BB — Dalam langit yang sedikit mendung namun tetap bersahabat Wakil Bupati Kupang, Aurum Obe Titu Eki hadir dalam kegiatan panen raya padi di Bendungan Leter-T, Kelurahan Babau, Kecamatan Kupang Timur.
Hadirnya sosok pemimpin muda ini memberi warna tersendiri dalam kegiatan yang digelar sederhana namun sarat makna tersebut.
Dalam pantauan media,Kamis (22/05/2025) momen – momen kebersamaan tampak jelas: Aurum duduk bersila seadanya, diapit para ibu petani yang baru saja menuntaskan kerja berat mereka di lahan basah.
Ia menikmati jagung rebus yang disuguhkan dengan senyum kecil—bukan senyum formal, melainkan senyum yang menyiratkan penghormatan dan penerimaan.
Tak ada pidato panjang. Tak ada jarak. Hanya kehadiran yang nyata. Dan di situlah kekuatan pemimpin seperti Aurum tampak.
Ia hadir untuk merasakan denyut kehidupan masyarakatnya, di tengah sawah yang menjadi saksi bisu kerja keras rakyat yang kadang tak terdengar oleh kebijakan di ruang rapat.
Pemandangan ini menciptakan suasana kontemplatif. Ada rasa haru yang sulit ditepis saat melihat petani – petani lanjut usia tersenyum menyambut pejabat daerah yang tidak hanya datang untuk meninjau, tapi duduk bersama mereka—menjadi bagian dari cerita, bukan sekadar pengamat dari luar pagar.
Aurum Obe Titu Eki tidak banyak bicara, tapi setiap tindakannya berbicara banyak. Sikapnya mengajarkan bahwa kepemimpinan bukan soal penguasaan ruang dan waktu, melainkan soal kemampuan hadir dalam kehidupan orang lain dengan empati yang utuh.
Sebagai figur yang lahir dari keluarga yang telah lebih dahulu menanam nilai-nilai pelayanan, Aurum memperlihatkan warisan kepemimpinan yang tidak mewah, namun bermakna.
Ia mempraktikkan pendidikan kepemimpinan di tengah rakyatnya—edukasi tanpa papan tulis, namun menginspirasi.
Panen raya ini juga menggambarkan realitas agraria yang masih menyimpan banyak pekerjaan rumah. Tanah subur yang seharusnya menjadi sumber kemakmuran, masih berkawan dengan kesederhanaan dan perjuangan harian.
Di tengah itu semua, kehadiran pemimpin yang memahami kesunyian jerih payah ini menjadi sebuah peneguhan harapan.
Dalam diam dan tawa kecil yang terdengar di sela – sela panen, tersirat sebuah momen kolektif, tentang pertanian yang terus bertahan meski kadang dilupakan, tentang rakyat yang terus setia bekerja meski tak selalu dihargai.
Dan dalam kesunyian itu, Aurum hadir, tidak untuk memberi janji, tetapi untuk menjadi bagian dari perjalanan itu sendiri.
Dalam lensa media, inilah kepemimpinan yang memberi inspirasi bukan karena kuasa, tetapi untuk mendengar, dan duduk bersama mereka yang bekerja dalam diam.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
