Kupang, BBC – Air adalah sumber kehidupan. Pepatah ini menemukan maknanya di Dusun 1, Desa Kuimasi, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang.

Di tengah musim kemarau yang panjang dan krisis air yang menyesakkan, 48 kepala keluarga di wilayah ini membuktikan bahwa harapan bisa tumbuh melalui semangat swadaya dan gotong royong.

Kepala Dusun 1, Melkisua Mage dengan penuh haru menyampaikan bahwa masyarakat tidak tinggal diam menghadapi kesulitan.

Mereka secara mandiri membeli bahan material berupa pasir, semen, batu, besi, bahkan membeli sebidang tanah berukuran 3×3 meter. Semua itu demi membangun sebuah bak penampung air bersih yang diharapkan menjadi penolong bagi kehidupan sehari-hari.

“Kegiatan ini murni dikerjakan masyarakat sendiri. Kami berharap pemerintah bisa melihat kondisi ini, karena dusun kami saat ini sangat sulit mendapatkan air,” ujar Melkisua Mage.

Menurutnya, inisiatif ini lahir dari kebutuhan mendesak sekaligus kesadaran bahwa air adalah kebutuhan paling mendasar bagi setiap keluarga.

Lebih jauh, Melkisua mengungkapkan bahwa pada siang hari yang sama ia bersama warga menemui Wakil Bupati Kupang, Aurum Obe Titu Eki, di ruang kerjanya.

IMG 20250918 WA0063

Mereka menyampaikan aspirasi agar Pemerintah Kabupaten Kupang, khususnya PDAM, dapat segera menarik jaringan pipa menuju bak penampung yang kini sudah terbangun.

Harapan besar itu muncul dari kegelisahan yang nyata. Selama ini, warga Dusun 1 harus berjuang keras mendapatkan air bersih, bahkan sering menempuh jarak jauh hanya untuk satu jerigen.

Inisiatif swadaya ini adalah bukti bahwa masyarakat ingin keluar dari lingkaran penderitaan dengan cara yang bermartabat.

Kepala Desa Kuimasi, Maksen Lifu tak bisa menyembunyikan rasa bangganya. Ia memberikan apresiasi kepada Kepala Dusun 1, BPD dan seluruh warga yang bersatu hati membangun bak penampung secara mandiri.

“Ini hal luar biasa. Masyarakat menyiapkan lahan, menyediakan material bangunan, dan bersedia bekerja sendiri. Semoga ini menjadi contoh bagi dusun-dusun lain untuk mengedepankan semangat gotong royong,” tegasnya.

Menurut Maksen Lifu, nilai gotong royong adalah warisan budaya yang tak boleh hilang. Ketika masyarakat mampu bergandengan tangan menghadapi kesulitan, maka solusi akan hadir bahkan tanpa menunggu instruksi dari siapa pun. “Air adalah kehidupan. Dan kehidupan harus dijaga bersama-sama,” imbuhnya.

Pembangunan bak penampung air bersih ini bukan sekadar infrastruktur sederhana. Ia adalah simbol persatuan, pengorbanan, dan harapan.

Simbol bahwa di tengah keterbatasan, masyarakat Kuimasi mampu melahirkan solusi. Simbol bahwa air bukan hanya kebutuhan jasmani, tetapi juga perekat kebersamaan.

Kini, mata masyarakat Dusun 1 Kuimasi tertuju pada langkah pemerintah daerah. Warga menunggu tindak lanjut agar bak penampung yang mereka bangun tidak sekadar menjadi wadah kosong, melainkan sungguh-sungguh menjadi aliran kehidupan yang memberi terang di tengah kemarau panjang.

Ada pepatah lama yang berkata, “Air yang jernih selalu mencari celah, sebagaimana harapan selalu menemukan jalan.” Bak penampung yang lahir dari peluh warga Dusun 1 adalah bukti bahwa air bukan sekadar kebutuhan, tetapi nyawa yang menyatukan manusia.

Air adalah doa yang mengalir di setiap jerigen, harapan yang menetes di setiap keringat dan kehidupan yang tidak bisa digantikan dengan apapun. Saat satu tetes air menjadi penawar dahaga, di situlah nilai kemanusiaan diuji.

Dusun 1 Kuimasi mengajarkan bahwa di balik kesulitan, ada kekuatan; di balik kekeringan, ada semangat; dan di balik swadaya sederhana, ada kehidupan yang terus bertumbuh.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.