KUPANG, BBC — Dinding gereja boleh berdiri kokoh, atapnya dapat menaungi umat dari panas dan hujan, serta pintunya terbuka bagi siapa saja yang datang membawa doa. Namun, kemegahan sebuah rumah Tuhan tidak semata-mata diukur dari kuatnya bangunan, melainkan dari kasih yang tumbuh di dalamnya, kepedulian yang dihidupkan dan tangan yang terulur bagi sesama yang membutuhkan pertolongan.

Pesan itulah yang mengemuka dalam ibadah pentahbisan rumah kebaktian dan pastori Jemaat GMIT Ekklesia Airkom, Minggu (25/10/2026), yang dihadiri Bupati Kupang, Yosef Lede.

Peristiwa iman tersebut menjadi momentum sukacita dan ungkapan syukur atas penyertaan Tuhan sekaligus menandai babak baru bagi jemaat untuk memperkuat iman, memelihara persatuan, serta memperluas kontribusi bagi kehidupan masyarakat Kabupaten Kupang.

Di balik berdirinya sebuah gedung gereja, tersimpan perjalanan panjang yang tidak selalu mudah. Ada doa yang dipanjatkan dalam kesederhanaan, pengorbanan yang mungkin tidak pernah tercatat, tenaga yang dicurahkan dengan tulus, serta kebersamaan yang perlahan menyatukan harapan. Karena itu, pentahbisan rumah Tuhan bukan sekadar seremoni peresmian bangunan, melainkan pernyataan syukur atas perjalanan iman dan tanggung jawab untuk menjadikan kasih sebagai fondasi kehidupan bersama.

Dalam sambutannya, Bupati Kupang Yosef Lede menyampaikan apresiasi kepada seluruh jemaat yang telah memberikan yang terbaik bagi pembangunan rumah Tuhan. Ia menilai, selesainya pembangunan gedung gereja merupakan buah dari ketaatan, kebersamaan, kerja keras dan komitmen jemaat dalam membangun kehidupan persekutuan.

“Jadikanlah rumah ini sebagai tempat pertemuan bersama-sama dengan Yesus. Jadikanlah rumah ini sebagai rumah berkat, bukan hanya untuk jemaat, tetapi juga untuk masyarakat,”

Pesan tersebut menegaskan bahwa gereja memiliki makna yang jauh melampaui dimensi fisik sebuah bangunan. Rumah Tuhan semestinya menjadi ruang perjumpaan antara iman dan kehidupan, tempat manusia belajar mengasihi tanpa membeda-bedakan, menguatkan mereka yang lemah, serta menghadirkan pengharapan bagi orang-orang yang sedang menghadapi kesulitan.

Sebab, tidak semua orang yang datang ke gereja membawa sukacita. Ada yang menyimpan kesedihan di balik senyumnya, ada keluarga yang berjuang menghadapi keterbatasan ekonomi dan ada anak-anak yang membutuhkan perhatian agar tidak kehilangan arah dalam perjalanan menuju masa depan.

Dalam kenyataan seperti itulah, kehadiran gereja menemukan makna sosialnya: bukan hanya sebagai tempat untuk menyampaikan doa, tetapi juga sebagai ruang untuk merawat kehidupan dan memulihkan harapan.

Bupati Yosef Lede kembali menegaskan bahwa keberadaan gereja hendaknya memberikan dampak yang lebih luas bagi kehidupan jemaat dan masyarakat.

Menurutnya, gereja tidak hanya menjadi tempat umat datang untuk beribadah, tetapi juga ruang untuk mempererat persaudaraan, membangun kepedulian dan menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitar.

“Segala sesuatu telah selesai dikerjakan, maka mari kita kembali berkumpul untuk bersekutu dan beribadah. Jadikan tempat ini sebagai rumah berkat bagi semua,”

Pernyataan tersebut mengandung pesan bahwa pembangunan fisik harus berjalan seiring dengan pembangunan kualitas kehidupan manusia.

Gedung gereja yang telah selesai dibangun merupakan capaian penting, tetapi pemanfaatannya secara berkelanjutan menjadi tanggung jawab bersama.

Bangunan yang kokoh perlu dihidupkan melalui pelayanan yang nyata, persaudaraan yang terpelihara dan kepedulian yang mampu menjangkau masyarakat di luar tembok gereja.

Dalam perspektif pembangunan sosial, rumah ibadah juga memiliki potensi strategis sebagai pusat penguatan nilai, pembentukan karakter, pendidikan moral dan pemberdayaan masyarakat.

Kehadirannya dapat menjadi bagian dari upaya membangun kehidupan sosial yang inklusif, memperkuat solidaritas antargenerasi, serta menumbuhkan tanggung jawab bersama terhadap masa depan daerah.

Karena itu, Yosef Lede menekankan bahwa pembangunan tidak boleh berhenti pada berdirinya bangunan yang kokoh. Fasilitas yang tersedia perlu dimanfaatkan untuk membangun sumber daya manusia dan mengembangkan budaya melalui pembinaan anak-anak serta berbagai kegiatan positif lainnya.

“Gereja sudah dibangun dan sudah bagus, tetapi tidak boleh hanya untuk ibadah. Harus ada ruang-ruang lain yang dapat dimanfaatkan untuk membangun sumber daya manusia, melalui pembinaan karakter anak, termasuk anak sekolah minggu dan kegiatan positif lain yang bermanfaat bagi masyarakat”.

Pesan tersebut menempatkan anak-anak sebagai bagian penting dari keberlanjutan pelayanan gereja. Pembinaan karakter sejak usia dini bukan hanya berkaitan dengan pengenalan nilai-nilai keagamaan, tetapi juga pembentukan kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, penghormatan terhadap sesama dan kepekaan terhadap persoalan sosial.

