KUPANG ,BBC — Ada perjalanan hidup yang tidak ditulis dengan tinta, tetapi dengan air mata, doa dan ketekunan yang diam-diam mengakar kuat di dalam jiwa.

Tanggal 12 April 2026 menjadi penanda berakhirnya satu babak panjang pengabdian itu—sebuah babak yang tidak hanya bercerita tentang pelayanan, tetapi tentang kesetiaan yang tidak pernah menyerah pada keadaan.

Pada hari itu, seorang anak desa, yang lahir dari kesederhanaan dan dibesarkan oleh peluh orang tua petani, menutup lembar tugasnya sebagai hamba Tuhan di lingkungan Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT).

Ia adalah Pdt. Petrus Bani, S.Th—seorang gembala yang tidak hanya memimpin jemaat, tetapi berjalan bersama mereka dalam luka dan harapan.

Ia tidak lahir dari kemewahan, tidak pula dibesarkan dalam kelimpahan. Hidupnya ditempa oleh tanah yang keras, oleh musim yang tidak selalu ramah dan oleh kenyataan hidup yang mengajarkan arti bertahan. Dari ladang itulah ia belajar bahwa iman bukan hanya diucapkan, tetapi diperjuangkan.

Bahwa doa bukan sekadar ritual, tetapi napas yang menjaga manusia tetap berdiri ketika dunia terasa runtuh.

Di masa kecilnya, mungkin tidak ada yang menyangka bahwa anak petani itu kelak akan berdiri di mimbar, menyuarakan harapan bagi banyak jiwa. Namun hidup sering kali bekerja dalam sunyi—menyusun rencana besar melalui langkah-langkah kecil yang setia, yang tidak dilihat manusia, tetapi dicatat oleh waktu dan disaksikan oleh Tuhan.

Ketika ia menempuh pendidikan teologi di Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang pada tahun 1985 hingga 1991, itu bukan sekadar perjalanan akademik.

Itu adalah perjalanan iman—perjalanan seorang anak desa yang membawa mimpi besar, bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk melayani sesama.

Ia belajar bahwa menjadi pendeta bukan tentang posisi, melainkan tentang pengorbanan yang tak terlihat, tentang memberi tanpa selalu dihitung dan mencintai tanpa selalu dimengerti.

Masa vikariat di Jemaat Wilayah Kuatnana, Klasis Amanuban Barat (1991–1992), menjadi ruang pembentukan yang penuh kerendahan hati.

Di sana, ia belajar bahwa pelayanan tidak lahir dari kata-kata yang tinggi, tetapi dari hati yang rendah. Ia belajar bahwa mendengar adalah bentuk kasih yang paling sederhana, namun paling sulit dilakukan.

Pentabisannya pada 31 Oktober 1992 di Jemaat Son Honis Sei, Klasis Amanuban Tengah Selatan, bukanlah garis akhir dari perjuangan, melainkan awal dari sebuah panggilan panjang yang menuntut kesetiaan seumur hidup.

Sejak saat itu, hidupnya bukan lagi miliknya sendiri—ia menjadi milik mereka yang membutuhkan penguatan, milik mereka yang kehilangan arah dan milik Tuhan yang memanggilnya.

Langkahnya kemudian menembus batas-batas geografis dan keterbatasan. Di Jemaat Wilayah Netpala, Klasis Mollo Utara (1993–1999), ia hadir sebagai pendeta pertama—menanam harapan di tanah yang belum tentu menjanjikan hasil. Ia bekerja dalam sunyi, percaya bahwa benih yang ditanam dengan air mata suatu hari akan dituai dengan sukacita.

Perjalanan berlanjut ke Jemaat Pola Tribuana (1999–2004) dan Jemaat Wilayah Tomnu (2004–2009) di Klasis Alor Barat Laut. Setiap tempat bukan sekadar lokasi pelayanan, tetapi ruang kehidupan.

Ia hadir bukan hanya sebagai pengkhotbah, tetapi sebagai sahabat, sebagai pendengar, sebagai penguat bagi mereka yang hampir menyerah pada hidup.

