Kupang, BBC – Puncak peringatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) 2025 berlangsung meriah di Lapangan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.
Mengusung tema “Dari Bumi Majapahit Kita Gelorakan Risiko Bencana Nusantara,” kegiatan ini menjadi momentum penting untuk meneguhkan komitmen bangsa dalam mewujudkan masyarakat tangguh menghadapi bencana.
Acara puncak yang dihadiri ribuan peserta dari berbagai daerah di Indonesia semakin menakjubkan dengan penampilan Drone Light Show yang menghiasi langit Mojokerto, menghadirkan simbol persatuan dan semangat kolektif dalam mitigasi bencana.
Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elistianto Dardak, menegaskan bahwa capaian penurunan Indeks Risiko Bencana (IRB) adalah bukti nyata kerja sama seluruh elemen masyarakat Jawa Timur.
“Pada tahun 2019, IRB Jawa Timur tercatat 137,88. Angka ini berhasil turun menjadi 95,75 pada 2024. Semakin rendah angka IRB, semakin rendah pula tingkat risiko bencana. Ini adalah prestasi masyarakat Jawa Timur yang layak diapresiasi,” ujar Emil.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa semangat ketangguhan dari peradaban Majapahit perlu dihidupkan kembali untuk memperkuat ketahanan masyarakat Indonesia.
“Mojokerto menjadi tuan rumah PRB 2025, maka harus juga menjadi teladan bagaimana masyarakat tangguh dalam menghadapi bencana,” tambahnya.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) RI, Pratikno, dalam sambutannya memberikan apresiasi kepada garda terdepan penanggulangan bencana: TNI, Polri, relawan, BNPB, Basarnas, hingga komunitas masyarakat sipil.
“Setiap tahun ada lebih dari 3.500 bencana di Indonesia. Penanganannya tidak mungkin hanya oleh pemerintah, tetapi membutuhkan sinergi semua pihak,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa sebagian bencana, seperti banjir, dapat dicegah melalui kesadaran sederhana.
“Mari kita cegah bencana dengan menjaga sungai tetap bersih, tidak membuang sampah sembarangan, dan tidak merusak lingkungan. Hal kecil inilah yang menyelamatkan kita semua,” jelasnya.
Pratikno juga menyampaikan gagasan tentang fungsi rumah ibadah sebagai pusat edukasi masyarakat tangguh bencana sekaligus tempat pengungsian darurat.
“Surau, masjid dan gereja bisa menjadi ruang sosialisasi, sekaligus titik aman ketika terjadi bencana,” katanya menutup sambutan.
Dari Nusa Tenggara Timur, Wakil Bupati Kupang Aurum Obe Titu Eki turut hadir dan memberikan dukungan.
Ia berharap gerakan PRB 2025 dapat menginspirasi seluruh daerah di Indonesia, termasuk Kabupaten Kupang, untuk membangun masyarakat yang tangguh menghadapi bencana.
Kehadiran Wakil Bupati Kupang serta pejabat daerah lainnya, memperlihatkan bahwa semangat PRB bukan hanya agenda lokal Jawa Timur, melainkan komitmen nasional.
Puncak PRB 2025 di Mojokerto bukan sekadar seremonial, melainkan wujud nyata kolaborasi lintas sektor dalam mengurangi risiko bencana.
Dari Majapahit yang legendaris, Indonesia kembali diingatkan bahwa ketangguhan bukanlah milik individu, melainkan hasil sinergi bersama.
Dengan semangat kolektif ini, bangsa Indonesia diharapkan semakin siap menghadapi ancaman bencana, sekaligus menjadikan pengurangan risiko bencana sebagai budaya yang melekat dalam kehidupan sehari-hari.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
