OELAMASI, BBC – Pengibaran Sang Merah Putih pada peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kantor Bupati Kupang, Oelamasi, Senin (17/8/2026), berlangsung dalam suasana khidmat.

Namun, di balik beberapa menit prosesi tersebut, tersimpan proses panjang yang dijalani para anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) melalui latihan, kedisiplinan, ketekunan dan tanggung jawab.

Salah satu kisah itu datang dari Acnes Dethanelun, siswa kelas XI SMA Negeri 1 Kupang Barat, Kabupaten Kupang.

Ia dipercaya menjadi bagian dari Paskibraka Kabupaten Kupang dan mendapat tugas membawa baki dalam prosesi pengibaran Sang Merah Putih.

Bagi Acnes, kepercayaan tersebut bukan sekadar kesempatan untuk tampil dalam upacara kenegaraan. Ia memandangnya sebagai kehormatan sekaligus tanggung jawab yang harus dijalankan dengan penuh kesungguhan.

“Perasaan saya saat membawa baki sangat senang karena saya bisa berada di posisi ini,” ungkapnya.

Kesempatan tersebut semakin bermakna karena, menurutnya, banyak pelajar lain yang juga memiliki keinginan untuk menjadi bagian dari Paskibraka. Karena itu, ketika dirinya terpilih, rasa syukur dan kebanggaan berjalan beriringan dengan kesadaran untuk menjaga kepercayaan yang telah diberikan.

Selama kurang lebih tiga minggu, Acnes bersama anggota Paskibraka lainnya menjalani rangkaian latihan dan pendidikan. Waktu yang relatif singkat tersebut digunakan untuk membangun kesiapan fisik sekaligus mental sebelum menghadapi tugas pada hari kemerdekaan.

Latihan dilakukan secara intensif. Para peserta tidak hanya dituntut menguasai gerakan dan tata urutan prosesi, tetapi juga belajar mengenai disiplin, ketepatan waktu, kekompakan, kepatuhan terhadap instruksi, serta tanggung jawab dalam sebuah kelompok.

“Saat latihan, saya tetap senang. Saya selalu senang karena banyak anak-anak yang mau berada di posisi saya, tetapi puji Tuhan saya bisa berada di posisi ini,” katanya.

Proses pembinaan melibatkan para pelatih, termasuk unsur TNI melalui Dandim beserta jajaran. Kehadiran para pelatih menjadi bagian penting dalam membentuk kesiapan peserta agar mampu melaksanakan tugas secara tertib dan terukur.

pengalaman tersebut memiliki arti yang lebih luas. Paskibraka tidak hanya melatih kemampuan fisik dan ketepatan gerakan, tetapi juga membentuk sikap disiplin, tanggung jawab, kerja sama dan kemampuan mengendalikan diri.

24 Anak Tangga, Ujian Konsentrasi
Salah satu bagian yang menjadi tantangan bagi Acnes adalah rangkaian tugas yang mengharuskannya menaiki dan menuruni 24 anak tangga dalam proses pengambilan dan pengembalian Sang Merah Putih.

Bagi masyarakat yang menyaksikan dari kejauhan, gerakan tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi seorang petugas Paskibraka, setiap langkah membutuhkan konsentrasi dan ketepatan. Kesalahan kecil dapat memengaruhi keseluruhan rangkaian prosesi.

Acnes mengakui, bagian yang paling membutuhkan kehati-hatian adalah ketika menuruni tangga.

“Yang paling sulit saat turun, karena harus penuh kehati-hatian. Tetapi saya tidak gugup sama sekali,” ujarnya.

Kemampuan untuk tetap tenang tersebut menjadi bagian penting dari keberhasilan menjalankan tugas. Dalam situasi yang disaksikan banyak orang, seorang anggota Paskibraka dituntut mampu mengendalikan emosi dan tetap berkonsentrasi pada tugas yang diembannya.

