja tidak cukup untuk menggantikan kebutuhan terhadap bangunan yang aman dan fasilitas pendidikan yang memadai.
Kondisi bangunan yang mengalami kerusakan berat menjadi semakin mendesak karena musim penghujan semakin dekat. Pihak sekolah mengkhawatirkan keadaan bangunan apabila tidak segera mendapatkan perhatian dan penanganan yang sesuai.
Kepala sekolah berharap pemerintah dapat melihat kebutuhan tersebut sebagai persoalan yang perlu ditangani secara serius.
“Kepsek sangat berharap karena saat sudah mendekati musim penghujan kalau tidak perhatian maka kami kesulitan,” harapnya.
Harapan itu lahir dari kebutuhan nyata di lingkungan sekolah. Ketika hujan mulai turun, bangunan yang rusak dapat menambah kesulitan dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Karena itu, kondisi fisik sekolah membutuhkan pemeriksaan dan penanganan yang mempertimbangkan keselamatan warga sekolah.
Bagi anak-anak, musim hujan seharusnya menjadi bagian biasa dari pergantian musim, bukan sumber kecemasan ketika mereka hendak berangkat menuntut ilmu. Mereka semestinya dapat memusatkan perhatian pada pelajaran, bukan dibayangi kekhawatiran mengenai kondisi ruang tempat mereka belajar.
Dalam perspektif pembangunan sumber daya manusia, sarana pendidikan merupakan bagian mendasar dari pelayanan publik. Ketersediaan ruang yang layak, fasilitas pendukung yang sesuai kebutuhan, serta bangunan yang terpelihara menjadi unsur penting dalam menciptakan proses pembelajaran yang efektif.
Karena itu, kerusakan SD Negeri Batu Esa membutuhkan penilaian menyeluruh, mulai dari pemeriksaan kondisi bangunan, pendataan kebutuhan perbaikan, hingga penentuan mekanisme penanganan berdasarkan ketentuan dan kemampuan anggaran.
Persoalan ini juga menunjukkan bahwa pemerataan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan kesempatan anak-anak untuk bersekolah.
Pemerataan harus disertai perhatian terhadap kondisi tempat mereka belajar, sehingga hak memperoleh pendidikan dapat didukung oleh sarana yang layak.
Menanggapi penjelasan pihak sekolah, Wakil Bupati Kupang, Aurum Obe Titu Eki, mengatakan bahwa pemerintah akan menelusuri kemungkinan penanganan melalui program revitalisasi sekolah.
Menurut Aurum, sektor pendidikan memiliki program revitalisasi yang dapat menjadi salah satu jalur untuk memperbaiki sarana dan prasarana sekolah. Namun, perlu dipastikan terlebih dahulu apakah SD Negeri Batu Esa telah masuk dalam daftar usulan program tersebut atau masih berada pada tahapan tertentu.
Ia juga menjelaskan bahwa pelaksanaan program revitalisasi untuk tahun ini memiliki batasan sehingga tidak serta-merta memungkinkan setiap kebutuhan sekolah ditangani melalui program tersebut.
“Di bidang pendidikan itu ada revitalisasi nanti kita melihat apakah sekolah ini sudah masuk dalam daftar usulan revitalisasi atau masih dalam tahap ke berapa,” kata Aurum.
Ia menambahkan, “Untuk tahun ini untuk revitalisasi yang tentu kita tidak bisa lagi karena ada batasan.”
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa penanganan kerusakan sekolah perlu mempertimbangkan mekanisme program, tahapan pengusulan, serta ketersediaan anggaran.
Pemeriksaan terhadap status usulan revitalisasi menjadi langkah penting untuk mengetahui jalur penanganan yang memungkinkan ditempuh.
Meski demikian, kebutuhan sekolah dalam menghadapi musim penghujan tetap memerlukan perhatian.
Aurum menyampaikan dua alternatif yang akan ditelusuri lebih lanjut, yakni kemungkinan penanganan untuk mengantisipasi musim hujan dan pemeriksaan kembali status pengusulan revitalisasi.
Mengenai alternatif pertama, Aurum menjelaskan kemungkinan melakukan konsultasi untuk mengetahui apakah terdapat langkah yang dapat ditempuh guna mengantisipasi kondisi bangunan saat musim hujan tiba.
“Sehingga Aurum telah memberikan dua alternatif setelah saya beranjak dari sini coba saya konsultasi kan apakah memungkinkan untuk mengantisipasi saat musim hujan tiba kalau pun kemungkinan.”
Alternatif tersebut diarahkan untuk mencari kemungkinan penanganan dalam waktu dekat, dengan tetap mempertimbangkan kondisi bangunan dan ketentuan yang berlaku. Mengingat sekolah mengalami kerusakan berat, setiap langkah sementara perlu didasarkan pada penilaian kondisi fisik bangunan dan pertimbangan keselamatan.
Sementara itu, alternatif kedua adalah memeriksa kembali data pengusulan revitalisasi untuk mengetahui posisi SD Negeri Batu Esa dalam tahapan program.
