KUPANG, BBC — Atmosfer spiritual yang sakral dan penuh kekhusyukan menyelimuti ibadah Minggu di Jemaat Golgota Haumoro, Desa Tesbatan I, Kecamatan Amarasi, Minggu (22/02/2026).
Momentum religius tersebut tidak hanya menjadi ruang kontemplasi iman, tetapi juga bertransformasi menjadi forum moral dan sosial yang sarat pesan pembangunan.
Dalam kesempatan itu, Bupati Kupang Yosef Lede hadir bersama jajaran pemerintah daerah, menyampaikan refleksi kebijakan yang memadukan nilai spiritualitas dengan agenda strategis pembangunan, khususnya dalam penguatan ketahanan pangan, peningkatan kesehatan masyarakat, serta pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas desa.
Dalam sambutannya, Bupati Yosef Lede mengekspresikan rasa syukur atas kesempatan beribadah bersama jemaat. Ia menegaskan bahwa kehadiran pemerintah di ruang ibadah bukan sekadar formalitas protokoler, melainkan representasi kedekatan emosional dan tanggung jawab moral negara terhadap masyarakat.
Menurutnya, gereja memiliki posisi strategis sebagai institusi sosial yang tidak hanya membentuk karakter spiritual, tetapi juga berfungsi sebagai katalisator perubahan sosial dan mitra penting dalam mendukung agenda pembangunan daerah.
Dengan bahasa yang reflektif dan penuh kebijaksanaan, ia menekankan bahwa pembangunan yang berkelanjutan hanya dapat bertumbuh dari fondasi nilai-nilai etika, solidaritas dan kesadaran kolektif masyarakat.
Dalam dimensi ekonomi, Bupati Yosef Lede secara tegas menyoroti urgensi dukungan masyarakat terhadap program pemerintah, khususnya SPPG dan MBG, yang dipandang sebagai instrumen strategis pembangunan kesejahteraan berbasis pangan.
Ia menegaskan bahwa program MBG bukan semata intervensi sosial, melainkan peluang ekonomi bernilai tinggi yang harus dioptimalkan oleh masyarakat Kabupaten Kupang.
“Ratusan miliar uang MBG diberikan ke Kabupaten Kupang. Kita mesti menangkap peluang ini dengan menjual hasil tanam, sayur mayur, buah bahkan beras di dapur MBG. Sehingga memberikan keuntungan bagi kita sendiri, jangan bahan makanan ambil di luar Kabupaten Kupang,” tegas orang nomor satu kabupaten kupang
Secara akademis, ia memposisikan program tersebut sebagai mekanisme penguatan ekonomi lokal melalui pendekatan local value chain, di mana produksi, distribusi dan konsumsi terintegrasi dalam ekosistem ekonomi desa.
Program MBG sendiri melayani kebutuhan gizi anak sekolah, ibu hamil, serta tenaga pendidik, sehingga menciptakan permintaan pangan yang stabil dan berkelanjutan.
Karena itu, ia mengimbau jemaat untuk memanfaatkan lahan produktif dengan menanam komoditas jangka pendek maupun jangka panjang, sehingga masyarakat dapat menjadi aktor utama dalam rantai pasok pangan daerah.
Kesehatan sebagai Investasi Peradaban
Selain ketahanan pangan, Bupati juga menempatkan kesehatan masyarakat sebagai fondasi utama pembangunan manusia.
Ia mengajak seluruh jemaat untuk mengikuti program pemeriksaan kesehatan gratis yang merupakan implementasi kebijakan nasional guna memastikan kualitas hidup masyarakat.
“Bapa mama saudara semuanya, selesai kebaktian nanti diharapkan jangan pulang dulu karena akan ada cek kesehatan gratis. Ini program bapak Presiden untuk ditindaklanjuti semua unsur pemerintahan agar dapat memastikan semua masyarakat itu sehat dengan cara diperiksa kesehatannya,” ujarnya.
Pesan tersebut mencerminkan paradigma pembangunan modern yang menempatkan kesehatan bukan sekadar layanan, melainkan investasi strategis dalam membangun sumber daya manusia yang produktif dan berdaya saing.
Dalam dialog bersama jemaat, Bupati juga merespons aspirasi terkait kondisi akses jalan menuju gereja yang dinilai belum ramah bagi kelompok lansia.
Ia secara langsung meminta Dinas PUPR Kabupaten Kupang untuk segera menindaklanjuti pembangunan akses jalan belakang gereja, sekaligus menyatakan komitmen pemerintah dalam mendukung penyelesaian pembangunan rumah pastori bagi pelayan gereja.
Kebijakan tersebut mencerminkan pendekatan pembangunan inklusif yang sensitif terhadap kebutuhan kelompok rentan serta memperkuat infrastruktur sosial berbasis komunitas.
Ketua Majelis Jemaat, Pendeta Dorkas Beeh Nyake Wiwi, S.Th, menyampaikan apresiasi atas kehadiran Bupati beserta jajaran pemerintah dalam ibadah tersebut.
“Kami ucapkan terima kasih kepada Bupati dan semua jemaat tamu yang hadir bersama kami Jemaat Golgota Haumoro,” ungkapnya.
Ia juga berharap perhatian pemerintah terhadap pembangunan akses jalan gereja dapat segera direalisasikan, mengingat hal tersebut menjadi kebutuhan mendesak bagi jemaat, khususnya para lansia.
Kehadiran Bupati Kupang dalam ibadah tersebut menegaskan paradigma pembangunan yang holistik — bahwa kemajuan daerah tidak semata ditentukan oleh pembangunan fisik dan indikator ekonomi, tetapi juga oleh kekuatan nilai spiritual, solidaritas sosial, serta kemandirian masyarakat.
Pesan tentang iman, pangan dan kesehatan yang disampaikan menjadi refleksi mendalam bahwa pembangunan berkelanjutan lahir dari sinergi antara moralitas publik, kebijakan yang berpihak pada rakyat dan partisipasi aktif komunitas.
Dalam perspektif pembangunan modern, ketiga aspek tersebut bukanlah entitas yang terpisah, melainkan satu kesatuan ekosistem sosial yang menentukan kualitas peradaban dan kesejahteraan masyarakat di masa depan.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
