Kupang, BBC —Di bawah sinar matahari siang yang jatuh tenang dan utuh pada 24 November 2025, sebuah jejak kecil namun sarat makna bagi masa depan kesehatan publik kembali ditorehkan.
Di hadapan pemerintah, akademisi, dan masyarakat, Bupati Kupang Yosef Lede resmi membuka Pelaksanaan Praktek Klinik Lapangan (PKL) bagi 113 mahasiswa tingkat V Program Studi D-III Kebidanan Stikes Maranatha Kupang.
Praktik lapangan yang berlangsung hingga 11 Desember 2025 ini tersebar pada empat dusun Desa Nunkurus, Kecamatan Kupang Timur.
Di ruang sosial yang penuh harap, PKL ini tidak hanya menjadi transition of knowledge, tetapi juga translation of compassion—sebuah jembatan yang mengantar ilmu kedokteran kebidanan dari kelas yang sunyi menuju denyut hidup masyarakat yang nyata.
Di sinilah kebidanan dimaknai bukan semata profesi, tetapi sebuah panggilan etis untuk menjaga kehidupan sejak ia masih berupa bisikan pertama dari rahim ibunya.
Dalam sambutannya, Bupati Kupang Yosef Lede menyampaikan apresiasi mendalam kepada Stikes Maranatha Kupang atas kemitraan strategis yang terus dibangun dalam penguatan pelayanan kesehatan komunitas.
Ia menegaskan bahwa PKL merupakan experiential learning approach yang memberi mahasiswa pengalaman autentik dalam konteks sosial-kesehatan nyata, sekaligus mengasah professional competency, collaborative ability, dan leadership capacity.
“PKL bukan hanya bermanfaat bagi mahasiswa dan institusi pendidikan, tetapi juga bagi pemerintah dan masyarakat, khususnya Desa Nunkurus,” ujar Lede dengan nada optimistis.
Ia menekankan bahwa mahasiswa diharapkan mampu menerapkan pelayanan kebidanan yang menempatkan masyarakat sebagai mitra aktif dalam isu kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana, serta kesehatan perempuan—ruang-ruang penting yang menjadi fondasi maternal and neonatal well-being.
Dalam nuansa reflektif, Bupati menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari early health detection—upaya preventif yang tidak hanya menjaga tubuh, tetapi turut menjaga keberlanjutan peradaban. Menjaga keduanya berarti merawat masa depan itu sendiri.
Bupati Lede juga menggarisbawahi pentingnya mahasiswa mengidentifikasi potensi lokal, mengamati isu aktual, lalu mengembangkan community-based innovations yang relevan dan berkelanjutan.
Pesan ini sejalan dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi—education, research, and community service—yang tidak sekadar menjadi konsep, tetapi harus dihidupi dalam praksis PKL.
Pemerintah Kabupaten Kupang pun menegaskan dukungan penuh, membuka ruang kolaborasi dan interaksi, sehingga mahasiswa dapat memaksimalkan proses pembelajaran dan pengabdian selama berada di Desa Nunkurus.
Ketua Stikes Maranatha Kupang, Awaliyah M. Suwetty, S.Kep., Ns., M.Kep., memaparkan bahwa PKL komunitas ini merupakan implementasi kurikulum berbasis needs assessment dan public health profiling.
Desa Nunkurus dipilih setelah analisis mendalam terhadap sejumlah isu prioritas, seperti rendahnya kunjungan ANC dan PNC, risiko stunting, kesehatan ibu hamil dan nifas, kesehatan reproduksi dan kebutuhan edukasi mental maternal.
Melalui koordinasi bersama Puskesmas, bidan desa, PKK, dan kader kesehatan, mahasiswa diharapkan tidak hanya hadir sebagai praktisi, tetapi juga sebagai empowerment facilitators—mendampingi masyarakat, membuka cakrawala pengetahuan dan menanamkan budaya hidup sehat.
Inilah wujud academic-social synergy; ketika ilmu tidak berhenti sebagai wacana, tetapi menjadi cahaya yang menerangi jalan masyarakat.
Ketika teori tidak hanya dihafal, tetapi menjadi energi perubahan.
Pembukaan PKL ini turut dihadiri Kepala Desa Nunkurus Ardyzed Nalle, Kabag Prokopim Setda Kupang Beni Selan, Dewan Pembina Yayasan Maranatha NTT Drs. Samuel Selan serta para dosen, tenaga kependidikan, dan panitia pelaksana.
Melalui sinergi pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat, kegiatan ini diharapkan menjadi katalis peningkatan kualitas kesehatan ibu dan anak, penguatan sumber daya komunitas, serta lahirnya inovasi asuhan kebidanan berbasis bukti (evidence-based midwifery).
Pada akhirnya, kesehatan bukan hanya urusan medis, tetapi sebuah puisi eksistensial yang ditulis melalui tangan para bidan, doa para ibu dan tawa anak-anak yang tumbuh tanpa kekurangan gizi dan kasih sayang.
Dan di Desa Nunkurus, kini kembali ditulis—dengan ilmu yang jernih, empati yang lembu dan pengabdian yang tidak pernah selesai.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