Aurum mengatakan bahwa revitalisasi merupakan salah satu jalur prioritas yang perlu ditelusuri untuk melihat kemungkinan perbaikan sarana pendidikan di sekolah tersebut.
“Sementara solusi kedua adalah saya juga cek revitalisasinya kemarin itu masuknya di mana. Karena revitalisasi ini masuk kategori prioritas sehingga Aurum mencoba untuk cek data ini.”
Kedua alternatif tersebut memperlihatkan dua kebutuhan yang perlu diperiksa secara bersamaan. Pertama, kemungkinan penanganan untuk menghadapi risiko dalam waktu dekat.
Kedua, kejelasan status pengusulan revitalisasi sebagai bagian dari upaya perbaikan yang lebih menyeluruh.
Namun, tindak lanjutnya masih bergantung pada hasil konsultasi, pemeriksaan data, ketentuan program, serta kemungkinan dukungan anggaran. Dengan demikian, kepastian mengenai status usulan dan bentuk penanganan yang dapat dilaksanakan menjadi bagian penting dari proses selanjutnya.
Peninjauan langsung tersebut menjadi langkah awal untuk mengenali persoalan yang dihadapi SD Negeri Batu Esa.
Tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa kondisi yang telah dilihat dan didokumentasikan dapat ditindaklanjuti melalui pemeriksaan teknis serta keputusan penanganan yang sesuai dengan kebutuhan sekolah.
Kondisi SD Negeri Batu Esa mengingatkan bahwa pembangunan pendidikan tidak berhenti pada kurikulum, kegiatan belajar mengajar, atau capaian akademik peserta didik.
Pendidikan juga membutuhkan lingkungan yang mendukung setiap proses belajar, mulai dari ruang administrasi, fasilitas kesehatan, hingga perpustakaan yang memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk membaca.
Ruang kepala sekolah dan ruang guru diperlukan untuk menunjang administrasi serta koordinasi pembelajaran. UKS mendukung pelayanan kesehatan di lingkungan sekolah, sedangkan perpustakaan menjadi bagian penting dalam membangun budaya literasi sejak dini.
Ketika seluruh fungsi tersebut harus berbagi satu ruangan, keterbatasan fasilitas menjadi persoalan yang patut diperhitungkan dalam perencanaan pembangunan pendidikan daerah.
Pada saat yang sama, kerusakan berat pada bangunan membutuhkan pemeriksaan teknis untuk menentukan tingkat kerusakan, kebutuhan perbaikan dan langkah pengamanan yang tepat.
Penanganan sementara, apabila memungkinkan, tidak boleh mengabaikan keselamatan warga sekolah maupun menggantikan perbaikan menyeluruh apabila hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa tindakan tersebut diperlukan.
Di Desa Sumlili, persoalan itu kini hadir dalam wajah sebuah sekolah yang menanti perhatian. Di balik plafon yang rusak dan ruangan yang harus menampung beragam fungsi, ada anak-anak yang tetap membutuhkan tempat untuk membaca, menulis, bertanya dan menumbuhkan keberanian untuk bermimpi.
Mereka tidak memilih di mana harus dilahirkan. Mereka tidak menentukan bagaimana bangunan sekolah didirikan dan mereka tidak memiliki kewenangan untuk menentukan kapan fasilitas pendidikan diperbaiki. Namun, mereka berhak mendapatkan lingkungan belajar yang layak dan mendukung perkembangan pengetahuan.
Bagi mereka, sekolah bukan sekadar bangunan tempat mengikuti pelajaran.
Sekolah adalah tempat mengenali kemampuan diri, menemukan cita-cita dan belajar bahwa masa depan dapat dibangun melalui pengetahuan dan kerja keras.
Karena itu, harapan anak-anak SD Negeri Batu Esa tidak semestinya dibiarkan berjalan sendirian di tengah keterbatasan fasilitas. Perhatian terhadap kondisi sekolah perlu diterjemahkan menjadi langkah nyata melalui pemeriksaan, kejelasan rencana penanganan dan tindak lanjut sesuai mekanisme yang berlaku.
Sebelum hujan benar-benar menjadi ujian bagi sekolah itu, masih ada kesempatan untuk menilai kebutuhan, menyusun langkah, dan mencari jalan keluar.
Atap sekolah boleh rapuh, tetapi harapan anak-anak tidak boleh ikut runtuh. Mereka membutuhkan lebih dari sekadar ruang untuk hadir dan duduk di dalam kelas. Mereka membutuhkan tempat yang aman untuk belajar hari ini, ruang untuk membaca dan memperluas wawasan, serta kesempatan untuk menumbuhkan mimpi tentang hari esok.
Sebab, masa depan tidak hanya dibangun dari apa yang diajarkan guru di dalam kelas, tetapi juga dari kepedulian untuk memastikan bahwa setiap anak memiliki tempat yang layak untuk menerima ilmu pengetahuan.