Di tengah perubahan zaman yang semakin kompleks, anak-anak membutuhkan lingkungan yang mampu memberikan keteladanan, rasa aman, serta ruang untuk mengembangkan potensi mereka.

Gereja dapat mengambil bagian dalam proses tersebut melalui pendidikan iman, kegiatan kreatif, pendampingan dan pembinaan yang relevan dengan kebutuhan generasi muda.

Sebab, masa depan tidak hanya dibangun melalui gedung-gedung yang menjulang, tetapi juga melalui karakter manusia yang bertumbuh di dalamnya. Sebuah bangunan mungkin dapat diselesaikan dalam hitungan waktu, tetapi pembentukan karakter membutuhkan kesabaran, ketekunan dan kasih yang terus-menerus diberikan, bahkan ketika hasilnya belum segera terlihat.

Sementara itu, Ketua Majelis Jemaat Ekklesia Airkom, Pdt. Elizabeth Riwu-Ratu, menyampaikan terima kasih kepada Bupati Kupang dan seluruh pihak yang telah memberikan perhatian serta dukungan terhadap pembangunan dan pelayanan Jemaat Ekklesia Airkom.

“Terima kasih dukungan dari berbagai pihak, termasuk para donatur dan mitra pelayanan, telah menjadi bagian penting dalam perjalanan pembangunan jemaat dan tentunya turut mendukung pelayanan di bidang pendidikan, kemanusiaan dan pemberdayaan masyarakat”

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan gereja merupakan hasil dari partisipasi dan dukungan berbagai pihak. Di dalamnya terdapat semangat gotong royong, kemitraan dan tanggung jawab kolektif yang menjadi modal sosial penting bagi keberlangsungan pelayanan jemaat.

Dukungan para donatur dan mitra pelayanan tidak hanya membantu menghadirkan bangunan fisik, tetapi juga membuka peluang bagi pengembangan pelayanan pendidikan, kemanusiaan dan pemberdayaan masyarakat.

Nilai dari setiap dukungan tersebut akan semakin bermakna apabila diwujudkan dalam pelayanan yang berkesinambungan dan memberi manfaat bagi kehidupan banyak orang.

Pdt. Elizabeth Riwu-Ratu berharap gedung gereja yang telah ditahbiskan dapat menjadi tempat bertumbuhnya iman, terpeliharanya kasih, serta semakin kuatnya persatuan jemaat dan masyarakat.

Harapan itu menjadi pengingat bahwa rumah Tuhan bukanlah tujuan akhir dari perjalanan sebuah jemaat. Pentahbisan justru membuka tanggung jawab baru untuk menjaga kehidupan persekutuan, menghidupkan pelayanan, serta memastikan bahwa kasih tidak berhenti sebagai kata-kata yang terdengar indah dalam khotbah dan sambutan.

Sebab, ada perbedaan antara rumah yang sekadar berdiri dan rumah yang benar-benar menghidupkan. Rumah yang berdiri dapat dilihat oleh mata, tetapi rumah yang menghidupkan dapat dirasakan melalui perhatian, pengampunan, kepedulian dan kesediaan untuk berjalan bersama mereka yang sedang memikul beban kehidupan.

Pentahbisan rumah kebaktian dan pastori Jemaat GMIT Ekklesia Airkom menghadirkan refleksi bahwa keberhasilan pembangunan tidak cukup dinilai berdasarkan selesainya pekerjaan konstruksi.

Keberhasilan yang lebih mendasar terletak pada kemampuan suatu fasilitas untuk menjalankan fungsi sosialnya, memperkuat nilai-nilai kemanusiaan dan memberikan manfaat yang dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh masyarakat.

Dalam kerangka tersebut, gereja memiliki peran strategis untuk mempertemukan kehidupan spiritual dengan tanggung jawab sosial. Iman tidak hanya dinyatakan melalui ibadah, tetapi juga melalui tindakan yang memperjuangkan kebaikan bersama.

Kasih tidak cukup diucapkan dari mimbar, tetapi perlu diwujudkan dalam kepedulian terhadap anak-anak, perhatian kepada keluarga yang mengalami kesulitan, serta kesediaan untuk merawat persaudaraan di tengah perbedaan.

Pada akhirnya, dinding gereja yang telah tegak akan menemukan maknanya ketika kasih tetap hidup di antara manusia. Sebab, bangunan dapat melindungi tubuh dari hujan, tetapi hanya kepedulian yang mampu menghangatkan hati yang terluka. Atap dapat menaungi umat yang berkumpul, tetapi persaudaraanlah yang membuat mereka merasa tidak sendirian.

Rumah Tuhan akan menjadi rumah berkat ketika pintunya tidak hanya terbuka bagi mereka yang datang membawa doa, tetapi juga ketika pelayanannya menjangkau mereka yang membutuhkan uluran tangan. Di sanalah pembangunan memperoleh makna yang lebih dalam: bukan semata-mata meninggalkan bangunan untuk dikenang, melainkan menumbuhkan kasih yang terus bekerja, bahkan ketika orang-orang yang membangunnya kelak telah tiada.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Sinode GMIT Pdt. Samuel Benyamin Pandie, Anggota DPRD Provinsi NTT Winston Neil Rondo, Anggota DPRD Kabupaten Kupang Deasy Ballo Foeh, Ketua Majelis Klasis Kupang Timur Pdt. Elmodan Herison Naimasus, Plt. Asisten II Sekda Kabupaten Kupang Frans Taloen, Plt. Asisten III Sekda Kabupaten Kupang Juhardi David Selan, para pimpinan perangkat daerah lingkup Pemerintah Kabupaten Kupang, para pendeta dan emeritus, Camat Kupang Timur, serta Lurah Naibonat.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.