Namun di balik semua itu, ada pergumulan yang tidak selalu terlihat. Ada air mata yang tidak selalu jatuh di depan umum. Ada doa-doa yang dipanjatkan dalam kesunyian malam.

Sebagai seorang ayah dan kepala keluarga, ia juga dihadapkan pada realitas kehidupan yang menuntut kebijaksanaan. Tahun 2009 menjadi titik keputusan penting—ia kembali ke Kupang demi masa depan pendidikan anaknya.

Sebuah pilihan yang mengajarkan bahwa panggilan Tuhan tidak pernah bertentangan dengan tanggung jawab kemanusiaan, tetapi justru saling menguatkan.

Di Jemaat Betel Oesapa Tengah (2009–2014), Jemaat Lahairoi Tofa (2014–2016), Jemaat Sion Oepura (2016–2020), hingga akhirnya di Jemaat Pniel Oebobo (2020–2026), ia terus berjalan tanpa banyak suara, tetapi penuh makna.

Ia menghidupi pelayanan bukan sebagai beban, tetapi sebagai bentuk cinta yang terus diperbarui setiap hari.

Selama 33 tahun 11 bulan, ia menapaki jalan panjang yang tidak selalu lurus. Ada jalan terjal, ada lembah sunyi, ada badai yang mengguncang iman. Namun ia tidak berhenti.

Sebab ia percaya bahwa kesetiaan bukan tentang kuatnya manusia, tetapi tentang setianya Tuhan yang terus menopang.

Ibadah emiritasi di Jemaat Pniel Oebobo pada 12 April 2026 bukan sekadar seremoni penutup. Ia adalah ruang perenungan yang hening. Ruang di mana waktu seakan berhenti sejenak, memberi kesempatan bagi setiap orang untuk mengingat—bahwa ada seorang pelayan yang telah memberikan hidupnya tanpa banyak tuntutan.

Dalam kehidupan pribadinya, ia berjalan bersama Pdt. Yuliana Banunu, yang dinikahinya pada tahun 1999. Dalam kebersamaan itu, mereka belajar bahwa cinta bukan hanya tentang kebahagiaan, tetapi tentang kesetiaan dalam menghadapi setiap musim kehidupan.

Kehadiran putera mereka, Yuritzal Crisman Bani, menjadi anugerah yang mempertegas bahwa di tengah pelayanan yang berat, Tuhan tidak pernah lupa memberikan sukacita.

Ayat Roma 12:12—“Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan dan bertekunlah dalam doa”—bukan hanya menjadi pegangan, tetapi menjadi cara hidup.

Ayat itu menjelma menjadi kekuatan saat ia lemah, menjadi terang saat ia berada dalam kegelapan dan menjadi pengingat bahwa harapan tidak pernah benar-benar hilang.

Kini, ketika masa aktif pelayanan itu telah usai, yang tertinggal bukan hanya cerita, tetapi jejak yang hidup. Ia mungkin telah turun dari mimbar, tetapi nilai-nilai yang ia tanamkan tetap berdiri di hati banyak orang.

Sebab pelayanan sejati tidak pernah berakhir—ia hanya beralih rupa, dari tindakan menjadi teladan, dari kata menjadi ingatan.

Kisah Pdt. Petrus Bani adalah kesaksian diam bahwa kesederhanaan tidak pernah menghalangi seseorang untuk menjadi bermakna. Bahwa dari ladang yang sunyi, Tuhan dapat membentuk seorang gembala bagi banyak jiwa.

Dan pada akhirnya, ketika semua perjalanan itu dirangkum dalam keheningan, kita belajar satu hal yang paling dalam: bahwa hidup yang dipersembahkan tidak pernah sia-sia.

Sebab dalam terang iman, pelayanan bukanlah tentang kapan seseorang berhenti melayani, melainkan tentang bagaimana ia terus hidup dalam kasih—bahkan setelah ia tidak lagi terlihat.

Karena yang fana akan berakhir, tetapi kasih yang dikerjakan dalam Tuhan akan selalu tinggal, diam dan berbicara—melampaui waktu, melampaui hidup itu sendiri.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.