KUPANG, BBC– Di sebuah sudut Amarasi Barat yang teduh oleh persekutuan dan doa, suara pujian kembali mengalun dari Jemaat Maranatha Kaijo’o, Desa Soba, Minggu (14/06/2026).

Di tengah suasana ibadah yang sarat kekeluargaan itu, hadir Bupati Kupang Yosef Lede, bukan sekadar sebagai kepala daerah, melainkan sebagai bagian dari keluarga besar masyarakat yang ingin meneguhkan ikatan kasih, memperkuat persaudaraan dan menyalakan harapan bersama.

Bagi Yosef Lede, kesempatan untuk berdiri bersama jemaat dalam rumah Tuhan merupakan anugerah yang patut disyukuri. Dalam pandangannya, kehidupan bukan hanya tentang perjalanan manusia mengejar berbagai capaian duniawi, melainkan juga tentang kemampuan untuk berhenti sejenak, merawat relasi dengan Sang Pencipta dan memperkuat hubungan dengan sesama.

Ia menuturkan bahwa kebersamaan dalam ibadah memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar pertemuan seremonial. Di dalam persekutuan, manusia menemukan kekuatan moral untuk menghadapi tantangan kehidupan, menemukan pengharapan ketika berhadapan dengan kesulitan, serta menemukan keteguhan hati untuk tetap berjalan di tengah berbagai pergumulan zaman.

Kehadiran Yosef Lede di Jemaat Maranatha Kaijo’o juga lahir dari ikatan emosional yang telah terjalin sejak lama. Hubungan itu, menurutnya, tidak dibangun dalam waktu singkat ataupun karena jabatan yang sedang diemban, melainkan tumbuh melalui perjalanan panjang kebersamaan sejak dirinya masih menjadi anggota DPRD hingga kini dipercaya memimpin Kabupaten Kupang.

Ia menegaskan bahwa seorang pemimpin sejatinya tidak dapat dipisahkan dari masyarakat yang dipimpinnya. Kedekatan dengan rakyat bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan panggilan kemanusiaan yang harus dijaga dengan hati yang tulus.

Karena itu, setiap langkah yang membawanya kembali ke tengah jemaat selalu berangkat dari rasa kasih, kepedulian, dan tanggung jawab moral terhadap masyarakat yang selama ini berjalan bersama dalam suka maupun duka.

Menurut Yosef Lede, kasih adalah energi sosial yang paling kuat dalam membangun kehidupan bersama. Kasih melampaui sekat-sekat kepentingan dan mampu menjembatani hubungan antara pemimpin dan rakyat dalam semangat saling menguatkan. Ketika kasih menjadi dasar pelayanan, maka kehadiran seorang pemimpin tidak lagi dipandang sebagai simbol kekuasaan, melainkan sebagai sahabat yang hadir untuk mendengar, memahami dan mencari solusi bersama masyarakat.

Dalam refleksinya mengenai pembangunan daerah, Yosef Lede menempatkan gereja sebagai salah satu pilar penting dalam membangun peradaban. Gereja, menurutnya, bukan hanya ruang tempat umat berdoa dan memuliakan Tuhan, tetapi juga institusi sosial yang memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk karakter manusia, memperkuat moralitas, serta menanamkan nilai-nilai kehidupan yang luhur.

Ia berpandangan bahwa kemajuan daerah tidak dapat diukur semata-mata dari panjangnya jalan yang dibangun, megahnya gedung yang berdiri, atau tingginya angka pertumbuhan ekonomi.

Kemajuan yang sejati lahir ketika pembangunan mampu menyentuh dimensi terdalam kehidupan manusia, yakni membangun akhlak, memperkuat integritas, dan menumbuhkan kesadaran kolektif untuk hidup dalam damai dan persaudaraan.

Dalam konteks itulah, Yosef Lede menilai bahwa gereja dan pemerintah memiliki tanggung jawab yang sama dalam membangun masyarakat. Keduanya memang bergerak melalui jalur yang berbeda, tetapi menuju tujuan yang sama, yakni menghadirkan kehidupan yang lebih baik bagi manusia.

Menurutnya, pemerintah membutuhkan kekuatan moral dan spiritual yang lahir dari kehidupan umat beriman, sementara gereja membutuhkan kehadiran pemerintah sebagai instrumen pelayanan publik yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

Ketika keduanya berjalan dalam harmoni, maka pembangunan tidak hanya menghasilkan kemajuan fisik, tetapi juga menghadirkan ketenangan batin dan kualitas kehidupan yang lebih bermartabat.

Ia mengingatkan bahwa dunia modern menghadirkan tantangan yang semakin kompleks. Berbagai persoalan sosial, ekonomi, dan kemanusiaan tidak selalu dapat diselesaikan hanya melalui pendekatan struktural dan birokratis. Keamanan memang dijaga oleh aparat negara, namun ketahanan sosial sebuah bangsa juga ditentukan oleh kekuatan nilai, moralitas dan doa yang hidup di tengah masyarakat.

