KUPANG, BBC — Di tengah arus perubahan zaman yang bergerak cepat dan kerap menghadirkan kegelisahan terhadap masa depan generasi muda, Pemerintah Kabupaten Kupang memilih menanam harapan dari tempat yang paling sederhana: ruang belajar anak-anak usia dini.

Jumat pagi (8/5), Aula Kantor Bupati Kupang di Oelamasi tidak sekadar menjadi lokasi peluncuran sebuah program pendidikan. Di ruangan itu, tersimpan sebuah pesan kemanusiaan yang dalam tentang pentingnya merawat masa depan sejak langkah pertama kehidupan dimulai.

Wakil Bupati Kupang yang juga Bunda PAUD Kabupaten Kupang, Aurum Obe Titu Eki, secara resmi melaunching Program Pembelajaran Berkualitas dan Kemitraan Dengan Orang Tua di Satuan PAUD atau Pelita PAUD, sebuah gerakan kolaboratif yang lahir dari kepedulian terhadap kualitas tumbuh kembang anak-anak Kabupaten Kupang.

Program tersebut merupakan hasil kerja bersama Pemerintah Kabupaten Kupang dengan William and Lily Foundation (WLF), Yayasan Amanah Bangun Negeri (YABN), dan Yayasan Masyarakat Tangguh Sejahtera (Marungga), yang akan dijalankan selama tiga tahun ke depan.

Namun di balik nama dan konsep program itu, tersimpan kegelisahan seorang pemimpin perempuan yang memahami bahwa masa depan daerah tidak dibangun hanya dengan beton, jalan raya, dan gedung-gedung megah, tetapi juga dengan kasih sayang, pendidikan, dan perhatian terhadap anak-anak kecil yang hari ini sedang belajar mengeja dunia.

Dalam sambutannya, Aurum Titu Eki berbicara bukan hanya sebagai pejabat pemerintahan, melainkan sebagai seorang ibu yang melihat pendidikan anak usia dini sebagai fondasi moral dan intelektual sebuah peradaban.

 

Dengan nada tenang namun penuh keteguhan, ia menyampaikan bahwa pendidikan usia dini adalah titik awal pembentukan karakter manusia. Pada fase itulah nilai, kasih, empati, disiplin dan rasa percaya diri mulai ditanamkan.

“Kita semua memahami bahwa pendidikan anak usia dini merupakan fondasi utama dalam membangun generasi masa depan,” ujar Aurum.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi mengandung makna yang begitu dalam. Sebab di tengah realitas sosial yang masih menghadapi ketimpangan pendidikan dan tantangan pengasuhan di berbagai wilayah pedesaan, keberpihakan terhadap PAUD sesungguhnya merupakan bentuk keberanian untuk menyelamatkan masa depan dari akarnya.

Aurum menyampaikan bahwa Program Pelita PAUD hadir dengan strategi yang tidak hanya berorientasi administratif, tetapi menyentuh dimensi sosial dan kemanusiaan.

Program ini memperkuat dukungan teknis dan kebijakan pemerintah daerah, meningkatkan peran PKG PAUD sebagai komunitas belajar, serta membangun kemitraan yang erat antara satuan pendidikan dan orang tua.

Baginya, pendidikan anak tidak boleh berjalan sendirian di ruang kelas. Anak-anak membutuhkan rumah yang mendukung, orang tua yang hadir, guru yang sabar dan lingkungan yang memeluk proses tumbuh mereka dengan kasih.

Di titik itulah, Aurum menunjukkan wajah kepemimpinan yang humanis. Ia tidak berbicara tentang angka-angka statistik semata, melainkan tentang anak-anak desa yang harus mendapat kesempatan yang sama untuk tumbuh cerdas dan bermartabat.

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa dukungan pemerintah desa juga menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan program. Sebab pembangunan manusia, menurutnya, harus dimulai dari desa dan menjangkau mereka yang selama ini kerap berada di pinggiran perhatian.

Program Pelita PAUD sendiri menitikberatkan pada pembelajaran bermutu dan kontekstual melalui pendekatan pembelajaran mendalam dan 7 KAIH, sekaligus mendorong keterlibatan aktif orang tua dalam proses pendidikan anak.

Pendekatan tersebut diyakini mampu membentuk generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga matang secara emosional, sosial, dan karakter. Pendidikan, dalam pandangan Aurum, bukan sekadar proses mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi upaya memanusiakan manusia sejak usia paling dini.

“Diharapkan dengan pendekatan-pendekatan tersebut, anak-anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal, baik dari aspek kognitif, sosial, maupun karakter,” lanjutnya.

Pernyataan itu seakan menjadi penegasan bahwa pemerintah tidak ingin melahirkan generasi yang hanya pandai secara intelektual, tetapi juga generasi yang memiliki hati, empati dan nilai-nilai kemanusiaan.

Launching Pelita PAUD juga menjadi momentum penting untuk menyatukan visi seluruh pemangku kepentingan pendidikan di Kabupaten Kupang. Aurum berharap seluruh pihak memahami peran dan tanggung jawab masing-masing demi memastikan anak-anak mendapatkan layanan pendidikan terbaik.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Kupang, Marthen Rahakbauw, Kepala Dinas PMD Kabupaten Kupang, John Sula, Direktur Eksekutif WLF, Michelle Soeryadjaya, perwakilan YABN, Diah Restu Lestari, Tim Koordinator Yayasan Marungga, para lurah dan kepala desa se-Kabupaten Kupang, serta pengurus PKG PAUD kecamatan se-Kabupaten Kupang.

Pelita PAUD pada akhirnya bukan hanya tentang program pendidikan. Ia adalah tentang harapan. Tentang bagaimana seorang pemimpin perempuan mencoba menjaga nyala kecil di mata anak-anak agar tidak padam oleh kerasnya kehidupan.

Sebab sesungguhnya, daerah yang besar bukanlah daerah yang hanya mampu membangun gedung tinggi, melainkan daerah yang mampu menjaga mimpi anak-anaknya tetap hidup.

Dan Aurum Obe Titu Eki memahami satu hal penting itu: bahwa masa depan tidak pernah lahir secara tiba-tiba. Ia tumbuh perlahan, dari tangan-tangan yang sabar mendidik, dari hati yang tulus mengasihi dan dari keberanian seorang ibu yang memilih menyalakan pelita di tengah gelapnya ketidakpastian zaman.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.