Di titik itulah latihan menemukan maknanya. Apa yang dilakukan berulang kali selama tiga minggu akhirnya menjadi bekal ketika menghadapi situasi nyata di lapangan.

Keberhasilan Acnes menjalankan tugas tidak berdiri sendiri. Di baliknya terdapat dukungan keluarga yang terus mengiringi prosesnya.

Ia mengaku orang tuanya memberikan dukungan dan doa sejak dirinya menjalani latihan di sekolah hingga mengikuti pendidikan dan pelatihan Paskibraka.

“Dari awal saya masuk Paskibraka, saya sangat bangga dengan diri saya sendiri. Saya juga sangat bangga kepada orang tua yang selalu mendukung saya selama saya latihan di sekolah dan sampai saya masuk Diklat,” tuturnya.

Bagi seorang pelajar, dukungan keluarga memiliki arti penting dalam menghadapi proses pembinaan yang menuntut konsistensi.

Motivasi dari orang tua menjadi salah satu kekuatan yang membantu dirinya menjalani latihan hingga akhirnya sampai pada hari pelaksanaan tugas.

Selain keluarga, Acnes juga memberikan apresiasi kepada para pelatih, kakak senior dan teman-temannya yang turut memberikan dukungan.

“Saya bisa memegang baki hari ini karena dukungan orang tua, dukungan pelatih dan juga dukungan kakak senior dan teman-teman semua,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa sebuah keberhasilan individual sesungguhnya lahir dari proses kolektif. Ada keluarga yang memberikan doa, pelatih yang memberikan pembinaan, senior yang memberikan pengalaman, serta teman-teman yang membangun semangat kebersamaan.

Menjadi anggota Paskibraka pada akhirnya bukan hanya tentang menjalankan tugas dalam sebuah upacara. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses pendidikan karakter bagi generasi muda.

Disiplin yang dibangun melalui latihan, ketelitian dalam setiap gerakan, kepatuhan terhadap instruksi, kemampuan bekerja dalam tim, serta keberanian menerima tanggung jawab merupakan nilai-nilai yang dapat dibawa jauh melampaui lapangan upacara.

Karena itu, makna Paskibraka tidak semestinya hanya diukur dari keberhasilan mengibarkan bendera. Lebih dari itu, Paskibraka merupakan proses yang mengajarkan bahwa sebuah kepercayaan harus dijawab dengan tanggung jawab.

Setelah menjalani latihan selama tiga minggu, Acnes akhirnya berdiri di lapangan upacara dan menjalankan tugas yang dipercayakan kepadanya.

“Saya sangat bangga dan saya sangat senang untuk hari ini,” katanya.

Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI menjadi sebuah titik penting dalam perjalanan Acnes sebagai seorang pelajar. Namun, makna pengalaman tersebut tidak berhenti ketika upacara selesai.

Di balik kibaran Sang Merah Putih terdapat kisah tentang proses, ketekunan, dukungan dan keberanian. Ada tiga minggu latihan yang mungkin hanya menjadi bagian kecil dari perjalanan hidup, tetapi meninggalkan pelajaran yang dapat bertahan jauh lebih lama.

Kisah Acnes juga mengingatkan bahwa kebanggaan tidak lahir secara tiba-tiba. Ia tumbuh melalui proses yang dijalani dengan sungguh-sungguh, melalui kesediaan untuk belajar, menerima arahan, menghadapi kesulitan dan mempertanggungjawabkan kepercayaan.

Bagi Acnes Dethanelun, tugas sebagai Paskibraka pada HUT ke-81 Kemerdekaan RI akan menjadi bagian dari catatan penting masa mudanya.

Tiga minggu telah berlalu. Sang Merah Putih telah berkibar dengan khidmat. Dan dari pengalaman itu, seorang pelajar belajar satu hal penting: kehormatan bukan hanya tentang mendapatkan kepercayaan, tetapi tentang bagaimana kepercayaan itu dijaga melalui tanggung jawab.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.