BB — Tiga luka lama itu belum juga sembuh: listrik yang tak kunjung menyala, jalan yang tetap rusak, dan air bersih yang sulit dijangkau.

Di Dusun Tiga, Desa Oelbiteno, Kecamatan Fatuleu Tengah, Kabupaten Kupang, sebanyak 107 kepala keluarga hidup dalam kondisi yang nyaris tak berubah sejak Indonesia merdeka 79 tahun lalu.

Kepala Desa Oelbiteno, Heskial Naben menyampaikan kondisi memilukan ini kepada media,Rabu 02 Juli 2025 dengan penuh harap dan kesedihan yang dalam.

Menurutnya, hingga hari ini warga di dusun itu masih menggunakan lampu pelita rakitan—botol bekas pestisida yang diisi minyak tanah dan disulap menjadi penerang malam. Di era digital ini, warga Oelhue masih hidup dalam gelap.

“Indonesia sudah merdeka puluhan tahun, tetapi sebagian masyarakat kami di Oelbiteno masih belum menikmati terang listrik. Kami masih memakai lampu botol dengan sumbu kain dan minyak tanah,” ujar Heskial dengan suara lirih namun penuh harap.

Upaya demi upaya telah dilakukan. Heskial menuturkan bahwa data 107 KK by name by address (BNBA) sudah dimasukkan ke Bagian Umum Kabupaten Kupang sejak sebulan lalu. Selain itu, pihak desa juga telah dua kali menyurati PLN Cabang Oesao, namun belum mendapat jawaban ataupun kejelasan.

“Kami mohon kepada Bapak Bupati Yosef dan Wakil Bupati Aurum agar mendengar suara kami. BNBA sudah kami kirim, semoga saja kini sudah di tangan para pemimpin kami agar bisa segera ditindaklanjuti,” imbuhnya.

Namun bukan hanya listrik yang menjadi keluhan utama. Warga Oelbiteno juga mengeluhkan kondisi infrastruktur jalan yang memprihatinkan. Jalan penghubung dari Dusun Satu ke Dusun Tiga, sepanjang 4.700 meter, belum tersentuh pembangunan.

Akses antarwilayah dalam desa menjadi sangat terbatas, terutama di musim hujan, ketika jalan berubah menjadi lumpur licin dan berbahaya.

Tak berhenti di situ, pergumulan ketiga yang tak kalah penting adalah kebutuhan akan air bersih. Meski desa memiliki mata air alami, namun belum tersedia sistem pipanisasi yang dapat menyalurkan air ke rumah-rumah warga. Sumber daya ada, namun belum didukung oleh infrastruktur pendukung yang memadai.

“Kami tidak meminta hal yang mewah, kami hanya ingin hidup layak. Air bersih itu ada, tapi kami butuh pipa. Jalan itu ada, tapi rusak. Listrik itu dekat, tapi tidak sampai ke kami,” tutur Heskial, menahan haru.

Dengan suara yang jujur dan tulus, ia menitipkan satu harapan besar kepada Pemerintah Kabupaten Kupang:

“Kami percaya kepada Bupati dan Wakil Bupati Kupang hari ini. Kami hanya mohon, jangan lupakan kami di Fatuleu Tengah, khususnya di Desa Oelbiteno. Kami bagian dari Indonesia, tapi seperti hidup di luar peta pembangunan.”

Desa Oelbiteno, terutama Dusun Tiga Oelhue, kini masih menanti secercah terang — bukan hanya secara harfiah, tetapi juga simbolik: terang pembangunan, terang kepedulian, dan terang keadilan sosial.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.