Karena itu, Yosef Lede meyakini bahwa doa orang-orang beriman merupakan bagian penting dari fondasi pembangunan. Doa tidak hanya menjadi ungkapan spiritual, tetapi juga kekuatan yang menumbuhkan harapan, menjaga optimisme, dan memelihara persatuan dalam kehidupan bersama.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengajak jemaat untuk memahami bahwa identitas sebagai jemaat dan masyarakat sesungguhnya merupakan dua sisi dari satu realitas yang sama. Ketika seseorang berada dalam rumah ibadah, ia disebut jemaat.

Namun ketika melangkah keluar dan kembali ke lingkungan sosialnya, ia adalah masyarakat yang memiliki tanggung jawab terhadap kemajuan daerah.

Baginya, nilai-nilai yang dipelajari dalam kehidupan bergereja harus tercermin dalam tindakan nyata di tengah masyarakat. Iman yang hidup bukan hanya terlihat dalam doa dan pujian, tetapi juga dalam kepedulian terhadap sesama, kejujuran dalam bekerja, serta komitmen untuk membangun lingkungan yang damai dan produktif.

Pada kesempatan yang sama, Yosef Lede juga mengajak masyarakat mendukung berbagai program prioritas Pemerintah Kabupaten Kupang, khususnya Program Cek Kesehatan Gratis (CKG).

Menurutnya, kesehatan merupakan fondasi utama pembangunan manusia dan menjadi modal dasar bagi lahirnya masyarakat yang produktif dan sejahtera.

Ia menjelaskan bahwa masyarakat yang sehat memiliki peluang lebih besar untuk bekerja secara optimal, meningkatkan kesejahteraan keluarga, dan memberikan pendidikan yang layak bagi anak-anak mereka. Sebaliknya, ketika kesehatan terabaikan, maka berbagai aspek kehidupan ikut terdampak, mulai dari ekonomi rumah tangga hingga masa depan generasi muda.

Karena itu, pemerintah terus berupaya memastikan pelayanan kesehatan dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Dalam pandangannya, investasi terbesar sebuah daerah bukanlah bangunan megah atau proyek-proyek fisik semata, melainkan manusia yang sehat, cerdas, produktif dan memiliki daya saing.

Perhatian Yosef Lede juga tertuju pada pembangunan rumah ibadah Jemaat Maranatha Kaijo’o yang sedang berlangsung. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan membangun rumah Tuhan tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan dana ataupun material bangunan, tetapi terutama oleh kekuatan persekutuan yang hidup di tengah jemaat.

Menurutnya, gedung gereja memang penting sebagai simbol pelayanan dan tempat persekutuan umat. Namun jauh lebih penting dari bangunan fisik adalah membangun hati yang bersatu, semangat kebersamaan yang kokoh dan komitmen kolektif untuk berjalan dalam kasih.

Ia meyakini bahwa ketika jemaat mampu menjaga persatuan, saling menopang dalam keterbatasan, dan bekerja bersama dalam semangat gotong royong, maka berbagai tantangan akan dapat dilalui dengan baik.

Sebaliknya, bangunan yang megah sekalipun akan kehilangan makna apabila tidak ditopang oleh persaudaraan yang kuat.
Karena itu, Yosef Lede mengajak seluruh jemaat untuk terus merawat semangat kebersamaan, memperkuat persekutuan, dan menjadikan kasih sebagai fondasi dalam setiap langkah pembangunan.

Bagi dirinya, pembangunan gereja sejatinya dimulai dari pembangunan hati manusia. Sebab rumah Tuhan yang paling kokoh bukanlah bangunan yang terbuat dari batu dan semen, melainkan hati umat yang dipersatukan oleh kasih, iman dan pengharapan.

Menutup pesannya, Yosef Lede kembali menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Kupang untuk terus hadir melayani masyarakat dalam berbagai sektor kehidupan, mulai dari kesehatan, pendidikan, pembangunan sosial, hingga penguatan kehidupan keagamaan.

Dari Kaijo’o, sebuah pesan sederhana namun sarat makna kembali ditegaskan: bahwa pembangunan yang berkelanjutan tidak hanya bertumpu pada kebijakan dan anggaran, tetapi juga pada kekuatan kasih yang mempersatukan, iman yang menguatkan dan kebersamaan yang menghidupkan harapan.

Sebab ketika masyarakat berjalan dalam persatuan dan pemerintah hadir dengan pelayanan yang tulus, maka masa depan Kabupaten Kupang akan bertumbuh bukan hanya menjadi lebih maju, tetapi juga lebih bermartabat dan berkeadaban.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.